Oleh: Abi Ananda Rasyid | Desember 6, 2007

TRANSPORTASI UMUM VS GLOBAL WARMING


 Oleh: Tri Harjono, ST. , MT**)

 

logo_unfccc2.gifDalam selang waktu 10 tahun terakhir ini, kondisi lalulintas di beberapa perkotaan di Indonesi menunjukkan peningkatan jumlah yang sangat signifikan. Faktanya, dapat dilihat dari panjangnya antrian dibeberapa simpang bersinyal. Kendaraan harus antri selama 3 s.d 4 kali siklus lampu untuk melewati simpang tersebut. Di wilayah Polda Metro Jakarta Raya saja yang meliputi Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi), pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi mencapai rata-rata 11 persen pertahun (www.lantas.metro.polri.go.id, 03 Des 2005) sementara di kota Yogyakarta sedikit lebih tinggi yaitu 11,9 persen pertahun (Kompas, 23 September 2006). Selain itu, pertumbuhan jumlah kendaraan di berbagai wilayah yang lain menunjukkan angka prosentase yang setara dengan Jakarta.

Kendaraan Bermotor Penyebab Utama Gas Rumah Kaca

Salah satu faktor besar yang mempercepat pertumbuhan lalulintas adalah pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi. Fenomena besarnya jumlah kendaraan pribadi ini tidak akan menguntungkan dalam upaya penyelesaian sistem mobilitas perjalanan orang dan barang. Sebagai gambaran misalnya kasus di wilayah kerja Polda Metrojaya tahun 2003, jumlah kendaraan pribadi meliputi 98% dari total kendaraan yang melayani 40,7% orang perjalanan, sementara yang 50,3 % oang perjalanan hanya dilayani oleh 2% armada (tempointeraktif, 18 Des 2004). Tentu ini jumlah yang sangat tidak berimbang.

Di sisi yang lain, banyaknya kendaraan berbahan bakar vosil ini akan semakin meningkatkan produksi gas-gas yang beracun serta gas yang berefek pada pembentukan efek rumah kaca. Dalam hal ini lebih dikenal dengan gas rumah kaca (GRK). Keberadaan GRK ini lah yang menyebabkan meningkatnya pemanasan global (Global Warming). Dikawatirkan dengan semakin meningkatnya suhu bumi, akan mencairkan es di kutub utara dan selatan bumi, es-es di pegunungan tinggi, merubah sistem iklim dunia, badai, kekeringan dan sebagainya. Mencairnya es di berbagai belahan bumi ini akan menyebabkan meningkatnya muka air laut yang berdampak pada tenggelamnya pulau. Bila ini terjadi, maka peta dunia harus dirubah krn beberapa pulau di kepulauan Melanesia, Hawai, serta garis-garis pantai yang semakin masuk ke daratan.

Kondisi demikian tentu tidak diharapkan. Oleh karena itu perlu solusi dari masyarakat dunia untuk mengurangi efek GRK ini. Sebagai gambaran bahwa efek GRK ini 60-70% disuplai oleh buangan polusi kendaraan bermotor, 10 – 15% oleh industri, sisanya oleh komponen lain seperti pembakaran sampah, asap dapur, dan lain-lain (Kompas, 11 Juli 2004). Besarnya kontribusi GRK dari kendaraan bermotor, cukup menjadi alasan untuk melakukan pembatasan kepemilikannya.

Angkutan Umum adalah Solusi Permanen

Kondisi padatnya lalu lintas, bila tidak dilakukan antisipasi dengan menerapkan kebijakan yang intervensif dikhawatirkan dalam 15 tahun mendatang kondisi lalu lintas akan kolab. Kemacetan terjadi di semua ruas jalan, khususnya di kawasan perkotaan dan jalan-jalan akses menuju kota. Waktu tempuh perjalanan akan sangat lama, sebagai contoh, 5 km di perkotaan yang awalnya cukup 10 menit, kini harus ditempuh dalam waktu 2 jam.

Formulasi solusi dari pertumbuhan kemilikan kendaraan pribadi diantaranya adalah perbaikan sistem layanan angkutan umum. Angkutan umum harus mampu melayani mobilitas orang, baik dalam hal kecepatan waktu tempuh, keamanan dalam perjalanan, kenyamanan kendaraan, hingga layanan 24 jam.

Tahap selanjutnya yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan penataan kepemilikan kendaraan pribadi. Beberapa cara yang dapat ditempuh diantaranya dengan penataan perparkiran dan pengetatan kepemilikan kendaan pribadi. Penataan perparkiran dapat dilakukan dengan penarikan biaya mahal pada lokasi-lokasi tertentu dan penyediaan sentral-sentral tempat parkir kendaran pribadi. Pengetatan kepemilikan dapat berupa pembatasan jumlah kepemilikan, pengetatan persyaratan kepemilikan, hingga pajak tinggi untuk kendaraan pribadi, serta pembatasan usia kendaraan. Kebijakan pembatasan jumlah dan pengetatan syarat kemilikan dapat dilakukan secara lokal, tetapi kebijakan pajak tinggi dan pembatasan usia kendaraan untuk kendaraan pribadi hanya dapat dilakukan bila diberlakukan secara nasional.

Pemberlakukan pajak tinggi pada provinsi tertentu, hanya akan berdampak meningkatnya jumlah kendaraan berplat nomor lain yang beroperasi di provinsi itu. Hal itu terjadi karena mutasi antar daerah secara semu, dimana pemilik kendaraan akan memutasi KTP (Kartu Tanda Penduduk) secara semu ke daerah lain terlebih dahulu selanjutnya kendaraan akan dimutasi semu kemudian. Kerugian lokal adalah, kendaraan dengan plat nomor daerah lain tersebut pada keseharian faktualnya tetap beroperasi pada provinsi asal. Beroperasinya kendaraan ini tentu akan membebani konstruksi jalan serta memproduksi gas-gas polutan di provinsi asal. Sementara pada saatnya perpanjangan ijin operasi, kendaraan – kendaraan tersebut membayar pajak di daerah lain. Demikian juga bila pembatasan usia kendaraan dilakukan secara lokal, kerugian akan diderita di daerah yang memberlakukan pembatasan usia kendaraan.

 

Membuang Polusi di Negara Berkembang?

Di tengah upaya meningkatkan kehandalan angkutan umum berbarengan dengan pengurangan jumlah kendaraan pribadi, tentu ini suatu kondisi yang sangat tidak diinginkan oleh negara-negara maju khususnya negara produsen kendaraan, perlu dipertimbangkan efek-efek sosial yang menyertainya. Pada sisi lain, Negara Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 220 juta jiwa lebih, dilihat dari sisi komsumsi kendaraan, merupakan pangsa pasar yang sangat menggiurkan. Kemana lagi negara-negara produsen kendaraan akan memasarkan produksinya kalau negara non produsen kendaraan dengan jumlah penduduk mencapai 220 juta jiwa telah menerapkan program pengurangan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi?

Kesadaran akan besarnya dampak lingkungan akibat polusi kendaraan berbahan bakar vosil dan kesadaran akan keteraturan lalu lintas haruslah melingkupi segenap penduduk ini, sehingga upaya-upaya menuju ke arah itu dapat didukung oleh seluruh warga. Dengan demikian, berbagai insentif iming-iming dari negara produsen kendaraan harus tetap diwaspadai. Bangsa ini tentu tidak menginginkan menjadi terpuruk oleh polusi udara yang tinggi dan kemacetan diberbagai tempat.

Bangsa ini harus menyadari bahwa adanya upaya negara produsen kendaraan untuk menjual habis kendaraan mereka untuk mendapatkan capital keuntungan yang sangat besar dari negara-negara berkembang. Sementara negara-negara produsen kendaraan saat ini bahakan telah membatasi lalu lalang kendaraan di jalanannya sendiri. Tentu ini tidak adil, negara maju ingin bersih dengan keuntungan yang berlipat, sementara negara berkembang tetap dijadikan negara yang kotor penuh polusi dengan kerugian di berbagai sektor. Secara tidak langsung, ini sama halnya dengan membuang polusi di negara berkembang.

Pada kesimpulannya, solusi dari peningkatan kehandalan angkutan umum akan menjadikan lalulintas teratur dan terkendali, polusi udara dapat diminimakan, dan pada akhirnya pemanasan global dapat dihindari.



*) Ditulis dalam rangka Konverensi Perubahan Iklim UNFCCC di Bali 03 s.d 09 Desember 2007

**) Anggota DPRD DIY, Ketua Kaukus Parlemen Lingkungan D. I. Yogyakarta


Responses

  1. Yup….. saya setuju denagn langkah-langkah diatas,,,
    sekarang saatnya kita mulai dari diri sendiri…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: