Oleh: Abi Ananda Rasyid | Mei 22, 2007

Tanah Longsor


Lereng Longsor: Bisakah di’ramal’kan terjadinya?

Kejadian tanah longsor pada lereng-lereng bukit baik dipegunungan atau dekat pemukiman padat manusia sering kali terjadi. Hampir 90% peristiwa longsor ini terjadi saat musim hujan atau hujan tiba. Di Taiwan sendiri, sudah bisa dipastikan setiap taifun selalu membawa hujan yang sangat lebat bisa mencapai lebih dari 1000 mm. Inilah kejadian alam. Pada kebanyakan ahli geologi, geografi, geoteknik seringkali memfokuskan pada kasus-kasus tanah longsor. Kemudian meneliti dan mendapatkan kesimpulan. Namun tidak pernah belajar dari kasus lereng yang tidak longsor. Tentunya kita bertanya, mengapa lereng yang ini longsor sedangkan yang itu tidak longsor? Bisakah tanah longsor ini diperkirakan kapan terjadinya.

Cukup sulit memperkirakan kapan persisnya suatu lereng akan longsor, karena ini adalah kejadian alam. Dan alam ini ada yang mengaturnya, yaitu Allah SWT. Dan tidak pernah ada yang tahu dengan pasti kehendak Allah SWT. Sebagai ahli geoteknik, dalam kapasitasnya sebagai manusia tentu saja segala daya dan upaya dikerahkan untuk mengetahui tanda-tanda longsronya tanah. Instrumentasi dan monitoring adalah salah satu teknik yang sangat memungkinkan untuk memperkirakan kapan, dimana, dan berapa luas area longsor. Sewaktu diberi kesempatan belajar di Department of Ocean Civil Engineering Kagoshima University Jepang, teknologi instrumentasi ini sedemikian rapi dan modern. Demikian pula di Taiwan, yang sedang diteliti dan dikembangkan oleh research group saya ini.

Rain stationTensiometer
[Instrumentasi stasiun hujan(atas), tensiometer dan TDR (bawah) di Kagoshima Jepang oleh Prof. Ryosuke Kitamura]

Pada research group saya, sebagai tahap awal telah dipasang instrument untuk mengukur curah hujan disepanjang jalan di lereng-lereng Mount Ali (Ali-shan). Data hujan ini tercatat setiap 10 menit dalam data-logger yang selanjutnya dikirim melalui sistem telepon seluler ke server di laboratorium. Selanjutnya data hujan bisa diolah. Kombinasi data hujan dan data-data geologi dan geoteknik lereng, akan dapat dihitung stabilitas lereng. Memang asyik bisa menjadi ‘peramal’ terjadinya longsor. Salah satu contoh hasil analisis adalah analisis pada studi kasus longsor di Hongkong untuk verifikasi model yang dibuat di Taiwan.

Hongkong case
[Hasil analisis pada kasus longsor Tung Chung slope di Hongkong pada 11 Juni 2001]

Dari hasil analisis diketahui bahwa lereng longsor pada 11 Juni 2001 jam 09.00 pagi atau 2-3 jam sebelum intensitas hujam puncak. Dimana terjadi? — dari gambar dapat diketahui bahwa longsor terjadi pada lokasi SP8 ketika intensitas hujan 20 mm per jam. Berapa tebal tanah yang longsor? — mudah juga diketahui, yaitu hingga 40 cm. Lumayan luas juga dan berbahaya kalau lereng ini cukup tinggi, kecepatan luncurnya bisa besar. Apalagi 2 jam setelah itu hujan masih berlangsung. Saat ini, sedang dibuat suatu monograf sebagai cara sederhana untuk mengevaluasi lereng-lereng di seluruh dunia apakah potensi longsor atau tidak.

Kapan ya Indonesia bisa menggunakan sistem instrumentasi dan monitoring ini?

[Disarikan dari naskah yang sedang disiapkan untuk dipublikasikan pada Journal of Hydrology dan Journal Enironmental Geology]


Responses

  1. Di Negara Indonesia kami sangat mengharapkan sistem instrumentasi dan monitoring untuk mendeteksi adanya bahaya2 longsor yang sering terjadi di negara tercinta kita ini.
    Tetapi saya sangat meragukan itu semua akan terealisasi atau tidak., masalaheeeeee..di indonesia terlalu buuanyaaak problem yang masih belum diselesaikan. Wong masalah KKN para pejabat., Lumpur Lapindo., Banjir.,dll aja masih belum kelar….! Gimana mau Maju kalo begini…!
    Wihhhhh., Indonesia,Indonesia, orang2mu terlalu banyak yang pinter2 ngomong doang alias pinter demo sana sini.

  2. “Pertanyaan kapan di Indonesia ada ya?”
    membuat banyak PR tambahan buat pemerintah… 😥

    Semoga sukses ya Pak..
    Terima kasih atas bantuannya….

  3. Puslit Geoteknologi – LIPI mencoba membuat sistem monitoring pergerakan tanah, dalam hubungannya dengan intensitas curah hujan. Nah penelitian 3 tahun terakhir kita mencoba membuat demplot di Cadaspangeran, Sumedang, Jawa Barat. OK

  4. Congratulation, kalau LIPI sudah membuat sistem monitoring pergerakan tanah. Namun berdasarkan pengalaman di Taiwan dan Jepang, sistem ini sangat rumit untuk memprediksi kapan dan dimana terjadinya longsor. Btw, ini perlu didukung pula dengan instrumen lainnya. Semoga kita bisa bekerjasama dan bersinergi untuk pengembangan iptek di Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: