Oleh: Abi Ananda Rasyid | Februari 5, 2009

Tanah Longsor


Longsor akibat Tata Guna Lahan Berubah

Gerg YOGYAKARTA – Perubahan tata guna lahan di daerah lereng pegunungan atau perbukitan menjadi penyebab utama terjadinya longsor. Namun hal itu juga berujung pada persoalan ekonomi, masyarakat sekitar berusaha mencari tambahan penghasilan dengan mengubah lahan yang dulunya hutan menjadi pertanian. ’’Faktor ekonomi biasanya membuat masyarakat mengubah tata guna lahan yang justru mengakibatkan bencana longsor. Misalnya, ada daerah dulunya lereng cemara dan tumbuhan keras lain lantas diganti dengan tanaman jagung yang bisa menghasilkan uang secara berkala. Tapi dampaknya lahan tak lagi kuat menahan air,’’ papar dosen Teknik Sipil UMY Dr Eng Agus Setyo Muntohar ST MSc ketika berdialog tentang ’’Longsor dan Penyebabnya’’ di kampus setempat, kemarin. Dia menambahkan, pohon yang kuat menahan dan baik untuk meresapnya air adalah yang akarnya menghujam ke bawah dan banyak. Meskipun pohon beringin akarnya banyak, bukan berarti baik untuk mencegah terjadinya longsor karena akarnya tidak menghujam ke bawah. Selain faktor utama tersebut, kemiringan lereng juga berpotensi menyebabkan terjadinya longsor. Bisa Diprediksi Menurutnya, kendati bukan faktor utama dan tidak sepenuhnya menimbulkan longsor, sebaiknya masyarakat tidak memanfaatkan lahan di bawah lereng yang berada pada kemiringan 40 derajat sebagai permukiman. Hal itu karena lereng berpotensi longsor.’’Sayangnya, belum ada peraturan daerah yang memberikan larangan bagi masyarakat untuk menempati daerah yang berpotensi longsor dan belum adanya alat yang memadai sebagai warning system bagi prediksi bencana longsor,’’ ujar dia. Agus menjelaskan, pada prinsipnya longsor bisa diprediksi kapan terjadinya. Bencana tersebut relatif lebih mudah ditengarai kejadiannya daripada gempa mengingat longsor banyak disebabkan oleh tingkah laku manusia yang sering mengubah tata guna lahan. Curah hujan juga dapat dipantau dan harapannya bencana bisa diantisipasi. Namun alat tersebut masih perlu dilengkapi data riwayat keadaan lereng seperti kemiringannya, kondisi tanah serta pernah mengalami longsor atau belum. ’’Dari semua itu yang paling penting adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai risiko yang dapat terjadi apabila bertingkah laku seenaknya pada lingkungan,’’ tandasnya. (D19-70)

(http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=50138)


Responses

  1. Salam kenal pak Agus, saya Adit seorang praktisi bidang konstruksi yang sering menghadapi longsoran akibat galian tanah yang dalam. Bicara bencana tanah longsor secara prinsip dibagi menjadi 2 bagian pokok yaitu :
    1. Faktor pendukung adanya longsorang
    seperti jenis tanah, kemiringan lereng, aliran air permukaan dan rembesan air
    2. Faktor ada tidaknya penghambat longsoran
    seperti bangunan penahan tanah, stabilisasi tanah, geotekstil, tanaman keras, dll
    Sering saya jumpai biaya penanganan longsor cukup besar sehingga kita menggunakan cara-cara yang murah tetapi bertahan sementara. Setiap menemui masalah longsoran perlu dilihat faktor-faktor di atas sehingga didapat penanganan yang efektif.
    Terima kasih, semoga kita bisa sharing terus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: