Oleh: Abi Ananda Rasyid | Oktober 10, 2007

Kelezatan Ramadhan


Bulan Ramadhan oleh banyak orang disebut pula sebegai bulan penuh rahmat, bulan tarbiyah, bulan penyucian diri, bulan amal, dan masih banyak lagi sebutan-sebutan lainnya. Namun yang pasti adalah bulan Ramadhan bulan untuk menjalankan ibadah shaum, bulan diturunkannya Al-Qur’an (QS. Al-Baqoroh (2): 183-185). Jika diibaratkan sebagai bulan tarbiyah, maka selama satu bulan lamanya kita ummat Islam menjalani proses belajar – pembelajaran. Untuk itu keberhasilan dari proses pendidikannya ini dapat dilihat dari outcome setelah selesai mengikuti pendidikan. Apakah ibadah setelah Ramadahan lebih baik ataukah malah sebaliknya?Apakah hafalan Al-Qur’an menjadi bertambah ataukah malah lupa?Sedekah dan infaq menjadi semakin rajin ataukah bertambah bakhil?Akhlaq menjadi lebih baik atau menjadi tidak lebih baik? Kira-kira indikator-indikator inilah yang akan memandu kita untuk menjawab apakah pendidikan yang diikuti selama satu bulan berhasil. Jika sebagai lulusan, apakah nantinya kita akan berpredikat ‘cum-laude’, sangat memuaskan, memuaskan, atau bahkan ‘summa cum-laude’. Semuanya bergantung pada kesungguhan kita selama mengikuti pendidikan satu bulan lamanya. Sudahkah kita bisa menikmati lezatnya beribadah selama satu bulan ini?

Jika kita belum bisa menikmati ibadah yang kita lakukan, tentunya sangat sulit untuk lulus dengan predikat ‘taqwa’. Boleh jadi selama ini kita belum bisa merasakannya nikmatnya ibadah Ramadhan karena tidak cukup ilmu untuk itu. Tidak jarang, selama siang menahan lapar dan haus, lisan kita tidak pernah dibasahi dengan dzikir, malah sebaliknya lisan ini diajak untuk menggunjingkan saudara-saudaranya. Tidak sedikit dari kita, malamnya qiyamul-lail ‘tarawih’, tapi sepulangnya bergadang hingga larut malam. Tidak sedikit pula kita sibuk memikirkan apa yang akan dimakan untuk berbuka, namun lupa akan sunnah-sunnah dapam berbuka. Kita lebih sering memikirkan mau makan apa sahur nanti, namun kita lupa kalau pada akhir malam adalah lebih baik untuk bermunajat kepada Sang Khaliq. Jika demikian, maka yang didapat hanyalah lapar dan haus serta lelah. Menjaga ibadah Ramadhan agar terasa nikmat menjadi sarana untuk mencapai derajat ‘taqwa’.

Ramadhan tinggal beberapa hari akan meninggalkan kita. Akankah kita yang meninggalkannya? Akhir-akhir ramadhan, kita telah disibukkan dengan bagaimana Idul Fitri nantinya. Bukannya, malah sibuk untuk melakukan ‘sprint’ ibadah di hari-hari akhir. Jika saja kita tahu bahwa Allah menjanjikan akan mengabulkan doa hambanya yang berpuasa dan ampunan dari lailatul qadr, tentunya kita terus mengejar untuk memperolehnya. Untuk itu ‘sprint’ ibadah pada hari-hari akhir harus dilakukan dengan sabar, ikhlas dan kesungguhan hati. Namun sabar dan ikhlas ini sungguh sulit kecuali orang-orang yang khyusuk. Semoga kita selama ini sudah dalam proses menjadi ‘khosyi’in’, sehingga kita mampu menjadi ‘shobirin’.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: