Oleh: Abi Ananda Rasyid | Agustus 19, 2007

Merdeka


Memaknai 62 tahun Merdeka

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT. Kalimat ini sudah selayaknya keluar dari mulut setiap orang-orang yang beriman atas kenikmatan ‘negara’ Indonesia merdeka 17 Agustus, 62 tahun silam. Sejak kecil hingga sebelum meninggalkan tanah air, peringatan hari kemerdakaan negara Republik Indonesia selalu disemarakan dengan lomba-lomba, renungan di malam harinya, upacara, lomba-lomba lagi, dan pentas budaya, pentas seni, dan lain-lain. Tidak sedikit kegiatan yang menyerempet kepada hal-hal maksiat …. berawal dari joget-joget, kemudian bersenggol-senggolan, kemudian ‘terserah anda’, kemudian tawuran. Ini juga sering terjadi. Na’udzubillah ….

Dalam berita-berita di radio-radio, televisi-televisi, surat kabar-surat kabar ramai memuat pendapat para tokoh, agamawan, negarawan, bangsawan, konglomerat, sampai orang-orang melarat. Sebagian bertanya, benarkah Indonesia telah merdeka? Jika merdeka mengapa harta kekayaan bangsa ini masih dirampas? Mengapa orang-orang melarat masih dijajah konglomerat? Mengapa para mantan pejuang masih berjuang untuk hidup saat ini? Mengapa masih banyak kemiskinan? Mengapa masih banyak pengangguran? Padahal negeri ini adalah negeri yang kaya. Ternyata, kemerdekaan saat ini baru bisa dinikmati oleh sekelompok elit bangsa ini. Para pimpinan pejuang masih bisa hidup enak, sedangkan para pejuang masih terus berjuang untuk hidup. Jangankan rumah, untuk makan pun para pejuang itu harus mengais-mengais dipinggirian jalan. Ternyata kemerdekaan bukan untuk orang-orang kecil. Merdeka hanya untuk orang-orang besar.

Marilah kita tengok, bagaimana Islam memerdekakan bangsa Quraisy dari kegelapan kejahiliyah menuju cahaya. Bangsawan dan rakyat jelata, juragan dan budak, laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama dan dihargai sebagai saudara seiman. Yang kaya memberikan kepada yang miskin, yang kuat membantu yang lemah, yang ada membantu yang tiada. Itu semua adalah kemederkaan hakiki yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kemerdekaan diri atas belenggu thogut menuju cahaya Allah SWT. Tiga belas tahun Rasulullah berjuang untuk kemerdakaan bangsanya di Mekkah. Hasilnya dapat dinikmati oleh ummatnya hingga saat ini, dimulai saat hijrah ke Madinah. Saat itu para pejuang-pejuang aqidah ini berjuang untuk memerdekakan diri untuk menuju Allah, untuk kejayaan Islam – agama Allah.

Enam puluh dua tahun, katanya bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajah barat. Masihkah kita merasakan kemerdekaan, sementara disebelah kita masih ada yang merana? — Tanya kenapa …?

Taipei, typhoon ‘Sepat’ 17-Agustus-2007.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: