Oleh: Abi Ananda Rasyid | Juni 18, 2007

Rezeki kita


Dari Siapakah rezeki kita?

Beberapa  bulan yang lalu, aku bersama 2 orang teman satu laboratorium mengambil data tanah longsor pada ruas jalan T-18 dan T-21 di Ali-shan (Gunung Ali). Namun bukan cerita mengambil data yang ingin dituliskan disini. Sewaktu perjalanan pulang ke Taipei dari Ali-shan, kedua orang teman bertanya kenapa aku menikah dalam usia muda. Mereka membandingkan dengan kondisi Taiwan yang mana rata-rata menikah setelah mapan secara ekonomi — karena tolok ukur mereka adalah materi. Mereka bertanya dari mana aku mendapatkan uang untuk menghidupi anak padahal gajiku tidak mencukupi jika dihitung-hitung.

Sudah sering aku harus terlibat untuk menjelaskan bagaimana Islam memandang hidup ini. Aku tidak langsung menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an — toh mereka pun tidak mengerti. Aku bertanya kepada mereka : “Dari manakah burung-burung itu mendapatkan makanannya?”. Mereka menjawab : “Ya … burung-burung itu terbang kesana kemari, maka dapat makanan”. “Betul” kataku kemudian. Aku menanyakan : “Mengapa burung-burung itu tahu kalau itu makanannya, siapakah yang memberikannya makanan?”. Kedua temanku terlihat bingung dan tidak menjawab. Kemudian kau bertanya lagi: “Dari mana kamu dapat makanan?”. Mereka menjawab : “ya dari orang tua saya”. Kemudian saya teruskan bertanya: “Siapakah yang memberi uang orang tua kamu?. Jawabnya: “dari bekerja di kantor”. “Dari siapakah semua uang itu, makanan, dan sebagainya didunia ini diberikan kepada kita semua kepada alam ini?”. Ternyata mereka tidak bisa menjawab. Kemudian saya jelaskan bahwa semua itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan-lah yang memberikan kita manusia ini hidup dan kehidupan. Mulai dari masa kandungan hingga sekarang ini. Mengapa kalian tidak mau mengenal siapa pemberi ini semua?

Inilah sepenggalan tanya jawab antara saya dan teman-teman Taiwan … dalam pikiran orang-orang yang menganut materialism, tidak akan bisa menjawab pertanyaan tersebut. Bagi kita, sudah jelas disebutkan bahwa Allah -lah yang memberikan semua yang ada di bumi dan di langit. Dia menurunkan hujan, lalu ditumbuhkanlah biji-bijian dari bumi, jadilah buah-buahan, jadilah ia makanan untuk manusia. Sungguh Maha Besar Allah, Allahu Akbar. Tidak ada manusiapun didunia ini yang mampu melakukan itu.

Kembali pada pertanyaan 2 orang teman tadi. Ketika akan menikah, kita berpikir nantinya gaji kita tidak cukup. Ketakutan akan kekurangan atas rezeqi ini seringkali menjadi alasan untuk menunda menikah. Rasullah SAW bersabda yang diriwayatkan dalam Bukhari – Muslim bahwa “makanan 1 orang cukup untuk 2 orang, makanan untuk 2 orang cukup untuk 3 orang”. Subhanallah, ternyata rezeqi Allah itu tidaklah matematika, jika hidup 1 minggu adalah Rp.100.000/orang, dan jika punya uang Rp. 100.000 dipakai untuk hidup 2 orang maka secara matematika akan minus Rp.100.000. Inilah yang tidak pernah disadari oleh makhluk yang lemah ini. Tentu saja sikap bersyukur atas segala pemberiannya dan merasa cukup atas rezeqi saat ini adalah jalan untuk menuju ketaqwaan. Jika saja mau bersyukur dan syukur yang sebenar-benarnya, maka Allah akan menambahkan rezeqi kita. Inilah janji Allah dalam Al-Qur’an. Dan janji Allah itu adalah pasti. Jika saja mau merasa cukup atas rezeqi yang diterimanya saat ini, maka tidak akan terjadi korupsi harta-harta orang lain.

Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang bersyukur atas nikmat dan rezeqi-Nya. Wallahu’alam.


Responses

  1. Rasanya, masih banyak orang berpikiran seperti Teman2 bapak (Maksudnya di Indonesia)
    Menikah muda?🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: