Oleh: Abi Ananda Rasyid | Juni 21, 2007

Potret-2


Dua Sisi Tenaga Kerja Indonesia di Formosa

Adalah sunnatullah bahwa dibalik gelap ada terang, dibalik kemiskinan ada kekayaan, dibalik susah ada senang, dan demikian seterusnya. Ibarat roda  yang selalu berputar, kehidupan akan merasakan sentuhan dengan kerasnya jalan.  Demikianlah … juga dialami oleh saudara-saudara tenaga kerja Indonesia di Taiwan ini. Mereka adalah “pahlawan devisa negara” yang tertulis dan dielu-elukan pada saat kedatangannya. Mereka pergi dengan bersusah payah, dan pulangnya (terkadang) diperas.

Kejadian kejadian yang menimpa para nakerwan (tenaga kerja wanita) Indonesia di luar negeri apakah itu di Malaysia, Singapura, Hongkong, Arab Saudi, adalah memiliki karakteristik yang sama. Mereka tidak hanya menjadi perahan di tanah air, namun juga menjadi korban di negeri seberang. Memang tidak jarang para nakerwan ini acapkali menjadi korban para majikannya. Karena mereka berinteraksi langsung dengan majikannya. Sangat berbeda dengan para naker yang bekerja di sektor formal. Masalahnya mengapa ia menjadi korban kekerasan majikan? Apa peran perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri?

Dari pengalaman berinteraksi dengan para naker Indonesia di Taiwan, sangatlah miris bila mendengarkan tutur mereka. Pada kebanyakan kasus selain korban kekerasan, adalah gaji yang tidak dibayarkan, kerja lembur tanpa bayaran, bayaran tidak sesuai kontrak, tidak diberi hak libur. Masalah ini seakan-akan masalah yang rutin dan tidak pernah bisa diselesaikan walaupun dengan aturan yang ketat sekalipun. Jika terjadi masalah dengan para naker ini luar negeri sebenarnya permasalahan itu tidak bisa lepas dari masalah yang ada di dalam negeri Indonesia. Semrawutnya pengurusan keberangkatan dan perlindungan naker yang lemah dan bargaining position Indonesia yang lemah adalah sumber masalah para naker di luar negeri. Di Taiwan, seorang naker hanya bisa bekerja maksimum 2 kali masa kontrak atau maksimum 6 tahun. Namun banyak juga naker yang bisa bekerja hingga lebih dari masa kerja itu bahkan ada yang telah belasan tahun. Bagaimana bisa terjadi ???Kebanyakan mereka menggunakan nama yang berbeda-beda, toh orangnya sama. Artinya satu orang bisa memiliki lebih dari satu passport. Berarti ada kebobrokan sistem di imigrasi dan bagain ketenagakerjaan. Pemerintah Indonesia belum bisa mengelola data naker dengan baik (bad database management). Padahal pakar-pakar manajemen informasi dan ICT di Indonesia bergentayangan sedemikian banyaknya. Kalau naker itu bisa masuk dan bekerja di Taiwan lagi, artinya terdapat kebobrokan sistem pula di Taiwan. Ada kong kali kong antara penyalur tenaga kerja di Indonesia dan penyalur di Taiwan. Sehingga tidak jarang jika ketahuaan polisi imigrasi Taiwan mereka tertangkap dan diinapkan di hotel prodeo di San-xia. Dari beberapa kali pulang-pergi Taipei – Yogyakarta, selalu ketemu dengan naker yang dipulangkan oleh majikan karena bermasalah. Kebanyakan mereka baru bekerja dalam waktu singkat, ada yang baru 1 minggu, satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan. Duh gusti …. uangpun belum mereka raup …. hutang untuk berangkat belum terbayarkan. Memang miris ….paling tidak untuk berangkat ke Taiwan mereka harus merogoh kocek hingga Rp25 juta, jelas ini kelewat dari tarif resmi yang hanya Rp10-15 juta. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung-jawab???

Dari pedampingan dan pembicaraan dengan para naker di Masjid Kecil, Taipei yang mana menjadi markas aktivitas para naker dan mahasiswa muslim Indonesia, memang naker-naker Indonesia ini belum memiliki kualitas sebagai naker yang mumpuni jika dibandingkan naker dari Filiphina. Para naker Indonesia tidak ahli berbahasa Inggris dan minim bahasa Mandarin. Pengetahuan akan komputer juga sangat kurang bagi para nakerwan, padahal tidak jarang para majikan meminta mereka untuk mengawasi anak-anak majikannya. Masalah dengan majikan acap kali timbul karena kurangnya komunikasi dan ketrampilan naker ini. Dan juga kondisi psikologis naker di tanah air ikut terbawa selama mereka bekerja seperti keretakan rumah tangga, hutang yang segunung dll. Artinya pemerintah harus benar-benar selektif dalam penempatan para naker di luar negeri.

Disatu sisi mereka merasakan masalah dan sering menjadi korban kekerasan, namun tidak sedikit yang termanjakan oleh majikannya dan boleh kipas-kipas dengan hasil keringatnya. Jadi jangan heran kalau mereka mempunyai handpone 3G, kamera digital bermerek, handycam berkelas, PDA, dan juga laptop. Bagi yang masih ingat diri, mereka masih bisa meredam memiliki barang-barang itu. Mereka berpikir untuk investasi sebagai modal usaha setelah pulang ke tanah air nantinya. Bagi yang sadar diri, mereka lebih mendekatkan diri ke masjid dan kegiatan-kegiatan pengajian dan pelatihan di masjid yang diberikan oleh para mahasiswa muslim Indonesia. Namun bagi yang lupa diri, tidak jarang mereka membikin ulah di tempat-tempat hiburan seperti pub, karaoke, diskotik yang puncaknya adalah perkelahian masal antar daerah. Nau’udzubillah …. di tanah orangpun masih berbuat onar. Bagi nakerwan yang lupa diri dan terlena dengan kemewahan hidup Taipei, tidak sedikit yang pula membawa serta anak hasil perzinahannya. Tapi … jangan salah lho..tidak setiap yang pulang membawa anak itu hasil perzinahan ada juga yang menikah secara resmi sesama naker Indonesia. Tugas berat bersama adalah mengajak kurang lebih 90 ribu naker Indonesia untuk berkarya positif bagi diri dan bangsa ….

Akankah kasus-kasus naker ini terus bergulir tanpa penyelesaian? Tanya kenapa…..

Taipei, summer Juni 2007


Responses

  1. AsS..
    Sedih sekali mendengarnya..😥
    semoga keberadaan para mujahid Allah disana bisa memberikan pencerahan buat mereka..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: