Oleh: Abi Ananda Rasyid | Juni 10, 2007

Solidaritas


Belajar dari Ahmed Ragheeb

Sabtu, 8 Juni kemarin selepas sholat Isya di Masjid Besar taipei, sewaktu mau menaiki sepeda, seseorang menyapa: “Assalamu’alaikum, where is muslim restaurant near here?”. Saya katakan: “The muslim restaurant is far from here, it’s about 30 minutes on foot. But, there is Indonesian restaurant beside this Masjid. They bought halal meat, beef and chicken, from Masjid”. Kemudian saya antarkan tamu tadi hingga ke depan toko dan warung makan Indonesia di sebelah Masjid. Setibanya didepan toko, ia bertanya lagi: “Is the owner Muslim?”. Tentu saja saya katakan: “No, they’re not Muslim”. Langsung saja ia mengajak saya pergi dan meminta untuk menunjukkan tempat makan yang mana penjualnya adalah Muslim. Saya ingat ada Muslim daei Mesir yang berjualan roti kebab di Gongguan. Karena tamu ini mengaku dari Mesir, maka sayapun menawarkannya untuk ke sana. Alhamdulillah ia pun menyambut dengan sangat baik sekali.

Dalam perjalanan berjalan kaki, sempat bincang-bincang dengan beliau. Ia adalah Ahmed Ragheed, seorang General Manager Hong Kong VTech yang berkantor di Zhenzenm China. Mengapa ia tidak mau makan di toko tadi. Ternyata … solidaritas terhadap saudara Muslim inilah yang menjadi alasannya. Jadi kata kunci yang ingin saya berbagi adalah “solidaritas terhadap saudara Muslim”. Bagi saya peristiwa ini menjadikan pelajaran yang menarik. Padahal kalau  makan di toko tadi, paling hanya habis NTD100-150. Akal saya ketika belum berbincang dengan tamu tadi, mengatakan ‘kan … pemilik toko tadi membeli daging dari masjid, berarti halal. Jadi hanya sebatas halal dan haramnya makanan. Tapi ternyata tidak hanya sebatas itu bagi tamu tadi. Sekecil apapun uang yang dikeluarkan untuk orang diluar Muslim sama dengan memberikan nafkah kepada orang non-muslim itu. Bukankan, orang-orang kafir, Yahudi, Nasrani tidak akan berhenti memusuhi Islam hingga orang-orang Islam mengikuti milah-milah mereka? — Ternyata inilah yang mendasari mengapa tamu tadi tidak mau membelanjakan uangnya di toko tadi dan memillih berjalan kaki 30 menit berbelanja di tempat saudaranya Muslim. Tamu tadi tidak ingin kalau uangnya nanti dimanfaatkan oleh orang non-Muslim (baca: nasrani, Yahudi) untuk memerangi dan memusuhi Islam. Sikap wara’ dan hati-hati inilah yang kemudian melahirkan solidaritas tamu tadi kepada saudaranya Muslim. Walaupun harus berjalan kaki 30 menit hanya demi membelanjakan paling NTD200, namun misi Islam lainnya juga akan didapati yaitu silahturahim dan ukhuwah. Subhanallahu ….

Tidak terpikir oleh akal saya … padahal tidak jarang beberapa saudara saya pelanggan tetap toko tadi, dan toko tadi tidak pernah sepi dengan pelanggan-pelanggan Muslim lainnya. Kalau saja, saudara-saudara Muslim di Taipei ini rajin berbelanja ditempat saudaranya Muslim , Insya Allah usaha dagangnya akan maju. Wallahu ‘alam ….. akan berada dimanakah kita ?

Taipei, 8 Juni 2007


Responses

  1. Nice article…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: