Oleh: Abi Ananda Rasyid | Februari 23, 2007

Dakwah-1


… because I’m Muslim

Alhamdulillah, summer tahun 2006 lalu saya diberi kesempatan untuk “ngangsu kawaruh” di Department of Ocean Civil Engineering, Kagoshima University, Kyushu, Jepang. Universitas ini berada di Korimoto, kira-kira 15 menit dari Kagoshima Chuo naik trem. Kedatangan ke kampus itu dijemput dengan Professor Ryosuke Kitamura yang akan membimbing selama di Kagoshima. Bersyukur kepada Allah diberi anugerah untuk bertemu orang yang mumpuni dibidang “unsaturated soil”. Namun bukan “unsaturated soil” yang ingin disampaikan pada tulisan ini.

Ada yang menarik selama berinteraksi dengan sang sensei tersebut. Adalah minuman sake atau bir sudah menjadi kebiasaannya hingga mahasiswa-mahasiswanya. Satu hari setelah kedatangan, dijadwalkan wellcome party di rumah makan tradisional Jepang yang berada diseberang kampus. Sudah saya perkirakan bahwa bir dan  sejenisnya akan menemani makan malam tersebut. Sudah barang tentu saya pun ditawarkan untuk minum. Ya … karena saya tidak bisa bahasa Jepang, saya hanya mengatakan: “I’m sorry Professor. I cannot drink because I’m Muslim. My religion ban all their scholar drinking”.

[click >>> Dinner Kagoshima untuk melihat suasana lesehan ala Jepang]

Akhirnya sang sensei bisa mengerti, Alhamdulillah sayapun bisa terhindar dari perbuatan tersebut. Memang sulit untuk menjaga iman yang lemah ini. Kawan saya orang Taiwan merayu untuk minum sedikit saja. Alhamdulillah, Allah masih menjaga iman yang lemah ini: “I’m sorry, even only some of drinking I cannor drink it”. Berangkat dari sini, saya mencoba untuk menjelaskan kepada mereka bahwa dalam Islam minuman yang memabukan itu sangat dilarang walaupun itu hanya sedikit. Biasanya orang tidak sadar kalau yang sedikit itulah awal dari menjadi banyak. Saya pun sampaikan beberapa pandangan kesehatan tentang minum-minuman beralkohol. Selama menunggu hidangan santap malam, sang sensei dan mahasiswanya serta teman Taiwan saya sadar dan tahu bahwa minum minuman beralkohol tidak baik untuk kesehatan. Namun mereka sudah tidak bisa meninggalkannya karena alasan tradisi, supaya gaul. Bahkan sang sensei memberikan pendapatnya bahwa dengan minum minuman alkohol hingga mabuk dirinya jadi tahu watak asli mahasiswanya. Inilah yang dilakukan oleh sang sensei untuk mengetaui karakter mahasiswa-mahasiswanya. Namun saya katakan bahwa, watak asli orang yang sedang mabuk itu sangat berbeda sekali dengan yang dimaksud dengan watak asli yang sesungguhnya. Ketika mabuk, orang tidak berada dalam keadaan sadar atau setengah sadar. Maka ia tidak bisa mengkontrol dirinya sendiri dan yang muncul adalah sifat-sifat buruknya “kehewanan” saja. Padahal dibalik watak asli orang itu ada juga wataknya yang sangat asli yaitu kembali pada ketenangan jiwa (maksudnya ‘fitrah’). Ketenangan jiwa inilah yang akan mengendalikan watak asli orang. Ketenangan jiwa hanya akan dicapai bila orang dalam keadaan sadar dan mendekati diri kepada yang menciptakannya.

Perbincangan akhirnya diakhiri karena makanan sudah siap untuk disantap. Bagi saya, menjelaskan Islam kepada mereka adalah sudah menjadi tugas setiap muslim. Terlepas apakah sang sensei mau menerimanya itu adalah hidayah Allah SWT. Setidaknya saya sudah menyinggungkan dirinya dengan Islam. Inilah tugas penting kepada setiap mahasiswa muslim yang berada di luar negeri untuk tidak bosan-bosannya memberikan penjelasan tentang ajaran Islam dengan sabar.

Semoga Allah SWT menguatkan dengan Islam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: