Oleh: Abi Ananda Rasyid | September 5, 2007

Kenangan PT DI


PT DI Akan Tinggal Kenangan

Jika vonis pailit PT DI ini dijalankan, maka PT DI ini hanya akan tinggal kenangan. Masih ingat N250-Gatot Kaca?

 Habibie: Sudah 188 Pesawat N250-100 Laku

Bandung, 11 November
N250 flySudah 188 buah pesawat terbang N250-100 yang merupakan produk komersial N250 akan laku terjual demikian diungkapkan Dirut PT IPTN Prof Dr BJ Habibie. “Kini sudah akan terjual 188 unit” kata Habibie Kamis petang di IPTN,
beberapa saat seusai ia dan pucuk pimpinan Merpati Nusantara Airlines (MNA) Sempati Air, Bouraq dan dari dalam negeri serta Fulf Stream International Airlens dari Amerika Serikat, menandatangani Letter of Agreement (LoA). 
Vice Presiden Marketing PT IPTN Ir Pudji Laksono menjelaskan, dalam LoA tersebut dinyatakan MNA akan membeli 100 unit N-250-100, Sempati 16, Bouraq 60 dan Gulfsteam sepuluh. Khusus MNA, perusahaan tersebut juga menyatakan akan membeli lagi 16 CN-235 setelah sebelumnya membeli 15 produk kerjasama IPTN-Casa Spanyol itu. Angka 188 unit yang telah ke tahap LoA dan 24 buah N250-100 untuk Swedia yang diumumkan hari itu tak urung mengejutkan kalangan pers, sebab jumlah tersebut melebihi angka resmi yang selama ini dipublikasikan IPTN yaitu sebanyak 167, terdiri atas 16 dari Sempati, 65 MNA, 62 Bouraq dan 24 FFV Bleiheim Swedia. 
Bukan hanya wartawan yang surprise tetapi karyawan IPTN pun menyatakaan isi naskah LoA 10 November 1994 yang dilakukan tak lebih dari satu jam sejak prototipe N250 Gatotkaca diroll out (dimunculkan ke publik pertama kali), sebagai hal yang fantastis. “Fantastis, kami pun tidak menyangka sudah sejauh itu,” ujar beberapa pejabat di IPTN. Dengan demikiaan, titik impas N250-100 di angka 259, memungkinan tercapai dalam singkat. 
Surprise
Apa kesan Presiden Soeharto ketika meluncurkan pesawat komuter N250? Begitu pertanyaan yang diajukan wartawan kepada Menristek Prof Dr BJ Habibie dalam acara jumpa pers di Gedung Industri Pesawat Terbang Nusantara, Bandung, Kamis (10/11). 
 “Bapak Presiden sangat surprise atas peristiwa yang baru saja berlalu,” jawab Habibie di depan ratusan wartawan dalam dan luar negeri dengan penuh semangat. Beliau sangat terharu karena memang semua komponen piranti lunak dan keras (kecuali pada bagian mesinnya) yang dipakai pada pesawat tercanggih di kelasnya yang diberi nama Gatotkaca ini irancang murni oleh putra-putri Indonesia, tambahnya.  
Sebab, yang namanya perusahaan Boeing, Fokker, British Aerospace, ataupun perusahaan pembuat pesawat terbang lainnya memang tidak membuat mesin secara sendiri. “Bagaimana dengan perasaan Bapak sendiri?,” tanya wartawan
lagi. Dengan nada terharu Habibie mengatakan, ketika N-250 meluncur dari guangnya yang didahulu dengan kepulan asap yang berwarna-waarni, ia hanya diam seraya berdoa semoga hasil rekayasa teknologi tinggi ini dapat dilanjutkan kepada generasi berikutnya.  
“N-250 merupaakan hasil generasi peralihan yang dipersembahkan untuk generasi penerus bangsa,” ungkap Habibie. Generasi peralihan, kata Dirut IPTN itu, tak lain adalah suatu generasi yang cukup lama bekerja sama dan dibina generasi 45. Selain itu, generasi peralihan juga generasi yang cukup lama bekerjasama dan membina generasi penerus baik dalam mempersiapkan, membina, maaupun menguasai iptek secara terpadu dan mandiri, tambah Habibie yang termasuk dalam golongan generasi peralihan.  
Menurut Habibie, pada awal Pelita VI pengembangan ilmu dasar dan terapan dalam bidang dirgantara secara terpadu dan berorientasi kepada pasar nasional, regional, maupun global dilaksanakan secara mandiri. “Insya Allah semua itu dibiayai dari hasil penjualan produk N-250 di pasar domestik, nasional, regional dan global yang terus meningkat,” janjinya. 
(Suara Pembaruan, Jumat, 11 November 1994)

Tapei, earlier Fall 2007


Responses

  1. Di bawah cuplikan dari komentar berita ttg PT DI (Patahnya Sayap Produsen Burung Besi) di hukumonline.com yang rasanya ada benarnya.

    Salam.

    Cermin kesalahan kebijaksanaan di masa lalu…….
    [6/9/07] – Menurut pendapat saya kejadian di PT DI ini tidak lepas dari kebijakan masa lalu, sejak pendirian PT IPTN/DI oleh Habibie. Hal yang menurut saya sudah keliru dari awalnya. Habibie bersikeras mendirikan PT IPTN/DI at all cost (tanpa ada pertimbangan bisnis/ekonomi). Perusahaan berbentuk PT (yang nota bene harus mencari laba), dilain pihak tidak menerapkan prinsip dasar perusahaan yang harus profitable, efisien dll. Yang ujung-ujungnya merugikan rakyat yang harus menomboki lewat APBN. Bentuk PT inilah yang sudah salah dari awalnya. Lihatlah fakta-fakta sebagai masa lalu berikut: jumlah pekerja yang besar (+/- 16.000), gaji yang tinggi (di atas rata-rata perusahaan yang lain, baik bumn ataupun swasta), dapat imbalan pensiun (yang tidak semua pekerja di perusahaan swasta dapat), fasilitas yang cukup, biaya personel yang besar (dengan menyekolahkan ke luar negeri, dll), pengelolaan yang tidak efisien, dll. Sementara itu PT DI dapat dikatakan tidak pernah untung sama sekali dalam neraca keuangannya. Beberapa kali (??) meminta tambahan modal (Penempatan Modal Pemerintah/PMP) baik lewat konversi utang atau proyek pemerintah maupun suntikan dana segar, tentunya dg persetujuan dpr melalui APBN atau Undang-Undang khusus. Hal ini yang notabene memakai duit rakyat adalah demi proyek dan gegsi Habibie pada saat itu dan demi gaji dan kesejahteraaan pekerja IPTN . Setahu saya hal ini pernah menjadi pertentangan antara Habibie (selaku menristek dan pengendali/dirut (??) IPTN) dan Mar’ie Muhammad selaku menkeu di jaman Suharto. Tetapi tentunya Suharto lebih membela Habibie. Mar’ie yang terkenal hemat dalam anggaran tidak menyetujui menganakemaskan dan menggelontorkan duit rakyat ke IPTN akan tetapi putusan bukan di dia. Secara hukum, mungkin eks karyawan PT DI adalah benar, tetapi menurut saya, jika saya jadi mereka (eks karyawan PT DI) saya merasa malu. Selama ini saya sudah digaji besar, dapat fasilitas yang lebih, dan mungkin pendidikan ke luar negeri, dll yang sebagian besar dibiayai oleh duit rakyat. Dilain pihak kontribusi perusahaan secara ekonomis bisa dikatakan tidak pernah ada (rugi melulu). Setelah tindakan yang tepat dilakukan atas anjuran IMF pada saat krisis yaitu efisiensi dan rasionalisasi IPTN dilakukan, baru para eks karyawan menjerit-jerit minta pesangon/pensiun yang besar. Saya paham keadaan eks karyawan yang di-PHK pasti tertekan baik lahir maupun batin (saya juga pernah di-PHK). Tetapi coba anda bandingkan keadaan anda dengan keadaan karyawan swasta yang juga di-PHK oleh perusahaannya. Keadaan anda jauh lebih baik. Anda punya skill dan terdidik dengan baik, mengapa nggak anda coba untuk memakai hal itu untuk mandiri?? Relakanlah apa yang anda tuntut sekarang ini, toh anda selama ini telah disubsidi oleh rakyat/negara secara tidak langsung melalui PT DI. Saya yakin semasa anda bekerja di IPTN dengan jumlah karyawan yang besar +/- 16.0000, lebih banyak yang anda terima dari perusahaan daripada yang anda berikan ke perusahaan (alias banyak waktu yang lowong/nganggur). Apa yang anda tuntut sekarang ini ujung-ujungnya rakyat juga yang harus menombokinya melalui APBN. Memang hal itu bukan kesalahan anda sepenuhnya, melainkan kesalahan dari awal pendirian PT IPTN/DI, yang menurut saya bisa dihindari jika IPTN tidak berbentuk PT atau perseroan yang harus mencari untung. Semoga kita bisa belajar dari apa yang telah terjadi. Demikian pandangan saya, maaf sebelumnya jika ada kata-kata yang salah. Salam, Budi.
    budi

  2. Terlepas dari kesalahan masa lalu, masa kini sudah seharusnya kita semua menyelamatkan ‘identitas keunggulan teknologi’ anak bangsa. Kita semua perlu berpikir kembali atas aset-aset berharga PT DI tersebut baik hardware dan software (aset fisik dan SDM). Sangat sayang sekali SDM yang telah terdidik dan terlatih puluhan tahun lepas begitu saja dan dipetik manis oleh negara-negara tetangga seperti Singapore, Malaysia, dll. Ayo save our PTDI.

    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: