Oleh: Abi Ananda Rasyid | Juni 11, 2007

Sarung dan Peci


Sepotong Sarung dan Seonggok Peci

Rutinitas ibadah dan kebiasaan di kampung halaman adalah sholat memakai sarung dan peci putih. Setiap sholat Isya, cahaya mataku Rasyid, selalu ikut menyertai ke masjid dengan memakai sarung dan peci seperti abi-nya. Memang sarung dan peci inherent dengan sholat dan muslim. Bagi kita pemadangan bersarung dan berpeci di kampung halaman adalah hal yang biasa dan wajar saja, bukan pemandangan yang aneh atau unik. Namun akan lain ceritanya kalau kebiasaan itu terbawa hingga kita menjelajahi negeri seberang lautan. Apalagi komunitas muslim di negeri seberang sangat-sangat minoritas seperti Taiwan. Sarung dan peci adalah ciri khas muslim dari Indonesia atau Melayu secara umum. Lain Indonesia, lain juga ciri muslim India, Pakistan, Afghanistan, Arab, dan Afrika. Bagi sesama muslim masing-masing ciri khas berbusana ini sudah menjadi maklum dan keunikan tersendiri.

Kisah Pertama

Seperti biasanya, jika tidak terlalu lelah, saya sempatkan untuk berjama’ah maghrib dilanjutkan isya’ di Masjid Besar Taipei. Jaraknya kurang lebih 30 menit berjalan kaki — ini ukuran langkah saya lho … atau kalau bersepeda kira-kira 15 menit. Kalau maghrib dan isya’ ini, cukup membawa peci putih saja tidak usah bersarung karena harus berangkat masih agak sore. Suatu ketika sepulang dari masjid, biasanya peci masih melekat di kepala hingga sampai kamar, ketemu dengan Dean of College of Engineering, Prof. Ou-Chang Yu, dari jauh ia melihat keheran-heranan. Kemudian setelah agak dekat, saya menyapanya: “Good evening Professor”. Sang dekan bertanya: “Agus, What happen your head? Are you injured?”. Dalam batin saya tertawa mendengar pertanyaan sang Professor tadi. Kemudian saya jelaskan, “Ohh, I’m very fine Professor. This white hat is commonly wear when I am praying. And it is one of muslim identity. In my country, it is common. mei wen ti lao zhe (ini ejaan pinyin dari bahasa Mandarinnya: tidak ada masalah Prof.)”. Walaupun hanya sebentar, saya masih sempat menjelaskan sedikit tentang Islam di Indonesia.  Alhamdulillah, peci ini bisa menjadi ketertarikan orang untuk awal berinteraksi dengan Islam. Seonggok peci putih yang bermakna dalam dakwah.

Kisah Kedua

Dua minggu lalu, untuk sholat subuh saya berusaha di Masjid. Biasanya kalau subuh begini, harus berangkat paling tidak jam 03.30 AM karena subuh nanti jam 04.02 AM. Kebetulan hari itu adalah akhir pekan, biasalah mahasiswa-mahasiswi masih ada yang mojok hingga jam segitu. Aneh ya …. itu nggak satu, dua lho tapi berjamaah didepan asrama dan di taman. Rute untuk ke masjid, dari kamar, pertama harus melalui depan asrama dan taman untuk seterusnya naik sepeda ke masjid. Pagi buta itu, saya bersarung, pakai peci putih dan berjaket lewat didepan para muda-mudi tadi. Risih juga sih sebetulnya lewat didepan mereka. Tapi yang menariknya … mereka malah ngeliatan saya sambil nunjuk-nunjuk sarung. Nggak tahu apa yang ada dibenak mereka, tapi akal saya mengatakan bisa saja mereka merasa aneh kok ada laki-laki pakai rok. Aneh …

Yah … itu lah kisah sepotong sarung dan peci. Semoga bisa memperkenalkan Islam dengan baik di Taiwan khususnya masyarakat kampus.

Taipei, summer 10 Juni 2007.


Responses

  1. 🙂 Subhanallah…
    Keep Hamasah… and keep Ukhuwah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: