Oleh: Abi Ananda Rasyid | Mei 22, 2007

Muroqobah


Bersiap-siaga

Sewaktu silahturahim ke Tainan minggu lalu, saya tertarik dengan satu ayat dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  

“Hai, orang-orang yang beriman bersabarlah dan tetaplah bersabar dan bersiap-siagalah dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” [QS. Al-Imron: 200]

 Subhanallah, menarik sekali ayat ini jika direnungkan dengan dalam dan ditengah kesunyian malam. Hanya orang-orang yang berimanlah yang dipanggil Allah untuk bersabar, kemudian tetap bersabar, bersiap-siaga dan bertaqwa agar mendapatkan keuntungan. Sungguh suatu rangkaian yang indah, pada kebanyakan ayat dalam Al-Qur’an memang selalu diperintahkan untuk bersabar dalam segala hal. Namun ayat ini memerintahakn kita hamba-Nya untuk ‘robithu‘.

Kita, hamba-Nya, didunia ini ibaratkan seorang pedagang. Di pagi hari sudah bersiap dengan perdagangannya, menentukan suatu target dan syarat-syarat perdagangan. Terkadang antara akal dan hati ini tidak pernah berkesesuaian dalam mencapai target. Untuklah perlu ditetapkan suatu persyaratan akal dan hati menuju perdagangan yang sesuai dengan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Sungguh, bila perdagangan dengan Allah ini akan memberikan keuntungan yang tidak bisa dihitung-hitung dengan apa pun. Ketika pulang di petang harinya, layaknya seorang pedagang sudah seharusnya menghitung-hitung kembali perdagangannya hari itu. Inilah proses yang sudah semestinya dilakukan.

Konsekuensi dari robithu – murobathah, adalah muroqobah (pengawasan) dan muhasabah (penghitungan). Seperti apakah muroqobah ini? Tentunya kita teringat akan sebuah kisah dimana seorang Kyai sangat hormat kepada murid termudanya. Sikap sang Kyai ini di’protes’ oleh para santri seniornya, “Wahai Kyai kami, mengapa engkau begitu hormat kepada dia padahal dia lebih muda dari kami””. Sang Kyai tidak lantas menjawabnya, ia memberikan masing-masing santrinya seekor ayam dan sebilah pisau tajam. Para santripun penuh tanda tanya. Sang Kyai memerintahkan, “Potonglah ayam itu tapi jangan sampai terlihat oleh siapapun”. Maka santri-santripun melaksanakan perintah Kyai, ada yang bersembunyi di kebun, bersembunyi dibalik dinding, dana dimana-mana tempat yang tidak terlihat orang. Kemudian masing-masing santri ini menghadap satu per satu ke Kyai sambil membawa ayam yang telah terpotong urat lehernya denngan perasaan senang telah menunaikan perintah Kyai yang dihormatinya. Kecuali santri yang muda, sang Kyai bertanya, “Wahai santriku, mengapa belum juga engkau tunaikan perintahku, tidakkah engkau mendengarkannya?”. Santri muda inipun menjawab, “Wahai Kyaiku yang aku hormati, sungguh aku dengar dan paham perintahmu, tapi bagaimana aku bisa memotong ayam ini tanpa bisa dilihat oleh siapapun karena Allah selalu melihatku”.

Demikianlah mengapa sang Kyai begitu menghormati santri muda itu. Sikap muroqobatillah ini telah melekat betul dihatinya dan diamalkannya. Subhanallah, akupun belum bisa seperti ini.

Dalam suatu hadits oleh Imam Muslim, Rasulullah ditanya oleh seorang (sebenarnya Malaikat Jibril), “fa akhbirni-i an al-ihsani, qoola: an ta’buda Allah ka-annaka taroohu…”. Hadits ini sangat populer ditelinga kita, bahkan diriku. Namun sangat sedikit sekali bisa menerapkannya.

Andai kutahu …
hidup ini lebih baik
tak ada manipulasi
tanpa korupsi

[Ditulis dari Taipei]

Tausyiah Tainan

[Foto: Masjid Tainan, Taiwan]


Responses

  1. aslm mas..ijin share yach


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: