Oleh: Abi Ananda Rasyid | Januari 15, 2008

Tempe-Tahu Tahu-Tahu Naik


Minggu-minggu ini ibu-ibu rumah tangga diresahkan dengan tempe-tahu yang tahu-tahu mulai meroket harganya. Ternyata tidak ada lagi yang bisa dijangkau oleh orang-orang miskin di tanah air. Makanan — yang katanya makanan khas “the kere” — khas asli Indonesia itu pun nyaris tak terbeli.

Jadi teringat masa-masa kecil dahulu, Ibu punya tradisi “everyday is tempe and tahu”. Itulah makanan yang bisa dijangkau oleh keluarga prajurit bawah. Selain makanan ini murah dan mudah, juga mengandung protein yang tinggi juga — katanya ahli gizi. Suatu ketika setelah pengumuman lulus SMP, seorang kenalan Ibu bertanya: “Bu Har — nama panggilan Ibu— anaknya diberi makan apa kok bisa dapat rangking satu terus?”. Jawab Ibu: “Biasalah bu, tempe, tahu, dan tempe lagi”, sahut Ibu sambil tertawa kecil.

Sekarang harga bahan dasar tempe-tahu sudah disesuaikan harganya menjadi Rp.7500.kg dari sebelumnya Rp.3000/kg. Jadi terjadi penyesuaian harga 2 kali lipat. Dalihnya, kedelai masih banyak yang import dari Amerika. Waduh, …. ironi sekali. Makanan yang banyak digemari ini ternyata asalnya juga import. Yang menjadi perntanyaan, sedemikian tidak mampukah petani Indonesia untuk menghasilkan swasembada kedelai? Masih tidak cukupkah lahan pertanian di Indonesia? Jika pertanyaan ini dijawab “ya”, maka benar kalau anak bangsa ini masih menjadi anak bangsa yang belum bisa berdikari-mandiri. Padahal, kita punya universitas yang khusus menangani pertanian —namanya saja IP(ertanian)B. Namun, jika dijawab “tidak”, semestinya masalah ini tidak terjadi. Ataukah masalah ini memang telah menjadi konsumsi politik atau ladang korupsi sehingga pemerintah beramai-ramai import besar-besaran kedelai seperti beras?

Wapres —yang juga pedagang — menyebutkan dalam bahwa penurunan biaya import kedelai 10%  tidak serta-merta terhadap penurunan harga kedelai jika tidak tidak signifikan jumlahnya dan tidak ada peningkatan produksi. Dari pernyataan ini, dapat dibuat suatu benang merah, naga-naganya import besar-besaran kedelai akan menjadi kebijakan terdekat. Tentunya dibalik proyek ini akan ada “proyek” lainnya seperti import beras yang menyeret banyak orang ke meja hijau.

Agar anak bangsa ini tidak terus-menerus bergantung barang import, kesungguhan untuk mandiri harus melekat mulai dari Presiden hingga rakyatnya, mulai dari ilmuwan hingga orang awam, mulai dari bangsawan hingga jelata. Para professor dibidang pertanian harus lebih fokus pada pertanian. Universitas pertanian harus kembali pada pertanian. Bimbingan intensif kepada para petani sudah mesti dilakukan. Untuk itu, skill para penyuluh atau pedamping petani sudah mesti disiapkan. Para sarjana pertanian sudah saatnya langsung bertani. Sudah saatnya para mahasiswa turun langsung memegang cangkul dan berlumur lumpur di sawah. Insya Allah dengan kesungguhan dan kerja keras, swasembada kedelai atau lainnya bisa diraih bersama. Bukankah, “bersama kita bisa?”


Responses

  1. rubriknya asli seruuuuu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: