Oleh: Abi Ananda Rasyid | Agustus 19, 2007

Sholat Tahajjud


SHOLAT TAHAJJUD

Pengertian

Tahajjud artinya bangun di waktu malam hari. Sholat tahajjud adalah sholat sunnah yang dilakukan pada malam hari. Waktunya setelah ‘Isya hingga menjelang waktu Subuh. Sholat tahajjud yang biasa dikerjakan oleh Nabi biasanya ber-roka’at ganjil antara 7 sampai 13 roka’at. Sholat tahajjud kadang disebut dengan sholat lail atau dengan qiyamul lail. Sholat tahajjud, sholat al-lail dan qiyam al-lail secara prinsip adalah sama maksudnya. Sholat al-lail ini diakhiri dengan sholat witir yang artinya ganjil. Sholat witir adalah sholat yang jumlah roka’atnya ganjil dan dikerjakan pada malam hari. Sholat witir ini biasanya dikerjakan setelah mengerjakan sholat yang jumlah roka’atnya genap.

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنىَ مَثْنَى فَإِ ذَاخِشِىَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُلَهُ مَا قَدْ صَلَّى 

Artinya: “Ibn ‘Umar mengatakan, bahwa seorang lelaki bangkit berdiri lalu menanyakan, “Bagaimana cara sholat malam, hai Rasulullah?”. Rasulullah SAW menjawab, “Sholat malam itu dua roka’at dua roka’at. Jika engkau khawatir terkejar subuh, hendaklah engkau kerjakan witir satu roka’at saja untuk mengganjilkan sholat-sholat yang telah dikerjakan”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih, Al-Sholat: 452, 453, 936, 938; Muslim dalam Shahih, Sholat al-Musafirin wa qashruha: 1250; Nasa’i dalam Qiyam al-lail wa tathowwu’fiha: 1674, 1676; Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad Ahmad, Musnad al-Muksirin min al-Shohabah: 4263, dan Malik dalam al-Muwaththa’, al-Nida’ li al-sholat: 247. Hadits ini berkualitas shohih dan dapat dijadikan sebagai hujjah]

Akan tetapi sholat witir terkadang diartikan dengan sholat tahajjud secara keseluruhan karena jumlah roka’at sholat tahajjud adalah ganjil.

عَنْ عَبْد للهِ بْنِ أَبِى قَيْسٍ قَلَ قُلْتُ لِعَا ئِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا بِكُمْ كَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيَهِ وَ سَلَّمَ يُوْتِوُ قَلَتْ كَنَ يُوْتِرُبِأَرْبَعٍ وَثَلاَثٍ وَسِتٍّ وَثَلاَثٍ وَثَمَانٍ وَثَلاَثٍ وَعشْرٍ وَثَلاَثٍ وَلَمْ يَكُنْ يُوْتِرُ بِأَنْقَصَ مِنْ سَبْحٍ وَلاَ بِأَكْثُرَ مِنْ ثَلاَثَ عَشْرَةََ 

Artinya: “Abdullah ibn Qais berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah ra, “Dengan berapa roka’at Rasulullah sholat witir?”. Aisyah menjawab: “Rasulullah sholat witir dengan empat roka’at dan tiga roka’at; dengan enam roka’at dan tiga roka’at; dengan delapan roka’at dan tiga roka’at, dan dengan sepuluh roka’at dan tiga roka’at. Ia tidak pernah sholat witir kurang dari tujuh roka’at, dan tidak lebih dari tiga belas roka’at”. [Hadits ini diriwayatkan oleg Abu Dawud dalam Sunan, Kitab al-Sholat No. 1155; dan Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad Ahmad, Kitab Baqiy Musnad al-anshar No. 24004. Hadits ini berkualitas shohih]

Sholat witir menurut pengertian pertama berarti sholat witir merupakan bagian dari sholat tahajjud. Sedangkan sholat witir menurut pengertian kedua berarti sholat witir sama dengan sholat tahajjud.

Perintah Sholat Tahajjud

Allah SWT memerintahkan untuk sholat tahajjud pada sebahagian malam sebagai ibadah nawafil (tambahan).

 وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” [QS. Al-Isra’ (17): 79]

Sholat tahajjud menurut banyak ulama awalnya adalah wajib kemudian menjadi sunnah, berdasarkan pada ayat berikut ini.

 يَأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ, قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلاً , نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً, أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً, إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلاً, إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءًا وَأَقْوَمُ قِيلاً , إِنَّ لَكَ فِي اَلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلاً, وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلاً , رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلاً  

Artinya: “(1) Hai orang yang berselimut (Muhammad), (2) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (3) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, (4) atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (5) Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (6) Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (7) Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). (8) Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (9) Dia-lah Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung”. [QS. Al-Muzammil (73) : 1 – 9] 

Serta ayat terakhir dari surat Al-Muzammil :

 إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَؤُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS. Al-Muzammil (73): 20]

(Disarikan dari Sholat Tahajjud & Sholat Tarawih Menurut Cara Rasulullah, Suara Muhammadiyah, 2004)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: