Oleh: Abi Ananda Rasyid | Oktober 6, 2009

IsQ – PUASA


“Islamic Quotient (IsQ)” – Puasa

Dr.Eng. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc.

Jurusan Teknik Sipil, UMY

 

 

Puasa di bulan Ramadhan (as-shiyamu ramadhan) telah dimahfumkan oleh umat Islam sebagai salah satu pilar Islam yang dikenal dengan Rukun Islam. Sudah tertanam disanubari umat bahwa puasa Ramadhan adalah fardhu hukumnya bagi setiap orang-orang Islam, orang-orang yang telah menyatakan keimanannya untuk beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya (QS. Al-Baqarah : 183). Puasa ini sebenarnya adalah kebutuhan asasi manusia yang mana di setiap agama terdapat perintah berpuasa dengan caranya masing-masing. Dalam tuntunan Islam, puasa dilaksanakan dengan tidak makan – minum mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari, dan tidak berjima’ ketika sedang berpuasa di antara waktu yang ditentukan. Ibarat mesin yang telah bekerja sebelas bulan, maka saatnya untuk merawat mesin tersebut selama beberapa waktu. Sungguh Allah SWT sangat pahan akan makhluk-Nya. Telah dimahfumkan pula bahwa puasa diartikan sebagai “menahan” dalam maksudnya menahan diri dari segala hal yang membatalkannya. Pada pemikiran kontekstual, menahan diri ini dapat pula diartikan sebagai pengendalian diri. Mengapa? Puasa Ramadhan ini merupakan ibadah yang sangat khusus perhitungan pahalanya. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya, sebagaimana hadits qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah ra: “Allah SWT berfirman: ‘Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, karena itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya ganjaran“.

Berbeda dengan ibadah lainnya yang secara eksplisit diriwayatkan ganjaran sepuluh kali seperti dalam sholat. Dengan demikian, karena tidak ada anak Adam yang tahu apakah ibada puasanya akan diberi penghargaan atau tidak, maka sudah barang tentu kita harus mampu mengukur kadar puasa Ramadhan ini. Jika tingkat kecerdasan diukur dengan dengan yang dikenal sebagai intellectual quotient (IQ), dan kecerdasan emosional diukur melalui emotional quotient (EQ), maka tingkat puasa ini pula dapat diukur dengan fasting quotient. Pada dasarnya, puasa adalah bagian dari sendi-sendi Islam, maka lebih umum kita mengenalnya sebagai kadar kecerdasan ber-Islam atau Islamic Quotient (IsQ). Islamic Quotient ini sebagai suatu penolok ukur agar kita senantiasa berada pada akhlaq yang mulia. Karena ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW ditujukan untuk memperbaiki akhlaq.

Bila kita menilik kembali hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah tadi, maka terdapat terusan sebagai berikut: “… Dan puasa itu merupakan benteng dari perbuatan maksiat, maka ketika dating saat berpuasa, janganlah seorang berkata keji atau berteriak-teriak atau mencaci maki! Dan seandainya dicaci oleh seseorang atau diajak bertengkar, hendaklah dijawab: ‘Aku ini berpuasa’ sampai dua kali …”. Dengan demikian, kita sudah dapat merumuskan salah satu kecerdasan dalam puasa (IsQ – Puasa) dari riwayat tersebut yang pada hakekatnya adalah pengendalian diri. Mengendalikan diri untuk senantiasa bertutur yang baik selama berpuasa. Mengapa? Boleh jadi orang berpuasa dari makan – minum serta tidak melakukan jima’, secara pengamatan kasat, orang ini masih dikatakan sedang berpuasa karena menahan lapar – dahaga dan syahwat. Namun bila sedang berpuasa melakukan ucapan keji, dusta, dan amal jahat yang diperoleh hanyalah lapar dan dahaga saja (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Para ulama terdahulu dan terkini, mengukur puasa sebagai sarana pembersihan jiwa (tazkiyat an-nafs). Dengan demikian kecerdasan puasa berikutnya adalah pembersihan jiwa. Sehingga, puasa Ramadhan ini benar-benar sebagai Islamic Quotient seorang muslim. Syekh Said Hawwa menyebutkan bahwa pembersihan jiwa ini akan bermuara pada peningkatan iman menuju ketaqwaan. Demikianlah pula puasa yang ditujukan agar anak Adam ini mencapai derajat taqwa. Hakekat dari pembersihan jiwa ini adalah memperbaiki akhlaq guna menggapai ridha Allah azza wajalla. Puasa dapat pula membentuk kesabaran jiwa, kekuatan iradah dan ketaatan kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Kesempurnaan derajat puasa agar memiliki ‘IsQ’ yang tinggi hendaknua terus dicapai. Pertama: menundukkan pandangan dan menahan dari berkeliaran memandang kepada setiap hal yang dicela dan dilarang Allah SWT, sehingga melalaikan dari Allah. Inilah puasa pandangan. Kedua: menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan, dan mengendalikannya dengan diam dan menyibukannya dengan mengingat Allah dan tilawah Al-Qur’an. Inilah puasa lisan. Ketiga: menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang diharamkan karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya. Inilah puasa pendengaran. Keempat: menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang diharamkan ketika berpuasa dan tidak berpuasa. Puasa menjadi tidak tidak berarti bila berbuka dengan barang yang haram. Kelima: tidak memperbanyak makanan ketika berbuka meskipun makanan itu halal hingga pebuh perutnya. Setelah berbuka hendaknya disibukan dengan terus berdzikir kepada Allah SWT.

Sudah saatnya mulai sekarang untuk mengukur kecerdasan berpuasa. Hendaknya pula puasa hari ini lebih baik tingkat IsQ-nya daripada puasa yang kemarin. Momentum puasa Ramadhan 1430 H ini harus dijadikan tonggak bagi ummat Islam untuk membentuk Insan Indonesia yang Cerdas. Tentunya kita tidak menginginkan bahwa puasa Ramadhan ini berlalu meninggalkan kita semua, sedangkan kita belum dapat merasakan kenikmatan berpuasa itu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: