Oleh: Abi Ananda Rasyid | November 9, 2007

Tragedi Kemanusian PT Swasta


pict0067.JPGRUU BHP tengah digodok pemerintah untuk segera diundangkan menjadi Undang-Undang yang mengatur tentang Perguruan Tinggi. Berbagai kalangan terutama dari para akademisi dan ahli pendidikan memberikan tanggapannya. Seperti runtutan RUU-RUU yang lainnya, ada yang memberikan kritikan pedas tapi ada pula yang menyambut gembira terutama dari Perguruan Tinggi dengan status BHMN (UGM, UI, ITB, IPB). Karena RUU BHP ini dinanti-nantikan sebagai ketegasan status ke-emapt PT BHMN tersebut. Namun bagi kalangan Perguruan Tinggi Swasta, RUU BHP ini dapat menjadikan lumpuhnya nadi akademik dalam PTS, tidak terkecuali PTS besar apalagi PTS gurem. Beberapa akademisi dari Sarjanawiyata, jelas menolak komersialisasi pendidikan yang secara eksplisit tertuang dalam RUU BHP ini. Pemerintah didakwa melepaskan tanggung jawabnya terhadap pendanaan pendidikan di tanah air. Jika ini benar, maka komitmen 20% alokasi dana pendidikan yang diamanatkan oleh UUD bisa jauh dari harapan.

Menengok ke belakang sebentar, sejak empat PTN beralih menjadi  ‘semi-swasta’ (baca: BHMN) — untuk menyatakan status yang tidak jelas apakah negeri ataukah swasta — PTS menjadi tumbalnya. Tidak bisa dipungkuri bahwa untuk menopang proses akademik yang paling cepat dan feasible adalah menyerap mahasiswa sebanyak-banyaknya. Berbagai program studi dan strata dibuka, quota penerimaan dinaikan — katakan yang semula hanya 100 mahasiswa/tahun menjadi 500 mahasiswa/tahun. Ternyata pola ini tidak lebih kreatif dari PTS. Dengan demikian, mutu bisa menjadi taruhan terhadapnya. Jika sebelum menjadi BHMN, hanya 100 mahasiswa yang diterima, maka setelah BHMN ada tambahan 400 mahasiswa yang diterima. Logika pun dengan mudah mengatakan : Jika sebelum PT BHMN bercokol, 400 orang tambahan ini diserap dengan baik oleh PTS-PTS, setelah bercokolnya PT BHMN maka jatah bagi PTS berkurang 400 mahasiswa pula. Yang dulunya calon mahasiswa lapis kedua, ketiga, dst diterima oleh PTS, maka sekarang ini mahasiswa lapis kedua dst diterima oleh PT BHMN tersebut. Sehingga, secara umum mutu raw material PT BHMN menjadi berkurang. Selain itu, take home pay bagi dosen di PT BHMN menjadi meningkat karena banyaknya jumlah mahasiswa yang diajar dan dibimbing. Namun, bagi dosen-dosen di PTS menjadi sebuah kegundahan yang bisa menjadi tragedi. Oleh karena itu kata kunci yaitu (1) Jumlah mahasiswa PT BHMN bertambah, sedangkan PTS berkurang, (2) mutu raw material PT BHMN berkurang, sedangkan PTS jauh dari standar minimum, (3) take home pay dosen PT BHMN meningkat, sedangkan bagi dosen PTS terjadi “tragedi kemanusian”.

Melihat ini, berarti sistem pendidikan di tanah air tercinta ini tidak ubahnya sebagai ‘bisnis pendidikan’ (educational bussiness)  daripada pendidikan (education) itu sendiri. Yang mana tidak ubahnya seperti pendirian mall-mall baru di Yogyakarta yang mana memandulkan shoping center yang ada dan juga mematikan warung-warung klontong yang ada. Artinya ‘bisnis pendidikan’ sudah menjadi tidak sehat lagi dimana yang kuat mematikan yang lemah karena start untuk berlari tidak sama. Jika demikian, maka kita tinggal menantikan sebuah ‘tragedi kemanusian’ bagi PTS-PTS di Yogyakarta atau kota-kota lainnya.  Mengapa ‘tragedi kemanusian’ ? Dengan berkurangnya jumlah mahasiswa berarti pendapatan universitas untuk mengatur roda akademik menjadi serba sulit dan tidak memadai. Efisiensi dana pun harus dilakukan yang dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja. Jika demikian maka daftar pencari kerja di Departemen Tenaga Kerja akan semakin panjang. Para master dan doktor pun dipaksa untuk menganggur. Suatu investasi yang tersia-siakan. Berujungnya pada pemberhentian dengan hormat ini maka asap dapur di rumah akan padam, sehingga anak dan isteri menjadi korban secara langsung ataupun tidak langsung. Inilah tragedi kemanusian itu.

Bisnis pendidikan jelas tidak sama dengan bisnis-bisnis perdagangan atau sejenisnya yang mana mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan segala cara. Namun yang namanya bisnis yang tetap bisnis. Jika demikian, biaya pendidikan akan kiat melangit hingga tak sanggup bumi ini untuk mengejarnya. Yang bisa menikmati pendidikan tinggi nantinya hanya para ‘the have’, sedangkan para ‘the kere’ akan terus terpuruk dengan nasibnya — kecuali ‘the kere’ ini cerdas sehingga mendapatkan beasiswa. Namun logika pun mengatakan, bagaimana ‘the kere’ bisa cerdas kalau untuk sesuap nasi saja harus mengais-ngais di tempat sampah ? Dalam catatan dunia seperti dilansir oleh salah satu media online, jumlah ‘orang kaya baru’ (OKB) di tanah air kita bertambah banyak saat ini. Namun ternyata disatu sisi ‘okb’ (orang kere baru) pun tidak lebih sedikit alias terus bertambah dari tahun ke tahun.

Jika pemerintah dengan UU BHP-nya nanti benar-benar men-swastakan PTN — dengan kedok BHP — maka akan hanya terjadi dua hal yaitu ‘rahmat’ atau ‘petaka’, ‘baik’ atau ‘buruk’ bagi PTS dan ‘okb’ (bukan OKB). Begitu juga, nasib dosen PTS bisa terus dihantui dengan kegundahan dan ‘tragedi kemanusian’. Bagi dosen yang cerdik — bukan cerdas — saat ini sudah mulai mencoba banting stir untuk tidak mengandalkan ke-dosen-an-nya. Bagi insinyur mulai kembali ke proyek insinyur-nya, bagi lawyer sudah mulai kembali mencari perkara, bagi pengamat politik mulai melirik posisi politikus — bukan poli tikus. Nah, bagaimana dengan dosen yang tetap setia dengan ke-dosen-an-nya, tidak biasa lirik saana-sini, hanya bisa penelitian dan menulis. Kalau menulis buku, berapa sih royalti yang bisa diperoleh, apalagi bukan buku kotemporer atau buk cerita.

Nah, akankah kita para dosen PTS sebagai korban UU BHP ini ? Silahkan untuk mencari jawaban dari hati nurani.

Taipei, Winter 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: