Oleh: Abi Ananda Rasyid | Februari 24, 2008

Alam Yang Tak Tertakluk


Semua yang ada di alam ini adalah atas kehendak Allah SWT. Allah adalah Maha Berkehendak.

Hari Jumat 22 Februari lalu, diajak oleh Professor untuk melihat lereng yang longsor di Kampus NTUST di Keelung. Hujan yang mengguyur lokasi beberapa hari diduga sebagai pemicu longsornya lereng. Professor meminta untuk menganalis kembali mengapa lereng itu longsor. Pada lokasi itu, pernah terjadi longsor 10 tahun yang lalu. Yang menarik adalah longsor ini terjadi bukan pada natural slope tetapi pada reinforced slope — yang mana natural slope telah diperkuat guna meningkatkan stabilitas lereng. Teknologi perkuatan yang digunakan adalah geo-anchor. Secara matematis, setelah perkuatan geo-anchor lereng ini telah memiliki angka keamanan 2 ~ 5. Artinya lereng sangat aman atau sangat stabil. Namun demikian, sangatlah sulit memastikan bahwa suatu lereng itu akan stabil sepanjang masa. Pada lokasi yang sama, dengan penanganan yang sama, masih ada lereng yang tidak longsor. Berarti, hujan bukan satu-satunya pemicu terjadinya longsor. Toh lereng disebelahnya masih tetap stabil atau tidak longsor. Secara teori, stabilitas lereng dipengaruhi oleh trigering factor (seperti hujan, gempa bumi) dan inherent slope factor (seperti kemiringan, struktur geologi, sifat geoteknik dan hydraulic, hydrogeology). Inherent factors ini memang sangat bervariasi antara satu titik dengan titik lokasi lainnya. Dalam arti spatial distribution dari parameter inherent factors ini sangat bervariasi.

Pada bagian lereng yang longsor, terlihat bahwa terjadi kegagalan struktur perkuatan geo-achor. Terlihat kalau anchor tercabut dan konstruksi beton bertulang untuk kepala anchor (anchor-head) rusak — lihat foto. Dari pengamatan lapangan, kegagalan struktur terjadi mulai dari konstruksi lapis kedua (dari bawah).  Kekuatan dari masing-masing anchor ini bisa mencapai 500 kN/m (~50 t/m). Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya energi yang diciptakan oleh alam. Ternyata sekuat apapun yang kita rencanakan untuk menaklukan alam, alam memberikan perlawanan yang lebih dahsyat. Sehebat apapun teknologi untuk mencegah terjadinya bencana, manusia masih belum bisa menaklukan alam. Karena alam itu adalah sunatullah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? — (1) Teknologi hanyalah alat yang seharusnya menjadi sahabat alam bukan penakluk alam, (2) Teknologi diorientasikan untuk mendekatkan kepada sunatullah dan agar manusia dekat kepada Yang Menciptakan alam itu sendiri. Untuk itu menerapkan teknologi yang mengikuti sunatullah adalah suatu solusi — artinya keep our slope green atau green-slope adalah solusi. Lihatlah, lereng yang 10 tahun longsor, ternyata sekarang tidak longsor. Mengapa? — Sebagian besar lereng tersebut telah hijau oleh tumbuhan alam (lihat foto). Boleh jadi pada longsor pertama 10 tahun lalu, lereng justru berada pada titik keseimbangannya.

Fenomena alam seperti tanah logsor, gempa bumi, banjir adalah kehendak Allah SWT. Alam tengah menuju titik keseimbangannya, alam tengah menegur manusia agar mencapai keseimbangan. Mulai saat ini alam adalah keluarga kita yang harus kita jaga, kita pelihara, kita rawat. Janganlah kita termasuk sebagai orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: