Oleh: Abi Ananda Rasyid | Desember 9, 2007

HALAL DAN HARAM DALAM ISLAM [3]


Dr. Yusuf Qardhawi

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Syaikh Dr. Yusuf Qaradhawi

Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram Sama dengan Syirik

KALAU Islam mencela sikap orang-orang yang suka menentukan haram dan halal itu semua, maka dia juga telah memberikan suatu kekhususan kepada mereka yang suka mengharamkan itu dengan suatu beban yang sangat berat, karena memandang, bahwa hal ini akan merupakan suatu pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah diberi keleluasaan. Di samping hal tersebut memang karena ada beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh sementara ahli agama yang berlebihan.

Nabi Muhammad sendiri telah berusaha untuk memberantas perasaan berlebihan ini dengan segala senjata yang mungkin. Di antaranya ialah dengan mencela dan melaknat orang-orang yang suka berlebih-lebihan tersebut, yaitu sebagaimana sabdanya:

“Ingatlah! Mudah-mudahan binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan itu.” (3 kali). (Riwayat Muslim dan lain-lain)

Dan tentang sifat risalahnya itu beliau tegaskan:

“Saya diutus dengan membawa suatu agama yang toleran.” (Riwayat Ahmad)

Yakni suatu agama yang teguh dalam beraqidah dan tauhid, serta toleran (lapang) dalam hal pekerjaan dan perundang-undangan. Lawan daripada dua sifat ini ialah syirik dan mengharamkan yang halal. Kedua sifat yang akhir ini oleh Rasulullah s.a.w. dalam Hadis Qudsinya dikatakan, firman Allah:

“Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, mengharamkan sesuatu yang halal dapat dipersamakan dengan syirik. Dan justeru itu pula al-Quran menentang keras terhadap sikap orang-orang musyrik Arab terhadap sekutu-sekutu dan berhala mereka, dan tentang sikap mereka yang berani mengharamkan atas diri mereka terhadap makanan dan binatang yang baik-baik, padahal Allah tidak mengizinkannya. Diantaranya mereka telah mengharamkan bahirah (unta betina yang sudah melahirkan anak kelima), saibah (unta betina yang dinazarkan untuk berhala), washilah (kambing yang telah beranak tujuh) dan ham (Unta yang sudah membuntingi sepuluh kali; untuk ini dikhususkan buat berhala).

Orang-orang Arab di zaman Jahiliah beranggapan, kalau seekor unta betina beranak sudah lima kali sedang anak yang kelima itu jantan, maka unta tersebut kemudian telinganya dibelah dan tidak boleh dinaiki. Mereka peruntukkan buat berhalanya. Karena itu tidak dipotong, tidak dibebani muatan dan tidak dipakai untuk menarik air. Mereka namakan unta tersebut al-Bahirah yakni unta yang dibelah telinganya.

Dan kalau ada seseorang datang dari bepergian, atau sembuh dari sakit dan sebagainya dia juga memberikan tanda kepada seekor untanya persis seperti apa yang diperbuat terhadap bahirah itu. Unta tersebut mereka namakan saibah.

Kemudian kalau ada seekor kambing melahirkan anak betina, maka anaknya itu untuk yang mempunyai; tetapi kalau anaknya itu jantan, diperuntukkan buat berhalanya. Dan jika melahirkan anak jantan dan betina, maka mereka katakan: Dia telah sampai kepada saudaranya; oleh karena itu yang jantan tidak disembelih karena diperuntukkan buat berhalanya. Kambing seperti ini disebut washilah.

Dan jika seekor binatang telah membuntingi anak-anaknya, maka mereka katakan: Dia sudah dapat melindungi punggungnya. Yakni binatang tersebut tidak dinaiki, tidak dibebani muatan dan sebagainya. Binatang seperti ini disebut al-Haami.

Penafsiran dan penjelasan terhadap keempat macam binatang ini banyak sekali, juga berkisar dalam masalah tersebut

Al-Quran bersikap keras terhadap sikap pengharaman ini, dan tidak menganggap sebagai suatu alasan karena taqlid kepada nenek-moyangnya dalam kesesatan ini. Firman Allah:

“Allah tidak menjadikan (mengharamkan) bahirah, saibah, washilah dan ham, tetapi orang-orang kafirlah yang berbuat dusta atas (nama) Allah, dan kebanyakan mereka itu tidak mau berfikir. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Mari kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul, maka mereka menjawab: Kami cukup menirukan apa yang kami jumpai pada nenek-nenek moyang kami; apakah (mereka tetap akan mengikutinya) sekalipun nenek-nenek moyangnya itu tidak berpengetahuan sedikitpun dan tidak terpimpin?” (al-Maidah : 103-104)

Dalam surah al-An’am ada semacam munaqasyah (diskusi) mendetail terhadap prasangka mereka yang telah mengharamkan beberapa binatang, seperti: unta, sapi, kambing biri-biri dan kambing kacangan.

Al-Quran membawakan diskusi tersebut dengan suatu gaya bahasa yang cukup dapat mematikan, akan tetapi dapat membangkitkan juga.

Kata al-Quran:

“Ada delapan macam binatang; dari kambing biri-biri ada dua, dan dari kambing kacangan ada dua pula; katakanlah (Muhammad): Apakah kedua-duanya yang jantan itu yang diharamkan, atau kedua-duanya yang betina ataukah semua yang dikandung dalam kandungan yang betina kedua-duanya? (Cobalah) beri penjelasan aku dengan suatu dalil, jika kamu orang-orang yang benar! Begitu juga dari unta ada dua macam,- dan dari sapi ada dua macam juga; katakanlah (Muhammad!) apakah kedua-duanya yang jantan itu yang diharamkan, ataukah kedua-duanya yang betina?” (al-An’am: 143-144)

Di surah al-A’raf pun ada juga munaqasyah tersebut dengan suatu penegasan keingkaran Allah terhadap orang-orang yang suka mengharamkan dengan semaunya sendiri itu; di samping Allah menjelaskan juga beberapa pokok binatang yang diharamkan untuk selamanya. Ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 32-33)

Seluruh munaqasyah ini terdapat pada surah-surah Makiyyah yang diturunkan demi mengkukuhkan aqidah dan tauhid serta ketentuan di akhirat kelak. Ini membuktikan, bahwa persoalan tersebut, dalam pandangan al-Quran, bukan termasuk dalam kategori cabang atau bagian, tetapi termasuk masalah-masalah pokok dan kulli.

Di Madinah timbul di kalangan pribadi-pribadi kaum muslimin ada orang-orang yang cenderung untuk berbuat keterlaluan, melebih-lebihkan dan mengharamkan dirinya dalam hal-hal yang baik. Untuk itulah maka Allah menurunkan ayat-ayat muhkamah (hukum) untuk menegakkan mereka dalam batas-batas ketentuan Allah dan mengernbalikan mereka ke jalan yang lempang.

Di antara ayat-ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman: Janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik (dari) apa yang Allah telah halalkan buat kamu, dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang suka melewati batas. Dan makanlah sebagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik, dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman dengannya.” (al-Maidah: 87-88)

(Continued to …[4] )


Responses

  1. Makan babi haram, tapi harga babi di Indonesia mahal sekali Mas… Siapa yang makan tuh? Pasti deh orang kita juga kan? Kita orang Islam ada 80%, orang kafir 20 %

    Mencuri, berzinah, beristri banyak juga haram lho..

  2. Logika Saudari kurang tepat. Dalam teori ekonomi klasik, jika jumlah barang sedikit maka harga akan meningkat. Untuk beli daging yang murah saja sulit kok mau beli dan memakan daging yang mahal. Kan logika Saudari sangat ambigous. Bagi orang Islam tentunya sangat tahu mana wilayah haram dan halal. Suatu masalah yang dialami seseorang tidak bisa digeneralisasikan sebagai masalah bagi semua.
    Mencuri, berzinah sudah jelas kedudukannya dalam Alqur’an dan As-sunnah. Termasuk tentang poligami. Namun berpendapat poligami itu haram harus disertai hujjah dan dalil. Kalau Saudari memang sudah mengetahui ada dalil dalam Al-qur’an dan Assunnah yang mengharamkan poligami silahkan tunjukkan sebagai buktinya. Ada baiknya Saudari tanyakan persoalan ini kepada orang yang sangat ahli dalam Tafsir Al-qur’an dan Hadits.

  3. Seorang teman Non-Indo, pernah bertanya dengan nada sinis, mengapa Indonesia tidak pernah akan maju? Karena ada agama! Aku terkejut juga, lalu aku bertanya, apa hubungannya?
    Dia menjawab, agama membuat orang tidak jera untuk korupsi. Lihatlah, habis korupsi, lalu pergi sholat atau puasa, menjadi lega, tidak khawatir lagi. Tidak percaya? Buktikan sendiri! Kalau mau lebih lega, beri 1% dari korupsi itu ke Panti Asuhan, Anda akan mendapat pujian dari orang2, dan Anda akan dapat mensugesti diri dengan kuat lagi.
    Meski aku Islam, tapi aku merasa soal haram-halal tidak relevan lagi untuk dibicarakan. Kit bicara soal hukum, keadilan, itu akan lebih memberi wawasan. Boleh dibuktikan, Departemen paling hebat korupsinya adalah Departemen Agama!

  4. @ Siti Nuriati : Sy Rasa yang membuat korupsi tidak jera bukan karena sholat lalu merasa lega.. Percaya atau tidak justru mereka merasa SANGAT tertekan dengan perilaku mereka.. tidur mereka pasti tidak nyenyak,dll,dll… Marilah sama2 memperbaiki diri pribadi…

    Justru bersumber dari haram-halal ini, kesadaran seseorang untuk korupsi akan berkurang.. karena mereka mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk (halal or haram), tentunya kesadaran yang bukan hanya sekedar mengetahu. tapi juga mengaplikasikannya dalam perbuatan nyata.. jika itu dilakukan secara kontinu.. kita sendiri yang akan mengetahui efek baiknya.. Allahu’alam..
    Anyway.. salam kenal dari seseorang yang sedang belajar..🙂

  5. Ass,

    Ario, masalahnya kita orang Islam di Indonesia tidak bisa memberikan solusi apapun. Negeri kaya-raya dengan sumber alam melimpah, tapi menjadi negeri terbelakang. Islam kita seperti tidak berguna sama sekali..

    Saudara Siti Yth.,

    Lha, jika menurut Saudara Islam saudara sudah tidak berguna sama sekali, mengapa saudara masih mengaku sebagai orang Islam. Suatu argumen yang aneh dan serampangan. Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada saudara.

    Salam: Agus

  6. Halal_haram..merup. persepsi sese0r9 dmn ia mau at0 tdk’a m’ngikuti printah ALLAH prihal haram_halal itu sndiri.

  7. ku salin ya di web ku planetislam.co.cc


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: