Oleh: Abi Ananda Rasyid | Maret 1, 2007

Seorang Dosen-kah Aku?


Tulisan ini dimakasudkan untuk merenungkan kembali tentang apa yang sudah kita lakukan sebagai seorang dosen selama bekerja sebagai dosen. Mungkin selama ini kita tidak pernah tahu atau sengaja tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang apa sebenarnya yang harus dilakukan sebagai dosen. Dosen adalah sebutan yang seringkali kita dengar bagi seseorang yang mengajar di perguruan tinggi. Namun pada hakekatnya, sang dosen adalah pegawai dari suatu instansi apakah itu negeri (baca: pemerintah) atau swasta (baca: non pemerintah).

Dalam Undang-Udang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I pasal 1 ayat 6, dosen disebutkan sebagai pendidik termasuk pula didalamnya guru, kanselor, pamong belajar dan sebagainya. Selanjutnya dalam Bab XI Pasal 39 ayat 2 disebutkan “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Kemudian dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, Bab I pasal 1 ayat “Dosen adalah tenaga pendidik atau kependidikan pada perguruan tinggi yang khusus diangkat dengan tugas utama mengajar” atau dalam Bab IX Pasal 101 ayat 2: “Dosen adalah seorang yang berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi dengan tugas utama mengajar pada perguruan tinggi yang bersangkutan”. Dalam Bab VIII Bagian Kedua Pasal 50, disebutkan bahwa para dosen merupakan unsur pelaksana akademik pada jurusan.

Dengan demikian sebutan resmi bagi seorang yang mengajar di perguruan tinggi adalah dosen sebagaimana undang-undang dan peraturan pemerintah. adalah seperti yang tugas utama dosen sebagai tenaga pendidik adalah mengajar.kalau kita menilik Pasal 39 ayat 2 tersebut, antara dosen dan guru (SD – SMA) dibedakan oleh adanya aktivitas Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Jadi sudah menjadi mahfum bersama bahwa dosen mimiliki tugas mengajar, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu sangatlah mudah bagi kita untuk mengukur kinerja dosen berdasarkan definisi dosen seperti tersebut di atas. Tidak lengkap seorang dosen menjadi dosen jika hanya mengajar melulu Pengajar tanpa pernah melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sebaliknya, seorang dosen tidak boleh hanya melakukan penelitian melulu Peneliti dan mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar. Dan juga, jika dosen hanya senang melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat tanpa mengajar dan penelitian, maka sang dosen bisa disebut Aktivis LSM. Jadi dosen memiliki pengertian yang utuh baik mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.

Berapakah waktu yang harus diluangkan oleh dosen untuk melakukan semua tugas-tugas tersebut? ¾ Ini barangkali pertanyaan yang sering menjadi bahan diskusi yang tidak pernah ada titik temunya. Kalau mau dihitung secara detail, ternyata waktu yang telah diluangkan oleh dosen UMY melebihi standar waktu kerja. Hal ini terungkap sewaktu BKM merumuskan EWMP untuk dosen. Ditjen Dikti, pada tahun 1999 mengeluarkan Surat Edaran untuk mencegah plagiat yang mana secara implicit bisa dihitung waktu kerja normal seorang dosen dalam melakukan tugas-tugasnya.

 

Tabel 1 Lampiran I Surat Dirjen Dikti No. 3298/D/T/99 tanggal 29 Desember 1999

 

No.

Jenis Kegiatan (sesuai beban kerja ideal dosen)

Jumlah jam per Minggu atau Ekuivalen

A.

Pendidikan

 

1.

Mengajar matakuliah “X” (3 SKS)

9

2.

Mengajar matakuliah “Y” (3 SKS)

9

3.

Membimbing mahasiswa menyelesaikan Skripsi, 3 orang per semester

6

4.

Perwalian mahasiswa, 20 orang per semester

1

5.

Menguji ujian akhir (sidang sarjana), 3 orang per semester

0,5

6.

Membuat diktat kuliah 1 diktat per tahun

2

 

Jumlah A

27,5

B.

Penelitian

 

1.

Penelitian (OPF, HB, SPP, dll) 1 topik per tahun, sebagai peneliti utama

10

2.

Penulisan makalah di jurnal terakreditasi, 1 judul per 2 tahun, sebagai penulis utama

1

 

Jumlah B

11

C.

Pengabdian pada Masyarakat

 

1.

Mengadakan pelatihan insidental,1 topik per semester.

1

D.

Kegiatan Penunjang

 

1.

Aktif dalam kepanitiaan 1 panitia per tahun

1

 

Jumlah total

40,5

 Penjelasan: Rasional perhitungan jumlah jam kerja per minggu (Lampiran II Surat Dirjen Dikti No. 3298/D/T/99 tanggal 29 Desember 1999)

Mengajar/memberi kuliah :

1 SKS (Satuan Kredit Semester) ekuivalen dengan 3 jam pelaksanaan yang terdiri atas 1 jam tatap muka di kelas dan 2 jam persiapan menyusun bahan kuliah.

Membimbing mahasiswa menyelesaikan skripsi :

Skripsi mempunyai bobot 6 SKS berarti setiap mahasiswa harus menyediakan waktu 6 x 3 = 18 jam per minggu untuk mengerjakan skripsi. Karena sifat skripsi adalah tugas mandiri, maka minimal setiap mahasiswa harus berkonsultasi dengan dosen pembimbing selama 2 jam per minggu.

Perwalian mahasiswa :

Beban normal dosen wali adalah 20 orang mahasiswa per semester sehingga dosen mengenal setiap mahasiswa yang dibinanya. Untuk hal tersebut dosen menyediakan waktu minimal 1 jam per minggu untuk konsultasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh para mahasiswanya.

Menguji ujian akhir / sidang sarjana :

Setiap ujian akhir (sidang sarjana) memakan waktu 3 jam sehingga jika ada 3 mahasiswa mengikuti sidang sarjana pada akhir semester, dosen penguji harus menyediakan waktu 9 jam per semester atau 0,5 jam per minggu (1 semester ekuivalen dengan 18 minggu)

Membuat diktat kuliah :

Diktat kuliah diperkirakan berjumlah 100 halaman dan untuk menjamin mutu diktat yang baik diperlukan waktu menulis yang cukup. Jika 100 halaman ditulis dalam waktu 1 tahun, maka diperkirakan setiap minggu dapat ditulis 2 halaman (50 minggu efektif dalam 1 tahun) dan untuk dapat menulis 2 halaman yang bermutu diperlukan waktu 2 jam (termasuk persiapan mencari literatur, gambar, dsb.)

Penelitian

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Ditjen Dikti, maka alokasi waktu yang harus disediakan oleh peneliti utama dalam melakukan penelitian Hibah Bersaing (HB) adalah 10 jam per minggu.

Penulisan makalah di jurnal terakreditasi :

Penulisan makalah yang diterbitkan di jurnal memerlukan waktu cukup lama, dimulai dari penulisan naskah, pengiriman ke dewan redaksi, review oleh tim penilai, perbaikan/koreksi oleh penulis berdasarkan hasil review dan proses penyempurnaan untuk siap cetak. Menurut kaidah nornal, diperlukan waktu 2 tahun dari saat mulai penulisan untuk akhirnya terbit di jurnal, dan waktu yang harus dialokasikan oleh penulis adalah ekuivalen dengan 1 jam per minggu.

Pelatihan insidental :

Kegiatan ini ditujukan untuk pengabdian pada masyarakat dengan memberikan jasa keahlian yang dimiliki oleh dosen tersebut. Berdasarkan kaidah normal, maka dosen mengadakan pelatihan 1 topik per semester dengan lama waktu pelatihan 3 hari kerja (ekuivalen 18 jam pelatihan). Untuk mempersiapkan bahan pelatihan diperlukan waktu minimal 18 jam, berarti diperlukan waktu 1 jam per minggu (1 semester ekuivalen dengan 18 minggu).

Keanggotaan dalam panitia :

Keanggotaan dalam panitia memerlukan komitmen waktu minimal untuk menghadiri rapat. Jika rapat rutin diadakan setiap 2 minggu dan setiap rapat normalnya berlangsung 2 jam maka diperlukan komitmen untuk 1 jam per minggu.

 

Jadi, silahkan dihitung berapa waktu yang harus diluangkan kalau dosen X di Jurusan Y mengajar 20 SKS (60 jam/minggu). Jelas ini melebihi jam kerja yang hanya 40 jam/minggu. Dan apakah ini mungkin dilakukan? ¾ Fakta di lapangan menunjukkan sang dosen mampu mengajar hingga sebanyak itu, dan masih bisa mengerjakan tugas struktural, masih bisa “melirik pekerjaan sebelah”, dan juga masih bisa membimbing mahasiswa kerja praktek, skripsi atau tugas akhir, masih mengurusi program hibah kompetisi. Wow, sungguh luar biasa! Bisa-bisa sang dosen ini tidak pernah tidur.

Kalau pertanyaannya adalah apakah ini normal atau ideal ? ¾ tentu saja jauh tidak ideal. Bagaimanakah kualitas dari tiap-tiap komponen tugas yang dikerjakannya ? ¾ tentu saja jawabnya bermutu (meminjam penyataan Dr. Tulus Warsito dalam mailing list), namun bisa jadi mutunya rendah. Oleh karena itu, masihkah kita menjadi seorang dosen ? ¾ silahkan kita tanyakan pada hati nurani kita masing-masing.

 


Responses

  1. Itu kan hanya aturan asal-asalan saja.
    Lek dipikir dan dibahas malah semakin jelas gak masuk akalnya…

    Muntohar:>>
    Maturnuwun. Insya Allah, peraturan/surat edaran/PP/UU yang dibuat sudah dibuat dengan baik namun masih ada kekurangannya. Bila dilihat dalam sudut pandang kepatutan, memang harus dikaji diantara dua belah pihak yaitu dosen dan peraturannya (baca: pemerintah). Dosen mestinya sadar akan profesionalismenya sebagai dosen, pemerintah mesti profesional terhadap orang yang bekerja padanya. Muara semua aturan main tersebut adalah peningkatan mutu pendidikan tinggi di tanah air. Insya Allah, kalau semua istiqomah dan itqon, dosen tidak bingung dengan “asap dapurnya” yang mengaharuskan melirik “rumput sebelah nan hijau”.

  2. Ternyata ga mudah ya jadi dosen itu….? Salam kenal aja mas.

  3. Gitulah P Ust tugas dosen kita. Makanya terkadang sering lakukan tugas kurang sempurna. MAunya cepat biar dapat ngobyek yang lain. Tapi saya juga punya pengalaman aneh dg mhs. Dalam bimbing Tugas Akhir sering mereka tanya mengenai jadwal konsultasi. Saya skr jawab saja “kalo ada pertanyaan baru konsultasi”. Terkadang jawaban yang lebih ekstrim “karena bayaran bimbing TA per smt cuma 50 ribu, semakin jarang konsultasi semakin bagus”.

  4. Pak Agustian Yth,

    Inilah antara ‘idealita’ dan ‘realita’ kehidupan dosen sangat timpang. Dosen dituntut untuk profesional (ihsanul ‘amal), namun bagaimana bisa jika dapur dirumah tidak berasap, anak-anak tidak bisa sekolah dengan baik. Insya Allah, Allah SWT memberikan jalan terbaik bagi Dosen-Dosen di tanah air.

  5. Kalau sebuah pekerjaan dipilih karena memang sudah menjadi pilihan maka kesadaran terhadap tanggungjawab seharusnya sudah melekat. Kalau ditanya kesejahteraan, sejahtera itu berapa sih? sedangkan sifat manusia tidak pernah puas. Mari kita kembalikan ke hati masing2 mengapa saya mau jadi dosen?

  6. DENGAN MENJALKAN TIGAS DENGAN KEIKHLASAN DAN PENUH TANGGUNGJAWAB MAKA AKAN MENJADIKAN KITA SEORANG PROFESIONAL DAN AKAN MENJADIKAN KITA LEBIH DIHARGAI

  7. Dear Senja dan Noor Fatihah

    Saya rasa ukuran profesionalisme bukan semata-mata sabar, tanggung jawab dan ikhlas. Tetapi lebih dari itu. Ikhlas, tanggung jawab dan sabar lebih berhubungan dengan tingkat kematangan emosional seseorang. Tentunya dalam menghadapi segala sesuatu (termasuk pekerjaan di dalamnya). Bicara profesionalisme pekerjaan, tidak akan terlepas dari mekanisme dan peraturan yang mengaturnya. Produktivitas pekerjaan seseorang tidak bisa diukur berdasarkan kesabaran dan keikhlasan semata. Namun lebih dari itu yang sifatnya terukur dan riil. Salah satunya beban kerja yang diukur berdasarkan waktu, jika waktu yang digunakan untuk bekerja melebihi standarnya jelas itu tidak ideal dan ujung-ujungnya pekerjaan tidak produktif. Tidak bisa menyalahkan jika ‘mutu’ menjadi korbannya.

    Kemudian, mengenai reward. Tidak bisa dipungkiri juga setiap orang memiliki hak dan kewajiban. Jangankan manusia, seluruh elemen di semesta ini memiliki hukum, hak dan kewajibannya masing-masing. Tidak bisa dilepaskan antara hak dan kewajiban ini. Jika seseorang memiliki kewajiban bekerja yang lebih besar tentunya akan berbanding lurus dengan haknya. Bukannya sebaliknya.

    Kalau kita bicara profesionalisme, tentunya keseimbangan antara Hak dan Kewajiban ini menjadi utama. Karena, kewajiban seorang dosen saja sudah ditentukan dan bahkan diundangkan. Bukan hanya mengajar tetapi juga harus meneliti dan mengabdi ke masyarakat. Itu menjadi prosedur utama pekerjaan seorang dosen. Bagaimana dengan Haknya? Tidak bisa kita singkirkan perhatian terhadap Hak itu dan tentunya tidak bisa kita membalas hak seseorang hanya dengan ucapan terima kasih dan bersabar.

    Salam
    -SF-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: