Oleh: Abi Ananda Rasyid | Maret 2, 2007

Nasib Profesor


Ahmad Syafii Maarif : Nasib Profesor di Indonesia

ImageSeorang profesor yang sudah berdinas sekitar 40 tahun, dihitung sejak pertama kali mengajar di perguruan tinggi, menerima gaji kurang lebih Rp 2,7 juta per bulan, atau lebih sedikit tergantung kepada ukuran keluarga yang masih berada di bawah tanggungannya. Sekiranya sang profesor masih punya tanggungan anak yang kuliah satu atau dua orang, Anda bisa membayangkan betapa sulit baginya untuk mengatur bujet rumah tangga. Atau, bahkan tanpa berutang, dapur bisa berhenti berasap, karena pendapatan setiap bulan benar-benar berada dalam sistem ”menghina”.

Bandingkan dengan seorang anggota DPRD di daerah yang punya PAD (Penghasilan Asli Daerah) tinggi, yang menerima gaji sekitar Rp 40 juta per bulan. Tidak peduli apakah anggota ini punya ijazah asli atau palsu yang belum ketahuan, pendapatannya sama.

Untuk menandingi perdapatan per bulan anggota DPRD yang terhormat ini, seorang profesor harus bekerja sekitar 15 bulan, baru imbang. Inilah panorama kesenjangan yang amat buruk yang berlaku sampai sekarang. Jangankan dengan wakil rakyat dengan PAD tinggi, di daerah minus sekalipun, dengan pendapatan sekitar Rp 5 juta per bulan, seorang profesor botak tidak bisa menandingi.

Memang, ada sejumlah kecil profesor atau doktor yang punya penghasilan tambahan yang cukup tinggi sebagai konsultan, dosen di luar negeri, merangkap jadi anggota DPR, komisaris atau penasihat bank, ikut proyek, atau mengajar di beberapa tempat, dan lain-lain. Tetapi, standar gaji mereka, ya seperti tersebut di atas itu.

Dengan kenyataan seperti itu, mana mungkin seorang profesor punya karier akademik yang menjulang tinggi. Dana untuk beli buku sudah tersedot untuk kepentingan survival, sekadar bertahan hidup. Nasib saya pribadi karena pernah memberi kuliah di Amerika Serikat, Malaysia, dan Kanada, plus anggota DPA selama lebih sedikit lima tahun, memang agak mendingan. Ditambah lagi jumlah anak dan istri tunggal. Sewaktu belajar di Chicago, istri saya juga sempat bekerja sebagai baby sitter (pengasuh anak) dengan penghasilan yang lumayan. Dengan kondisi ini, kami bisa menabung. Penghasilan lain juga datang dari sumber-sumber lain, seperti dari menulis dan bantuan teman.

Sekiranya penghasilan saya hanya sebagai seorang profesor dengan golongan IVe sekalipun, saya hanya akan gigit jari bila berkunjung ke toko buku. Paling-paling hanya lihat daftar isi, dan kalau ada waktu baca kesimpulan buku itu. Setelah itu pulang sambil mengenang alangkah bagusnya buku itu.

Tulisan ini tidak ingin memberi kesan bahwa seorang profesor itu perlu diberi perhatian khusus. Sama sekali tidak. Tetapi makhluk yang satu ini, apalagi mereka yang mendapatkan PhD di luar negeri, adalah pekerja keras dengan membanting otak selama bertahun-tahun. Tugasnya kemudian adalah untuk turut ”mencerdaskan kehidupan bangsa” pada tingkat perguruan tinggi.

Pemegang PhD setelah pulang ke Tanah Air tentu harus berpikir keras lebih dulu bagaimana agar rumah tangga bisa bertahan. Urusan buku terpaksa menjadi agenda nomor sekian. Padahal tanpa buku dan jurnal, seorang pemegang PhD pasti akan kehabisan stok, tidak bisa meng-update (menyegarkan) ilmunya. Akibatnya, buku-buku terbitan puluhan tahun yang lalu dikunyah lagi untuk bahan perkuliahan.

Dengan kenyataan seperti ini, mana mungkin orang dapat berharap kualitas perguruan tinggi kita akan terbang tinggi dibandingkan dengan mitranya di negara tetangga saja. Kualitas pendidikan kita sudah terlalu jauh di bawah standar, termasuk perguruan tinggi yang biasa disebut sebagai pusat keunggulan.

Dengan rendahnya mutu lulusan kita, akan sangat kecil kemungkinan bangsa ini akan mampu bersaing pada tingkat regional untuk mengisi lapangan kerja yang terbuka lebar sebenarnya. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris yang sangat lemah bagi lulusan kita menambah lagi daftar buruk kita untuk mampu bersaing di dunia kerja untuk perusahaan-perusahaan asing di kawasan Asia Tenggara, misalnya.

Sebagai perbandingan, di Malaysia gaji seorang profesor penuh (full professor) hampir dua kali lipat gaji anggota parlemen federal. Di Indonesia gaji seorang anggota DPR pusat sekitar 19 X lipat gaji seorang profesor penuh per bulan. Maka, orang tidak boleh kaget lagi jika dunia akademik dan keilmuan kita semakin suram dan buram dari waktu ke waktu, sementara dunia politik kita semakin berkibar dan kumuh, sementara masih saja sebagian politisi DPR kita merangkap jadi calo proyek.

Tidak malu? Pertanyaan ini sudah tidak relevan lagi untuk Indonesia, sebab peradaban bangsa ini baru sampai sebatas itu. Akan tenggelamkah kita? Semoga tidak! Anak bangsa yang masih punya hati nurani harus bangkit menolong perahu.

Sumber: http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19


Responses

  1. Kenyataan itulah yang membuat saya bingung. Apakah saat kembali ke Indo nanti, lanjut ke academik ato ke construction industri. Kalau lanjut ke akademik, takut tidak bisa menghidupo keluarga, disisi lain, saya lebih suka ‘kehidupan’ research dibandingkan industri.
    *** sedih deh***

  2. Mas Sendy,
    Kalau masih bisa bekerja di Austria tempat Mas belajar itu baik. Berkarya kan tidak harus ditanah air. Jika sudah cukup bekal ilmu dan pengalaman baru kita bisa kembali ke tanah air. Mengabdikan ilmu yang penting adalah untuk kemashlahatan ummat.

    Jika ingin kembali ke Indonesia, tidak perlu gusar akan penghasilan. Insya Allah, rezeqi sudah ada yang mengaturnya. Yang terpenting adalah “satukan tekad, luruskan niat, dan cerdaskan ummat”. Karena kita sudah menjatuhkan pilihan sebagai dosen, jadi mesti siap segala konsekuensi yang melekat padanya. Istiqomah dan sabar, insya Allah, menjadi jalan keluarnya.

    Salam, tetap semangat.

  3. Pak Agus,

    Terima kasih untuk sharingnya.
    Saya emang harus kembali and bekerja ke tanah air ato sekitarnya karena pertimbangan keluarga.

    Saya tertarik dengan penelitian Pak Agus tentang plastik sack rubbish untuk perkuatan tanah (2000). Boleh sharing hasil penelitian tersebut dalam bentuk .pdf ??

    Muntohar, A.S., 2000, “Evaluation of the usage of plastic sack rubbish as fabric in expansive embankment stabilization”, Journal Semesta Teknika , Vol. 3 No. 2, November 2000, pp. 85-95, Muhammadiyah University of Yogyakarta

    Terima kasih sebelumnya.

    regards.

  4. Mas Sendy Yth.

    Alhamdulillah, paper tersebut download-able. Silahkan, cilck pada page publikasi. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika dalam tulisan tersebut masih banyak grammartical-error, sebab baru belajar menulis dalam bahasa Inggris.

    Salam dari Taipei

  5. Terima kasih Pak Agus. Sudah saya download.

    regards.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: