Oleh: Abi Ananda Rasyid | April 17, 2007

Tuhan sungguh Adil


Ahad 15 April 2007 lalu selepas memberi Kajian Al-Islam di Masjid Kultural Taipei, seorang datang menghampiri dan bertanya: “Pak, kalau Islam adalah jalan menuju kesejahteraan, kedamaian, orang di luar Islam (baca: kafir) yang berbuat baik itu nantinya pasti akan ditempatkan di neraka jahannam, sungguh Tuhan itu tidak adil. Mereka kan sudah berbuat baik selama hidup didunia”.

Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya seringkali menggelayuti diri kita barangkali, seringkali kita menggunggat Tuhan dan menghukum bahwa Tuhan tidak adil. Namun benarkah demikian? — Yah… maklumlah karena akupun bukan seorang ustadz yang mumpuni dalam bidang ini, maka akupun mencoba untuk menjelaskan sebisaku. “Mas,….pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang-orang yang berpaham liberal dan orang kafir atau pluralist (menyamakan bahwa semua agama benar). Tuhan itu sungguh adil. Mari kita lihat bersama, Dia (Allah SWT) menciptakan manusia lengkap dengan buminya. Begitu lahir, sudah ada makanan lewat ASI. Tuhan memberikan kita hidup, menghirup udara gratis, air gratis, sinar matahari gratis. Tuhan memberikan kepada kita rezeki yang tidak disangka datangnya. Tuhan sungguh adil, Dia memberikan kepada kita semuanya …. Dalam hidup keseharian, coba kita tengok sewaktu kita masih kecil, sewaktu kita diberi sesuatu misalnya sepeda dari seseorang kita pasti berterima kasih kepada orang itu dan selalu mengingat kebaikannya. Bahkan kalau kita tidak tahu siapa yang memberikannya, kita berusaha mencari tahu siapa yang memberikan sepeda itu dengan bertanya kepada bapak atau ibu: “siapa yang membelikan sepeda ini?”. Artinya secara naluri, kita punya rasa keingintahuan siapakah yang memberikan semua ini. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak mau tahu siapakah yang memberikan kehidupan, siapa yang memberi rezeki, siapa yang mengatur dunia ini? Karena mereka telah menutup mata, telinga, dan hati mereka. Tuhan sungguh adil dengan memberikan mereka hidup, dengan hidup ini mereka seharusnya mencari siapa yang menciptakan dirinya itu. Islam adalah agama yang sempurna yang membawa millah Ibrahim AS. Semua agama yang dibawa para nabi sebelumnya adalah Islam yang mentauhidkan Allah”.

Orang itu bertanya lagi: “Di Taiwan ini mereka -kan tidak tahu Islam?”. “Mas, saya tahu kalau Taiwan tidak terlalu mementingkan agama. Tapi sejarah Islam itu sudah ada dalam kurikulum SD sampai SMA di Taiwan ini. Artinya mereka sudah pernah tahu dan pernah bersinggungan dengan Islam. Ini adalah tugas para muslim untuk berdakwah dengan ahsan”.

Kembali ke-pertanyaan awal tadi, marilah kita renungkan sejenak, Tuhan dalam Dien Al-Islam tidaklah sama dengan Tuhan yang dianggap oleh orang-orang Kristen, Katholik, Yahudi, Hindu, Budha, Kong – Hu Chu, dll. Islam mentauhidkan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Dia tidak berputra, dan juga tidak berbapak sebagaimana anggapan orang-orang Kristen dan Katholik atau Yahudi. Islam hanya menyembah kepada Tuhan Yang Satu, bukan banyak Tuhan sebagaimana Budha, Hindu, Kong Hu Chu. Jadi secara prinsip tidaklah sama antara Islam dengan agama-agama lainnya. Kalau kita ingin menuju jalan keselamatan, maka tempuhlah jalan yang lurus yaitu Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Firman Allah SWT dalam QS. Al-An’aam ayat 153 , yang artinya : “dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

Suatu cerita: “Suatu ketika ada seorang yang sangat gemar sekali bekerja dan membantu orang lain. Suatu hari ia melihat temannya di suatu kantorbekerja bahu membahu dari pagi hingga petang. Ia pun kemudian membantu pekerjaan temannya dengan senang hati. Setiap hari ia masuk pagi dan pulang petang membantu semua pekerjaan di teman-temannya di kantor tersebut. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, berujung pada pergantian bulan, tibalah saatnya yang dinanti-nantikan oleh para pekerja kantoran itu yaitu pembagian gaji bulanan. Sore hari sebelum pulang kantor, semua karyawan berkumpul di aula untuk mengambil gajinya. Sang bendahara kantor pun memanggil satu per satu para karyawan hingga akhirnya tinggal 3 orang. Sang “pembantu kerja” ini pun gundah kok belum dipanggil-panggil dengan bendahara ya. Ia pun berpikir, “ahhh … mungkin pimpinan kantor ini akan memberikan gaji dan bonus kepadaku karena aku sudah bekerja dengan giat dan membantu semua teman-temanku. Supaya tidak ada rasa iri dengan karyawan lainnya, pasti aku dipanggil yang terakhir”. Demikianlah yang dipikirkan oleh orang ini. Sampailah …. ia tinggal seorang diri di ruangan itu, namun sang bendahara hendak meninggalkan ruangan lalu ditanya dengan orang tadi, “Pak bendahara saya kok belum dipanggil tadi”. Maka bendaharapun bingung dan melihat lagi daftar nama-nama karyawan, ternyata semuanya sudah dipanggil dan menerima gajinya. Bendahara bertanya, “Bapak bekerja di bagian mana?”, ia menjawab “saya yang bekerja paling giat di kantor ini membantu semua pekerjaan teman-teman sekantor”. Mungkin …. pembantu umum kali ya ….. Bendahara mengecek sekali lagi daftar karyawan, kemudian bertanya lagi “kapan bapak mulai masuk kerja?”. Jawab orang tadi “ya sebulan lalu”, bendahara menimpali “kok tidak ada ya nama bapak dalam list karyawan kantor ini? Apakah bapak sebelumnya pernah mengajukan lamaran untuk bekerja di kantor ini?”. Terang saja orang tadi menjawab “saya tidak pernah mengajukan lamaran, tapi saya lihat semua orang di kantor ini bekerja dengan senang hati tanpa diperintah, jadi saya ikut saja bergabung dengan teman-teman saya itu”. Sang bendahara tadi pun pusing seribu pusing.

Nah…itulah, kita mau bekerja pun harus mengikuti suatu cara agar diakui, terdaftar dan tercatat sebagai karyawan kantor tadi. Kalau kita tidak pernah mengajukan lamaran, kemudian tiba-tiba masuk… ya terang saja kita ini bukan karyawan kantor tadi. Artinya begini, kalau kita tidak pernah mengakui bahwa Allah adalah sesembahan satu-satunya dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah, maka jangan harap kita akan ada dalam daftar pengikut jalan yang lurus, yaitu Islam.

Dan Allah-lah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu.


Responses

  1. Subhanallah,
    analogi pegawai itu pas🙂

    salam kenal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: