Oleh: Abi Ananda Rasyid | Desember 9, 2007

PARADIGMA BARU MISI KRISTEN


Alwi ShihabDr. Alwi Shihab (Staf Pengajar Hartford Seminary, USA) 

Sejarah hubungan Islam-Kristen bermula dengan lahirnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SA. Sejarah ini telah diwarnai oleh aneka macam corak. Terkadang kooperatif konstruktif yang dilandasi oleh semangat saling pengertian, namun lebih sering menampakkan wajah dan watak saling curiga bahkan permusuhan. Fenomena sejarah ini –mau tidak mau– telah mengundang aneka analisis dan teori. Tentu saja yang lebih banyak diteliti adalah aspek negatif dari hubungan ini.  

Ada yang berpendapat bahwa ajaran kedua agama turut berperan menyulut penganut masing-masing untuk berperilaku curiga. Alquran, misalnya sejak awal menyatakan bahwa beberapa ajaran Isa a.s, telah mengalami tahrif (distorsi). Lebih jauh Alquran mengecam doktrin Trinitas dan konsep “Anak Tuhan” yang berkembang dalam tradisi Kristen.  

Sebaliknya doktrin agama Kristen jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, menyatakan bahwa satu-satunya jalan keselamatan dunia akhirat hanya ditawarkan oleh Yesus. “Siapa tidak besama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak berkumpul bersama Ku bercerai-berai” (Matius 12:30) yang kemudian berkembang dengan slogan extra eccelesias nulla salus (di luar gereja tak ada keselamatan).  

Selain pandangan absolutis kedua penganut agama yang merupakan kendala terciptanya hubungan harmonis, masih terdapat sekian penyebab lainnya yang patut digarisbawahi. Antara lain menurut Guru besar hubungan Kristen-Islam, Mahmud Ayoeb, adalah orientalisme, kolonialisme, dan misi Kristen. Kalau penyebab pertama dan kedua telah berangsur pudar, faktor ketiga (misi Kristen) masih merupakan kendala bagi hubungan harmonis Kristen-Islam.  

Misi Kristen 

Dalam rentang waktu sekitar 2.000 tahun, misi Kristen secara dinamis telah mengalami evolusi, pergeseran, dan perubahan yang tidak terlepas dari aneka faktor. Hasil interaksi dengan kebudayaan setempat, interpretasi inovatif terhadap teks, dan gerakan reformis dalam tubuh gereja, kesemuanya memberikan sumbangsih dalam memformulasikan garis misi Kristen. Pada masa formatif Kristen, misi atau ajakan/da’wah Kristiani tidak melampaui batas suatu aktivitas sederhana yang dilakukan oleh kelompok tertentu. Mereka mengajak sesamanya untuk bergabung dalam keluarga besar pengikut Yesus yang pada waktu itu sangat dipengaruhi oleh keyakinan akan hadirnya hari kiamat yang akan ditandai dengan kebangkitan kembali Yesus. Olehnya mereka yang memancarkan misi tidak menaruh perhatian akan program atau kelangsungan hidup institusi gereja.  

Pelebaran sayap Kristen ke daerah Yunani yang bercorak kosmopolitan menghadapkan agama Kristen kepada tantangan baru yakni pengaruh filasafat Yunani. Perhatian kepada kebangkitan Yesus ke dunia mulai tersisihkan sebagai sarana menyingkap misteri Tuhan. Berangsur gereja menjelma menjadi simbol kehadiran tuhan di bumi melalui sakramen tertentu.  

Fase berikutnya, misi mengambil corak legalistik yang dipinjam dari -peradaban Roma semasa agama Kristen menerangi Eropa Barat. Gereja zaman Pertengahan Eropa, misalnya, menekankan konsep dosa kemanusiaan yang dapat dihapus melalui keimanan terhadap Yesus. Sebagai konsep logis, misi lebih mengacu kepada konsep obligasi yang bersanksi hukum ketimbang suatu pengalaman spiritual pendekatan kepada Tuhan.  

Dalam usaha untuk melakukan pembaharuan dalam tubuh gereja, tokoh-tokoh pembaharuan dalam abad ke 16, Marthin Luther dan John Calvin, menawarkan pengertian baru. Misi Kristen tidak lagi dikaitkan dengan kewajiban dan sakramen, tapi menjurus ke teologi yang menekankan kepada keselamatan melalui anugerah Tuhan dan Kitab Suci (sola Sciptura).  

Betapapun ragamnya pengertian misi Kristen, namun puncaknya terekspresi pada abad ke 19 dan ke 20 dengan memfokuskan kepada teks Mathew 28:18-20 yang berbunyi “Pergilah dan ciptakan pengikut dari segala bangsa lakukan pentahbisan (Baptis) terhadap mereka atas nama Bapak dan Anak serta Ruh Kudus …” Jelas pengertian misi berarti suatu tugas suci (holy burden) untuk mematuhi perintah Tuhan. Misi ini juga dikenal sebagai Great Commission (Perintah Agung) bagi setiap penganut Yesus untuk meng-Kristenkan siapapun dan dimanapun dan kapanpun, jika kesempatan memungkinkan.  

Tidak dapat disangkal bahwa Great Commission telah membuahkan hasil positif dan sekaligus menciptakan dampak negatif. Hasil positif tercermin dalam bertebarnya instansi pendidikan dan kesehatan atas nama Yesus, namun pada saat yang sama benih konflik dan permusuhan juga tumbuh subur dalam tubuh umat agama lain yang menjadi sasaran Great Commission. Menyadari dampak negatif ini, beberapa tokoh Kristen melakukan refleksi mendalam tentang esensi misi yang sesuai dengan tuntutan masa kini. Mereka berupaya untuk mempekenalkan suatu paradigma baru dengan menawarkan teologi misi yang dapat mempertahankan aspek positif dan mengikis dampak negatifnya.

Paradigma baru 

Secara teoritis, teologi misi modern ini pertama-tama menjelaskan bahwa teks Bible (Mat. 28 :18-20) yang menjadi acuan misi “conversion” (Peng-Kristen-an) masih dipertanyakan keabsahannya serta otentitasnya. Kedua. Terlepas dari nilai keabsahan teks tersebut, yang jelas tidak sejalan dengan pandangan pluralisme agama nonabsolutis masa kini, paradigma baru ini lebih mengarah kepada saling pengertian dan kebersamaan dalam mencari kebenaran. Paradigma yang beranjak dari hermeneutics of suspicion, yakni melakukan kritik intern atas interpretasi teks kepada hermeneutics of retrieval berarti upaya untuk menemukan kembali semangat kooperatif, liberatif , dan kasih sayang yang terkandung dalam teks.  

Paradigma lama yang berusaha menonjolkan superioritas agama Kristen dan mendiskreditkan agama lain harus ditinggalkan karena ia justru counter- productive. Paradigma baru juga menekankan rasa tanggung jawab kolektif yang diemban oleh semua penganut agama demi terciptanya kedamaian dan kerukunan di bumi. Atau meminjam ungkapan pemuda gerja St. Iraeneus, “The glory of God is the well-being of God’s creatures”(Keagungan Tuhan terpancar pada kesejahteraan makluk-makluk-Nya).  

Teologi misi yang ditawarkan ini sama sekali tidak berarti bahwa komitmen keagamaan penganut Kristen memudar, tapi justru menunjukkan bahwa semangat cinta kasih dan persaudaraan yang diajarkan Yesus akan tampak lebih nyata dan terasa. Menurut Paul Knitter, konversi (peng-Kristen-an) bukanlah tujuan akhir gereja, tapi yang penting adalah upaya untuk mengangkat derajat manusia agar lebih dekat dengan Tuhan; dan upaya ini harus dilakukan oleh secara kolektif kooperatif oleh semua penganut agama.  

Kalau saja paradigma baru dalam pengertian misi Kristen ini dapat dipahami oleh pemuka agama Kristen dunia, jelas warna hubungan Kristen-Islam akan mengalami perubahan ke arah positif. Apa yang selama ini menjadi titik rawan paling utama dalam hubungan Kristen-Islam adalah keberatan umat Islam terhadap pengertian “tugas suci” (yang berorientasi pada peng-Kristen-an) yang masih diyakini oleh mayoritas penganut Kristen.  

Memang benar, perubahan suatu pradigma-khususnya yang menyangkut pengertian keagamaan bukanlah hal yang mudah. Ia merupakan proses yang membutuhkan keberanian, pandangan jauh, dan teristimewa kejernihan pikiran akan pemahaman semangat ajaran agama itu sendiri. Keberanian yang dimaksud adalah upaya untuk melakukan koreksi atas suatu kekeliruan yang telah mapan diterima; pandangan jauh dalam membina suatu suasana keakraban dengan umat agama lain; kejernihan pemahaman tidak lain adalah penekanan terhadap sasaran serta tujuan akhir dari ajaran yang dianut.  

Hal ini semua dibutuhkan dari segenap pemuka agama, karena dipundak mereka terletak suatu tanggung jawab besar untuk mewujudkan suasana damai rukun di atas permukaan bumi. Semoga bermanfaat dalam upaya kita bersama untuk meningkatkan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.  

(Republika, Jum’at, 6 Juni 1997)


Responses

  1. Sebuah bahasan yang menarik, karena menyangkut dua agama besar dunia.

  2. tlg ungkpkn lbh jls ttg nabi isa.

  3. Sejarah islam memang sangat menarik untuk di bahas,apa lagi tentang sejarah agama islam.

  4. iya, saya setuju dengan M Khoerosady, ungkapkan Isa Almasih menurut islam….sebab kristen mengakui Isa adalah Tuhan dan Juru selamat satu-satunya.

  5. agama seharusnya adalah ajaran yang mencoba untuk membawa penganutnya untuk hidup lebih baik dan lebih menghargai penganut yang lainnya sekalipun ada perbedaan yang sangat jauh, namun agama lah yang seharusnya menjadi jembatan untuk menyatukannya, sebab dipandang dari sudut mana pun sebenarnya kita adalah satu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: