Oleh: Abi Ananda Rasyid | Desember 6, 2007

Wajah bis-udara AKAP


Sudah lumrah telinga kita mendengar atau mata ini membaca tentang larangan terbang Uni Eropa terhadap maskapai penerbangan berbendera Indonesia untuk melintasi langit Eropa. Spekulasi politik pun dimunculkan atas larang terbang tersebut. Alasan pembunuhan ekonomi pun sempat ditulis dibeberapa media.

Namun masih belum hilang dari ingatan kita akan kasus lepasnya bagian pesawat Batavia Air, insiden serupa meyususul lagi  dalam minggu ini (baca www.kompas.com: Manajemen Lion Air Grounded Pesawat MD-90 PK LIL). Padahal, saat liburan musim panas Juni lalu, saya sempat terbang dengn MD-90 PK LIL tersebut dari Jakarta ke Yogyakarta. Duh … Gusti, kok bisa-bisanya. Ternyata penerbangan low-fare di negeri tercinta Indonesia Raya ini sudah bagaikan angkutan perkotaan atau angkutan pedesaan yang mana identik dengan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. Anehnya, pihak manajemen menganggapnya sebagai suatu hal yang bukan serius.

Kita bersama mengetahui bahwa keamanan saat terbang harus menjadi prioritas. Jika ada kerusakan di atas awan sana, tidak bengkel pesawat yang ‘mejeng’ di langit sana. Jika pesawat mogok di awan sana, tidak ada pesawat derek yang bisa dihubungi untuk mendorong dan menariknya. Al-hasil, jika semua ini terjadi maka korban jiwa tidak bisa dihindarkan. Kita sangat mengkhawatirkan mutu manajemen penerbangan low-fare ini. Boleh jadi memang benar kalau mereka berangkat dari konsep bis kota atau bis antar kota antar propinsi (AKAP). Duh … Gusti, nyawa ini memang sangat murah untuk digadaikan dalam penerbangan di negeri Indonesia Raya ini.

Seharusnya larangan terbang yang dikeluarkan oleh UE dijadikan sebagai ‘tinju mike tyson’ untuk dunia penerbangan terus berbenah. Semua orang harus peduli dengan dunia penerbangan yang sarat dengan ‘pegadaian nyawa’. Pihak pemerintah sebagai regulator harus dan harus dan harus membuka mata untuk menindak para maskapai ‘bis udara AKAP’. Masyarakat sebagai stakeholder, harus berani menunjukkan taringnya melalui lembaga politik dewan yang terhormat. Karena selama ini penumpang selalu sebagai korban atas ketidaknyamana ini. Pihak manejemen maskapai harus dan harus dan harus dan harus meninngkatkan derajat keamanan bagi pesawat-pesawatnya. Namun, alasan klasik selalu dilontarkan kalau mereka kekurangan SDM yang memadai untuk pengecekan pesawat, atau yang lainnya.

Dalam benak kita bisa saja bertanya, sebenarnya negeri ini belum siap dengan penerbangan yang aman dan nyaman. Namun, nada-nada pesimis juga ditujukan untuk moda transportasi yang lain. Di darat juga tidak ada kemanan dan kenyamanan lagi, sedangkan di laut-pun setali tiga uang. Lantas … mau dibawa kemana sistem transportasi ini ???

…di sini (tak) senang …disana (tak) senang…dimana-mana hatiku (tak senang) …

…di sini maut…disana maut…dimana-mana maut menjemput..lha…lha..lha…lha…lha…lha

Taipei, mid winter Nov 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: