Oleh: Abi Ananda Rasyid | September 5, 2007

PT DI Tamat


 

Mission Possible: Save our PT Dirgantara Indonesia

N250Salah satu simbol teknologi Indonesia kemarin rontok. Penerbangan panjang PT DI (Dirgantara Indonesia) yang dirintis B.J. Habibie sejak 31 tahun lalu terhenti di pengadilan niaga. Majelis hakim memvonis pailit atau bangkrut” [Jawa Pos.com]

Kaget bin terkejut mendengar putusan PN Jakarta Pusat yang mengabulkan tuntutan pailit atas PT DI oleh para eks karyawannya. Dari berbagai media cetak dan elektronik mengabarkan kalau mereka bersuka cita campur terharu karena perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia. Namun apa dibalik semua ini ? PT DI yang dirintis oleh seorang anak bangsa yang super cerdas kemungkinan hanya tinggal nama. Mengapa ini bisa terjadi ?

Saya jadi teringat sewaktu kuliah di Kuala Lumpur, banyak cerita dari para Professor dan pegawai serta masyarakat Malaysia yang kagum atas kerja Dr. Ing. B.J. Habibie itu. Malaysia pada era yang sama saat itu, belum bisa mengembangkan industri pesawat terbang dengan baik karena sumber daya manusia dan tenaga ahli. Banyak yang memuji keberhasilan PT DI guna mengangkat citra bangsa Melayu ke kancah antar bangsa. Ketika tahun pergolakan politik 1998 – 2001 di Indonesia, PT DI cukup banyak memutuskan hubungan kerja para karyawannya. Tidak sedikit dari mereka kemudian direkrut oleh Malaysia dan Singapura. Saya ingat beberapa orang dosen pada universitas di Kuala Laumpur, mereka dulunya adalah tenaga ahli dengan gelar doktor lulusan luar negeri. Bayangkan, mereka disekolah oleh pemerintah Indonesia namun negera jiran yang memanfaatkannya. Sungguh sedihnya bangsa Indonesia.

Di Taiwan ini, saya pun bertemu para eks karyawan PT DI yang bekerja di perusahan pesawat terbang yang dimiliki maskapai penerbangan nasional Taiwan. Ratusan dari mereka sedang mengerjakan pesanan komponen dari perusahaan Boeing dan Air Bus. Mereka diakui oleh perusahaan Taiwan memiliki keahlian yang luar biasa. Pemerintah Taiwan ini sangat diuntungkan karena tidak perlu memberikan training lagi kepada mereka dan tinggal memanfaatkan skill dan pengetahuan mereka yang diperoleh dari didikan B.J. Habibie. Beberapa eks karyawan tersebut sering bercerita bahwa pemerintah Indonesia telah salah memecat ribuan karyawan yang telah terdidik dan terlatih ini. Sayang amat sayangnya juga, mereka bekerja di Taiwan bukan dikirim oleh pemerintah Indonesia. Namun, mereka disalurkan oleh salah satu perusahaan penyedia tenaga kerja terlatih di Singapura. Nah, Singapura sangat cerdas melihat peluang ini. Para eks karyawan PT DI yang high-skilled ini ‘ditangkap’ dan disalurkan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaganya. Ada yang dikirim selain ke Taiwan juga ke Hong Kong, Arab Saudi, Jepang,  dan beberapa negara lainnya. Saya sering bertukar pikiran dengan para eks PT DI ini dan juga perwakilan pemerintah Indonesia di Taipei, bahwa pemerintah Indonesia memang tidak jeli dan tidak memiliki rencana strategis yang jelas dan terukur.

Kembali kepada kasus dipailitkannya PT DI. Buntut dari pailitnya ini maka aset-aset PT DI akan dijual guna melunasi hutang-hutangnya yang sudah hampir Rp 4 trilyun (coba berapa banyak uang ini). Jika ini terjadi maka, tidak ada lagi tersisa dari PT DI jika ternyata hasil lelang aset-asetnya masih tidak mencukupi untuk melunasi hutang-hutangnya. Bisa dengan mudah kita perkirakan, dan didukung dengan UU Investasi ‘liberal’ Indonesia, maka pihak asing akan membelinya. Al hasil, tidak ada lagi industri strategis yang bisa dimiliki anak bangsa Indonesia. Indosat sudah milik Singapura, Pertamina sudah tidak bisa lagi diandalkan, PLN selalu merugi, PDAM sudah diswastakan, Tol Jasa Marga diswastakan, dan masih banyak deretan BUMN yang siap diswastakan oleh menteri saat ini.

Saya bukannya tidak mendukung usaha para eks karyawan PT DI untuk menuntut hak-haknya. Hak pekerja haruslah dipenuhi. Bukankan Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa kita diperintahkan membayar orang yang kita pekerjakan sebelum habis keringatnya. Sebaiknya perlu dipertimbangkan kembali vonis pailit satu-satunya industri pesawat terbang Indonesia ini. Kita perlu mewaspadai pihak asing mengambil alihnya. Untuk itu misi khusus untuk menyelamatkan PT DI ini harus digalang oleh seluruh anak bangsa ini. Kita tentunya masih ingat bagaimana rakyat Aceh memberikan harta bendanya untuk membeli pesawat pertama Indonesia “Seulawah”. Jika saja seluruh anak bangsa ini bersatu padu, merasa senasib sepanggungan, insya Allah kita bisa menyelamatkan industir pesawat terbang kebanggaan. Memang tidak mudah menyelamatkannya, apalagi jika setelah selamat pengelolaan PT DI masih dengan manajemen yang buruk dan dipegang oleh orang-orang yang korup. Menempatkan orang-orang yang bersih-lurus, cerdas, dan profesional dalam tubuh manajemen PT DI, serta menarik kembali eks karyawan-karyawan ‘high-skilled’ bisa jadi solusi klasik. Namun itu semua perlu dukungan politik pemerintah Indonesia dalam melobi untuk mendapatkan order pekerjaan bagi PT DI. Karena bukan rahasia umum lagi bahwa hampir semua usaha perekonomian Indonesia sangat terimbas dari pertarungan politik. Menariknya dalam waktu yang sama dipailitkannya PT DI, gedung DPR RI siap digubah dengan dana Rp 40 milyar. Coba saja dana ini dialihkan untuk menyelamatkan sebagian hutang PT DI. Masih ingat tentunya proyek-proyek kontroversial di DPR  RI sepertu pengadaan laptop Rp 25 juta, pagar gedung, dll. Andai saja dana ini bisa dialihkan saat itu, kemungkinan para eks karyawan PT DI tidak menderita dan menuntut pailit PT DI agar membayarkan pesangonnya.

Akhir dari tutur kata, mari kita berdoa dan berusaha untuk menyelamatkan PT DI dan wajah bangsa Indonesia. Mission Possible to Save PT DI. Semoga Allah SWT menolong hamba-hambanya.

Taipei, earlier Fall 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: