jump to navigation

Orientalis & Diabolisme Februari 26, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Book Review.
1 comment so far
Orientalisme dan Al-Quran, Kritik Wacana Keislaman Mutakhir

imageimageSudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks Al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani,” kutipan ini adalah pernyataan Alphonse Mingana, seorang pendeta Kristen asal Iraq dan mantan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris. Pernyataan itu ia sampaikan tahun 1927.

Mengapa pendeta Kristen yang juga orientalis ini mengatakan seperti itu? Tentu saja, ia bukan sedang bergurau. Pernyataan orientalis-missionaris satu ini karena dilatarbelakangi oleh kekecewaan sarjana Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka dan juga disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci nya Al-Quran.

Perlu diketahui mayoritas ilmuwan dan cendekiawan Kristen telah lama meragukan otentisitas Bible. Mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa Bible yang ada di tangan mereka sekarang ini terbukti bukan asli alias palsu.

Terlalu banyak campur-tangan manusia di dalamnya, sehingga sukar untuk dibedakan mana yang benar-benar Wahyu dan mana yang bukan.

imagePernyataan ini pernah disampaikan oleh Kurt Aland dan Barbara Aland, dalam The Text of the New Testament (Michigan: Grand Rapids, 1995). Menurut Barbara, sampai pada permulaan abad keempat, teks Perjanjian Baru dikembangkan secara leluasa. Yang jelas banyak yang melakukan koreksi.

Pandangan seperti ini tidaklah sendiri. Saint Jerome, seorang rahib Katolik Roma yang belajar teologi juga mengeluhkan fakta banyaknya penulis Bible yang diketahui bukan menyalin perkataan yang mereka temukan, tetapi malah menuliskan apa yang mereka pikir sebagai maknanya. Sehingga yang terjadi bukan pembetulan kesalahan, tetapi justru penambahan kesalahan.

“Mereka menuliskan apa yang tidak ditemukan tapi apa yang mereka pikirkan artinya; selagi mereka mencoba meralat kesalahan orang lain, mereka hanya mengungkapkan dirinya sendiri,” ujar Jerome sebagaimana dikutip dalam The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption and Restoration (1992).

imageimage

Disebabkan kecewa dengan kenyataan semacam itu, maka pada tahun 1720 Master of Trinity College, R. Bentley, menyeru kepada umat Kristen agar mengabaikan kitab suci mereka, yakni naskah Perjanjian Baru yang diterbitkan pada tahun 1592 versi Paus Clement. Seruan tersebut kemudian diikuti oleh munculnya “edisi kritis” Perjanjian Baru hasil suntingan Brooke Foss Westcott (1825-1903) dan Fenton John Anthony Hort (1828-1892).


Gustav Fluegel

Tentu saja Mingana bukan yang pertama kali melontarkan seruan semacam itu, dan ia juga tidak sendirian. Jauh sebelum dia, tepatnya pada tahun 1834 di Leipzig (Jerman), seorang orientalis bernama Gustav Fluegel menerbitkan ‘mushaf’ hasil kajian filologinya. Naskah yang dibuatnya itu ia namakan Corani Textus Arabicus. Naskah ini sempat dipakai “tadarrus” oleh aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain Flegel, datang Theodor Noeldeke yang berusaha merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh Taufik Adnan Amal, juga dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kemudian muncul Theodor Noeldeke yang ingin merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh segelintir kaum Liberal di Indonesia.

Juga Arthur Jeffery yang datang tahun 1937 yang berambisi membuat edisi kritis Al-Quran, mengubah Mushaf Utsmani yang ada dan menggantikannya dengan mushaf baru. Orientalis asal Australia yang pernah mengajar di American University Cairo dan menjadi guru besar di Columbia University ini, konon ingin merestorasi teks Al-Quran berdasarkan Kitab al-Masahif karya Ibn Abi Dawuud as-Sijistaani yang ia anggap mengandung bacaan-bacaan dalam ‘mushaf tandingan’ (ia istilahkan dengan ‘rival codices’). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf Bergstraesser dan Otto Pretzl yang pernah bekerja keras mengumpulkan foto lembaran-lembaran (manuskrip) Al-Quran dengan tujuan membuat edisi kritis Al-Quran (tetapi gagal karena semua arsipnya di Munich musnah saat Perang Dunia ke-II berkecamuk), sebuah ambisi yg belum lama ini di “amini” kan oleh Taufik Amal dari JIL. Saking antusiasnya terhadap qira’aat-qira’aat pinggiran alias ‘nyleneh’ (Nichtkanonische Koranlesarten) Bergstraesser lalu mengedit karya Ibn Jinni dan Ibn Khalaawayh.

Kajian orientalis terhadap kitab suci Al-Quran tidak sebatas mempertanyakan otentisitasnya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster, dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungan Al-Quran (theories of borrowing and influence). Sebagian mereka bahkan berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi ‘teori pinjaman dan pengaruh’ itu, terutama dari literatur dan tradisi Yahudi-Kristen (semisal Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain). Ada pula yang membandingkan ajaran Al-Quran dengan adat-istiadat Jahiliyyah, Romawi dan lain sebagainya. Biasanya mereka katakan bahwa cerita-cerita dalam Al-Quran banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat.

Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan negatif seorang orientalis Inggris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reynold A. Nicholson, ” “Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. Al-Quran] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings-largely consisting of legends from the Haggada and Apocrypha.” Tapi, bagaimanapun, segala upaya mereka tak ubahnya bagaikan buih, timbul dan pergi begitu saja, berlalu tanpa pernah berhasil mengubah keyakinan dan penghormatan umat Islam terhadap kitab suci Al-Quran, apatah lagi membuat mereka murtad.

Kekeliruan & Khayalan Orientalis
Al-Quran merupakan target utama serangan missionaris dan orientalis Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah saw. Mereka mempertanyakan status kenabian beliau, meragukan kebenaran riwayat hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari legenda dan cerita fiktif belaka. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen, dan lain-lain. Karena itu mereka sibuk merekonstruksi biografi Nabi Muhammad saw. khususnya dan sejarah Islam umumnya. Mereka ingin umat Islam melakukan hal yang sama seperti mereka telah lakukan terhadap Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. Bagi mereka, Musa atau ‘Moses’ cuma tokoh fiktif belaka (invented, mythical figure) dalam dongeng Bibel, sementara tokoh ‘Jesus’ masih diliputi misteri dan cerita-cerita isapan-jempol.

Dalam logika mereka, jika ada upaya pencarian ‘Jesus historis’, mengapa tidak ada usaha menemukan fakta sejarah hidup Nabi Muhammad saw? Demikian seru mereka.

Muncullah Arthur Jeffery yang menulis The Quest of the Historical Mohammad, dimana ia tak sungkan-sungkan menyebut Nabi Muhammad saw sebagai “kepala perampok” (robber chief). Usaha Jeffery tersebut diteruskan oleh F. E. Peters dan belum lama ini dilanjutkan oleh seseorang yang menyebut dirinya “Ibn Warraq.”

Missionaris-orientalis tersebut tidak menyadari bahwa tulisan mereka sebenarnya hanya menunjukkan hatred (kebusukan-hati) dan kebencian mereka terhadap tokoh dan agama yang mereka kaji, sebagaimana disitir oleh seorang pengamat; “The studies carried out in the West … have demonstrated only one thing : the anti-Muslim prejudice of their authors.

Sikap semacam ini juga nampak dalam kajian Orientalis terhadap hadits. Mereka menyamakan Sunnah dengan tradisi apokrypha dalam sejarah Kristen atau tradisi Aggada dalam agama Yahudi. Dalam khayalan mereka, teori evolusi juga berlaku untuk sejarah hadits. Mereka berspekulasi bahwa apa yang dikenal sebagai hadits muncul beberapa ratus tahun sesudah Nabi Muhammad saw. wafat, bahwa hadits mengalami beberapa tahap evolusi. Nama-nama dalam rantai periwayatan (sanad) mereka anggap tokoh fiktif. Penyandaran suatu hadits secara sistematik (isnad), menurut mereka, baru muncul pada zaman Daulat Abbasiyyah. Karena itu, mereka beranggapan bahwa dari sekian banyak hadits hanya sedikit saja yang sahih, manakala sisanya kebanyakan palsu. Demikian pendapat Goldziher, Margoliouth, Schacht, Cook, dan para pengikutnya.

Pendapat ini telah banyak dikutip. Diantaranya dalam Muhammedanische Studien (Halle, 1889), On Muslim Tradition,” Muslim World, II/2 (1912): 113-21; Alter und Ursprung des Isnad ,” Der Islam, 8 (1917-18) juga Joseph Schacht dalam , A Revaluation of Islamic Traditions.” (Journal of the Royal Asiatic Society (1949)).

Umumnya para orientalis-missionaris menghendaki agar umat Islam membuang tuntunan Rasulullah saw. sebagaimana orang Kristen meragukan dan akhirnya mencampakkan ajaran Jesus.

Keaslian Al-Quran & Kesalahan Orientalis
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan perlu senantiasa diingat. Pertama, Al-Quran pada dasarnya bukanlah ‘tulisan’ (rasm atau writing) tetapi merupakan ‘bacaan’ (qira’ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. Proses pewahyuannya maupun cara penyampaian, pengajaran dan periwayatannya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Sejak zaman dahulu, yang dimaksud dengan ‘membaca’ Al-Quran adalah “membaca dari ingatan (qara’a ‘an zhahri qalbin, atau to recite from memory).” Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Quran dicatat—yakni, dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya—berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari’muqri’.

Proses transmisi semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Quran sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu ‘alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari ini.

Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan—manuscript evidence dalam bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya—memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.

Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini. Orientalis seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Quran sebagai ‘dokumen tertulis’ atau teks, bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca’ atau recitatio. Dengan asumsi keliru ini (taking “the Qur’an as Text”) mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.

Akibatnya, mereka menganggap Al-Quran sebagai karya sejarah (historical product), sekedar rekaman situasi dan refleksi budaya Arab abad ke-7 dan 8 Masehi. Mereka juga mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang ini tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!), dan karenanya perlu membuat edisi kritis (critical edition), merestorasi teks Al-Quran dan menerbitkan naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada

Kedua, meskipun pada prinsipnya diterima dan diajarkan melalui hafalan, Al-Quran juga dicatat dengan menggunakan berbagai medium tulisan. Sampai wafatnya Rasulullah saw., hampir seluruh catatan-catatan awal tersebut milik pribadi para Sahabat Nabi dan karena itu berbeda kualitas dan kuantitasnya satu sama lain. Karena untuk keperluan masing-masing (for personal purposes only), banyak yang menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau komentar (tafsir/glosses) di pinggir ataupun di sela ayat-ayat yang mereka tulis. Baru di kemudian hari, ketika jumlah penghafal Al-Quran menyusut karena banyak yang gugur di medan perang, usaha kodifikasi (jam’) Al-Quran mulai dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk atas inisiatif Khalifah Abu Bakar as-Siddiq sehingga Al-Quran dikumpulkan menjadi sebuah mushaf, berdasarkan periwayatan langsung (first-hand) dan mutawattir dari Nabi saw. Setelah wafatnya Abu Bakar as-Siddiq r.a. (13 H/ 634 M), mushaf tersebut disimpan oleh Khalifah Umar r.a. sampai beliau wafat (23 H/ 644 M), lalu disimpan oleh Hafsah, sebelum kemudian diserahkan kepada Khalifah Utsman r.a. Pada masa beliaulah, atas desakan permintaan sejumlah Sahabat, sebuah komisi ahli sekali lagi dibentuk dan diminta mendata ulang semua qira’at yang ada, serta memeriksa dan menentukan nilai kesahihan periwayatannya untuk kemudian melakukan standarisasi bacaan demi mencegah kekeliruan dan mencegah perselisihan. Hasilnya dibukukan dalam beberapa mushaf standar yang masing-masing mengandung qira’at-qira’at mutawattir yang disepakati kesahihan periwayatannya dari Nabi saw. Jadi, sangat jelas fakta sejarah dan proses kodifikasinya.

Para orientalis yang ingin mengubah-ubah Al-Quran biasanya akan memulai dengan mempertanyakan fakta sejarah ini seraya menolak hasilnya, menganggap bahwa sejarah kodifikasi tersebut hanyalah kisah fiktif, dan mengatakan bahwa proses kodifikasi baru dilakukan pada abad ke-9 Masehi. Jeffery, misalnya, seenaknya mengatakan, “That he [i.e. Abu Bakr ra.] ever made an official recension as the orthodox theory demands is exceedingly doubtful.” Ia juga mengklaim bahwa “…the text which Uthman canonized was only one out of many rival texts, and we need to investigate what went before the canonical text.”

Ketiga, salah-faham tentang rasm dan qira’at. Sebagaimana diketahui, tulisan Arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun awal Islam, Al-Quran ditulis ‘gundul’, tanpa tanda-baca sedikitpun.

Sistem vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Meskipun demikian, rasm Utsmani sama sekali tidak menimbulkan masalah, mengingat kaum Muslimin saat itu belajar Al-Quran langsung dari para Sahabat, dengan cara menghafal, dan bukan dari tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.

Orientalis seperti Jeffery dan Puin telah salah-faham dan keliru, lalu menyimpulkan sendiri bahwa teks gundul inilah sumber variant readings –sebagaimana terjadi dalam kasus Bibel– serta keliru menyamakan qira’aat dengan ‘readings’, padahal qira’aat adalah ‘recitation from memory’ dan bukan ‘reading the text’.

Mereka tidak tahu bahwa dalam hal ini kaedahnya adalah: tulisan harus mengacu pada bacaan yang diriwayatkan dari Nabi sallallaahu ‘alaihi wa-sallam (“ar-rasmu taab’iun li ar riwaayah”) dan bukan sebaliknya.

Orientalis seperti Jeffery dan kawan-kawan yang bersemangat ingin “mengkorupsi” keotentikan Al-Quran tidak mengerti atau sengaja tidak peduli bahwa Al-Quran tidak sama dengan Bibel; Al-Quran bukan lahir dari manuskrip, tapi sebaliknya; manuskrip lahir dari Al-Quran.

Buku berjudul asli “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran”, ini merupakan kumpulan berbagai artikel Dr. Syamsuddin Arief dari berbagai media massa. Meliputi; jurnal, harian, majalah, seminar dan colloquia. Meski demikian, isinya tidak mengurangi ketajaman dan keutuhan isi kandungannya, yang secara keseluruhan merefleksikan worldview Islam dengan jelas dan gamblang. Tulisan-tulisan ini ditulis disela-sela kesibukannya semasa menjadi mahasiswa S3 di ISTAC Malaysia dan juga ketika menempuh program doktoralnya yang keduanya di “sarang” orientalis di Frankfrut Jerman. Buku ini merupakan monograf perdananya yang kebetulan diterbitkan bertepatan dengan ulang-tahun INSISTS yang kelima pada 9 Februari lalu, momentum yang menandai pertautan antara penulis buku ini dan INSISTS sendiri. [syam/cha/www.hidayatullah.com]

Judul Buku : Orientalis & Diabolisme Pemikiran
Penulis : Dr. Syamsuddin Arif
Tebal : 342 hal.
Harga : Rp. 65.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Pemesanan : Hub. 021 7940381 SMS 08111102549
——————————————————————————–
imageDengan bahasa yang lugas, jelas, dan tegas, serta didukung dengan data-data yang keilmiahannya tak diragukan lagi, buku ini berhasil membongkar berbagai tipe ‘akrobat inetelektual yang selama ini berkedok akademik dan malanmg melintang dalam wacana keislaman. Setiaknya buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang peduli dengan kesantunan berwacana dan bukan kekenesan.
Dr. Anis Malik Thoha – Head of Department Ushuluddin & comparative religions, IIUM Malaysia.
——————————————————————————–
Tulisan-tulisan Dr. Syamsuddin Arif tentang pemikiran Islam dan pemikiran Barat telah membuka cakrawala baru dalam pemikiran Islam di Indonesia. Melalui berbagai tulisannya, ia telah membuktikan sebagai sosok intelektual yang memegang teguh nilai-nilai akademis ilmiah yang tinggi dan sekaligus memegang teguh posisinya sebagai seorang Muslim. Kemunculan Dr. Syamsuddin Arif dalam blantika pemikiran Islam di Indonesia telah mematahkan mitos kaum orientalis dan murid-muridnya di Indonesia, bahwa menjadi sarjana Muslim yang baik tidak harus disertai dengan melepaskan sikapnya sebagai Muslim. Bagi cendikiawan Betawi ini, seorang Muslim bisa menjadi good scholar dan good Muslim pada waktu yang sama. Karena itulah, buku Dr. Syamsuddin Arif ini sangat penting untuk dibaca oleh kaum Muslim di Indonesia.
Adian Husaini MA, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
——————————————————————————–
Tentang penulis:

imageSYAMSUDDIN ARIF. Lahir 19 Agustus 1971 di Jakarta, tamat dari KMI Gontor 1989. Setelah dua tahun mengaji dan mengabdi di Majlis qura wa-l Huffazh, Tuju-tuju Kajuara, Bone (Sulawesi Selatan), menempuh program S1 di Internatioanal Islamic University Malaysia (IIUM) sampai selesai 1996. Ia kemudian menempuh program S2 di International Institute of Islamic Thought and Civilizartion (ISTAC) Malaysia sampai selesai 1999 dengan tesis Ibn Sina’s Theory of Intuition, dibawah bimbingan Alparslan Açikgenç.

Program S3 –juga di ISTAC- berhasil diselesaikannya pada 2004 dengan desertasi berjudul Ibn Sina’s Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Phlilisophical Ideas in 11th Century Islam, di bawah supervisi Paul Lettinck. Saat ini ia tengah menyiapkan disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universität. Franfurt, Jerman. Di samping Arab dan Inggris, bahasa yang telah (dan masih terus) diperlajarinya antara lain Greek, Latin, Jerman, Prancis, Hebrew dan Syriac.

Alam Yang Tak Tertakluk Februari 24, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Geoteknik & Geo-Hazards.
add a comment

Semua yang ada di alam ini adalah atas kehendak Allah SWT. Allah adalah Maha Berkehendak.

Hari Jumat 22 Februari lalu, diajak oleh Professor untuk melihat lereng yang longsor di Kampus NTUST di Keelung. Hujan yang mengguyur lokasi beberapa hari diduga sebagai pemicu longsornya lereng. Professor meminta untuk menganalis kembali mengapa lereng itu longsor. Pada lokasi itu, pernah terjadi longsor 10 tahun yang lalu. Yang menarik adalah longsor ini terjadi bukan pada natural slope tetapi pada reinforced slope — yang mana natural slope telah diperkuat guna meningkatkan stabilitas lereng. Teknologi perkuatan yang digunakan adalah geo-anchor. Secara matematis, setelah perkuatan geo-anchor lereng ini telah memiliki angka keamanan 2 ~ 5. Artinya lereng sangat aman atau sangat stabil. Namun demikian, sangatlah sulit memastikan bahwa suatu lereng itu akan stabil sepanjang masa. Pada lokasi yang sama, dengan penanganan yang sama, masih ada lereng yang tidak longsor. Berarti, hujan bukan satu-satunya pemicu terjadinya longsor. Toh lereng disebelahnya masih tetap stabil atau tidak longsor. Secara teori, stabilitas lereng dipengaruhi oleh trigering factor (seperti hujan, gempa bumi) dan inherent slope factor (seperti kemiringan, struktur geologi, sifat geoteknik dan hydraulic, hydrogeology). Inherent factors ini memang sangat bervariasi antara satu titik dengan titik lokasi lainnya. Dalam arti spatial distribution dari parameter inherent factors ini sangat bervariasi.

Pada bagian lereng yang longsor, terlihat bahwa terjadi kegagalan struktur perkuatan geo-achor. Terlihat kalau anchor tercabut dan konstruksi beton bertulang untuk kepala anchor (anchor-head) rusak — lihat foto. Dari pengamatan lapangan, kegagalan struktur terjadi mulai dari konstruksi lapis kedua (dari bawah).  Kekuatan dari masing-masing anchor ini bisa mencapai 500 kN/m (~50 t/m). Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya energi yang diciptakan oleh alam. Ternyata sekuat apapun yang kita rencanakan untuk menaklukan alam, alam memberikan perlawanan yang lebih dahsyat. Sehebat apapun teknologi untuk mencegah terjadinya bencana, manusia masih belum bisa menaklukan alam. Karena alam itu adalah sunatullah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? — (1) Teknologi hanyalah alat yang seharusnya menjadi sahabat alam bukan penakluk alam, (2) Teknologi diorientasikan untuk mendekatkan kepada sunatullah dan agar manusia dekat kepada Yang Menciptakan alam itu sendiri. Untuk itu menerapkan teknologi yang mengikuti sunatullah adalah suatu solusi — artinya keep our slope green atau green-slope adalah solusi. Lihatlah, lereng yang 10 tahun longsor, ternyata sekarang tidak longsor. Mengapa? — Sebagian besar lereng tersebut telah hijau oleh tumbuhan alam (lihat foto). Boleh jadi pada longsor pertama 10 tahun lalu, lereng justru berada pada titik keseimbangannya.

Fenomena alam seperti tanah logsor, gempa bumi, banjir adalah kehendak Allah SWT. Alam tengah menuju titik keseimbangannya, alam tengah menegur manusia agar mencapai keseimbangan. Mulai saat ini alam adalah keluarga kita yang harus kita jaga, kita pelihara, kita rawat. Janganlah kita termasuk sebagai orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.

Pindah Guest House Februari 19, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
add a comment
Akibat hatuh pingsan hari Sabtu 17 Januari dinihari di koridor kantor laboratorium lantai 7, Professor memindahkan aku ke kamar NTUST Guest-House kamar 1511. Wah … nggak nyangka bisa menikmati ruangan yang memadai untuk istirahat sepulang dari rumah sakit. Sebelum cerita NTUST Guest-House, mau cerita dulu pelayanan di Tri General Hospital tempat saya dirawat. Tapi sayang nggak bawa kamera … jadi nggak ada fotonya (masak iya, orang pingsan sempat bawa kamera …aneh ..). Tahu-tahu saya sudah diturunkan dari mobil ambulance. Kemudian didata dengan cepat dan sigap oleh petugas front -desk di Emergengy Unit, kira-kira hanya perlu waktu kurang dari 5 menit. Kartu identitas bagi foreigner (semacam KTP bagi orang asing, namanya ARC ID) dan kartu asuransi kesehatan NHI sudah disiapkan oleh teman yang mengantar (terima kasih Mas Harki — mahasiswa Ph.D Mechanical Engineering NTUST). Kemudian dibawa ruang tindakan emergency. Tidak berapa lama (kira-kira 5 menit) dokter jaga menghampiri dan melakukan diagnosa. Luka dijari kiri dan pungung tangan kanan akibat pecahan kaca saat jatuh pingsan mesti dijahit, dan bagian kepala dan tangan serta punggung mesti di-X-ray. Kira-kira 5 menit kemudian surat pengantar ke bagian X-ray siap, dan sayapun dibawa ke ruang X-ray dan dipindah ke meja X-ray (seperti tempat tidur). Saya sempat berpikir, wahh…canggih bener ni alat, pasien hanya tiduran saja bisa dilakukan X-ray. Kira-kira 15 menit selesai dengan 3 kali X-ray tangan kanan, 1 kali X-ray dada, 3 kali bagian kepala. Biasanya kalau X-ray diberi negatifnya. Tapi di Tri General Hospital ini, data langsung dikirimkan ke komputer di ruang tindakan di Emergency Unit. Wahhh…ternyata sudah terkoneksi dengan sistem informasi terpadu, jadi hemat biaya dan waktu juga. Setelah selesai X-ray, kemudian kembali lagi ke ruang tindakan Emergency Unit, dokter perlu waktu kira-kira 10 menit untuk diagnosa hasil X-ray. Alhamdulillah, tidak terjadi hal-hal yang parah. Namun, luka tetap harus dijahit. Kemudian, sayapun dibawa ke ruangan operasi kecil. Uniknya, saya melihat semua alat-alat operasi kecil ini sudah terbungkus kain steril hijau dan sudah diberi kode dan tempatnya sudah dikelompokkan di lemari. Operasi kecil kira-kira hampir 1 jam, untuk jari tangan kiri perlu anestasi lokal. Alhasil, 5 jahitan untuk tangan kanan. Untuk tangan kanan cukup 1 jahitan saya, tapi cukup sakit …lah wong nggak diberi anestasi lokal (batin saya …dokternya ngawur nih…). Setelah selesai semuanya, disuruh istirahat di rumah sakit dulu dan dicek tekanan darah. Wah, saya kagum juga alat pengukur tekanan darahnya sudah automatic dan electric. Jadi sang perawat hanya memasangkan dipergelangan tangan, kemudian tekan tombol “on”, mesin bekerja sendiri.Urusan biaya rumah sakit biasanya bikin pusing kantong. Alhamdulillah, biaya rumah sakit kira-kira Rp.1juta. Namun saya cukup bayar Rp.100ribu karena sisanya sudah ditanggung asuransi kesehatan. Wah…betapa mahalnya kalau sakit. Makanya, di Taiwan ini semua mahasiswa dan orang asing wajib punya asuransi kesehatan.Sekarang cerita Guest-House-nya. Guest-house ini terletak di lantai 15 Dorm 2 NTUST. Interior kamar didesain seperti hotel bintang 3. Wah bisa tidur nyenyak sepulang dari rumah sakit. Oya lihat saja ya foto-fotonya.

Wahhh…Guest-house nya memang nyaman. Oya foto-foto lainnya ada di http://muntohar1408.multiply.com.

Salam,

Taipei 18 Januari 2008

印尼生 2年半拚出台科大博士 Februari 18, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
add a comment

印尼生 2年半拚出台科大博士
台科大营建所印尼籍博士班学生阿格西(Agus Setyo Muntohar)。
图/台科大提供
台科大营建所印尼籍博士班学生阿格西(Agus Setyo Muntohar),2年半拿到博士学位,成为台科大以最短时间获博士学位的外籍生。阿格西的指导教授、台科大营建工程系教授廖洪钧说,一般学生至少要3到4年才能拿到博士学位,阿格西只花2年半,不论在本地生或外籍生中,都很难得,除了他底子好,就是「拚命」,「他非常努力」。阿格西最近还挂病号,也是台科大总务长的廖洪钧说,「阿格西太拚了」,不少同学上午8点多来时,阿格西才退出学校,因为他常常睡在研究室。

廖洪钧表示,阿格西研究的主题是坡地防灾,他在印尼时就在大学担任讲师,因有学术背景,,对攻读博士很有帮助。

但廖洪钧认为,努力的动机更是让阿格西2年半就拿到博士学生的原因,已婚的阿格西有2个小孩,离乡背井到台科大念博士,当然想赶快完成学业返国。

廖洪钧曾在国际期刊发表过论文,阿格西看到后,主动跟廖洪钧联络,想到台科大跟他作研究,后来台科大利用5年500亿经费,提供阿格西奖学金,到台湾念书。阿格西说,台科大在营建方面很不错,以土地防灾为研究领域的他,在获得博士学位后已获得之前任教学校的教授聘书。

廖洪钧说,念博士时也研究台湾阿里山公路的阿格西,决定留在台科大进行博士后研究,大约1年。

【2008/02/17 联合报】@ http://udn.com/

Source: http://gb.udn.com/gb/udn.com/NEWS/NATIONAL/NAT4/4220844.shtml

Taiwan News

Taiwan ICDF Scholarship 2008 Februari 8, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
7 comments

Taiwan ICD_LogoHigher Education Scholarship Programs

Taiwan International Cooperative Development Fund (Taiwan ICDF) memberikan 3 beasiswa program S-1, 15 beasiswa S-2 dan 3 beasiswa S-3 untuk beberapa bidang yang telah ditentukan pada 13 universitas di Taiwan yaitu:

A. Program S-1 (Undergraduate):

  1. Program of International Trade and Management di Ming Chuan University: http://www1.mcu.edu.tw/Apps/SB/SB_Site.aspx?PageID=164
  2. Undergraduate Program on Animal and Plant Production for Foreign Agriculturists di National Pingtung University of Science and Technology: http://tve.npust.edu.tw/Department/TropicaLA/english/index-c.htm
  3. International Undergraduate Program in Mechanical Engineering di Kun Shan University of Technology: http://www.ksu.edu.tw/eng/info/ProspectiveStudent/
  4. Undergraduate English Program in Department of Business Administration di National Chengchi University: http://ba.nccu.edu.tw

B. Program S-2 (Master)

  1. Master Program in Clinical Medicine di Kaoshiung Medical University: http://clinicalmed.kmu.edu.tw/
  2. International Nursing Master of Science Program di National Taipei College of Nursing: http://system1.ntcn.edu.tw/Nursing/en_nurs/Taiwan%20ICDF%20Scholarship.html
  3.  International Graduate Program in Agricultural Policy Development and Management di National Taiwan University: http://www.agec.ntu.edu.tw/Web-try/igp-apdm/apdm-main.htm
  4. International Graduate Program of Civil Engineering and Management di National Cheng Kung University: http://www.ncku.edu.tw/ver2006/en/admission/index.htm
  5. International Master Program in Industrial Engineering and Management di Yuan Ze University: http://www.iem.yzu.edu.tw/english/default.htm
  6. International Master of Electric Power Engineering (IMEPE) di National Sun-Yat Sen University: http://www.ee.nsysu.edu.tw/IMEPE
  7. International Environment Sustainable Development Program di National Central University: http://140.115.63.170/ncuec/english/IESD/index.htm
  8. International Master Program in Plastic Injection and Precision Mold di Kun Shan University of Technology: http://www.ksu.edu.tw/eng/info/ProspectiveStudent/
  9. International Master Program in Information Systems and Applications di National Tsing Hua University (NTHU): http://my.nthu.edu.tw/~exten/english/PS_scholarships_TaiwanICDF.html
  10.  International Workforce Education and Development , IWED – Master Degree Program di National Taiwan Normal University (NTNU): http://www.ntnu.edu.tw/iwed
  11. IMBA in Technology Management – Master Degree Program di National Tsing Hua University (NTHU): http://my.nthu.edu.tw/~exten/english/PS_scholarships_TaiwanICDF.html
  12. Master of Science Program in International Health di National Yang Ming University: http://www.ym.edu.tw/ihp
  13. Master  Program for Foreign Agriculturists di National Pingtung University of Science and Technology: http://tve.npust.edu.tw/Department/TropicaLA/
  14. International Graduate Program in Aquatic Sciences and Marine Resources di National Taiwan Ocean University: http://www.aqua.ntou.edu.tw/
  15. International Master Program in Taiwan Studies (IMTS) di National Chengchi University: http://www.css.nccu.edu.tw/mts
  16. International MBA Program di National Chengchi University: http://imba.nccu.edu.tw

 C. Program S-3 (Doktoral)

  1. Doctor of Philosophy Program in International Health di National Yang Ming University: http://www.ym.edu.tw/ihp
  2. Doctor of Philosophy Programs for Foreign Agriculturists di National Pingtung University of Science and Technology: http://tve.npust.edu.tw/Department/TropicaLA/

Catatan: Beasiswa ini mengacu pada “Merit awards” didasarkan kemampuan menonjol dari calon mahasiswa.

Cakupan Beasiswa Taiwan ICDF

Lama waktu beasiswa: 4 tahun untuk program S-1, 2 tahun untuk program S-2, dan 3 tahun untuk program S-3.

Cakupan beasiswa:

  1. Biaya tiket pesawat: tiket pesawat untuk kelas ekonomi pergi dan pulang dari bandara terdekat ke Taiwan.
  2. Asrama: semua mahasiswa diwajibkan tinggal di asrama mahasiswa.
  3. Tuition fee dan Biaya SKS:
  4. Asuransi: setiap mahasiswa wajib ikut program asuransi kesehatan dan keselamatan sesuai aturan Kementerian Pendidikan yang akan ditanggung juga oleh beasiswa ini.
  5. Uang buku
  6. Uang bulanan (allowance): sebesar NTD12,000/bulan (NTD144,000/tahun) untuk S-1, NTD15,000/bulan (NTD180,000/tahun) untuk S-2, dan NTD17,000/bulan (NTD204,000/tahun) untuk S-3. Uang bulanan ini adalah untuk biaya makan dan kebutuhan hidup lainnya.
     

Prosedur Aplikasi Beasiswa

Aplikasi dilakukan melalui Kedutaan Taiwan di negara-negara sahabat. Kedutaan Taiwan akan melakukan seleksi terhadap kualifikasi calon, dan mengirimkan calon yang lolos kualifikasi ke universitas-universitas yang tergabung dalam program Taiwan ICDF (seperti disebutkan di atas). Untuk lebih jelasnya silahkan klik link masing-masing universitas atau link berikut ini: http://www.icdf.org.tw/english/e_affair_train_hr.asp .

Formulir aplikasi beasiswa Taiwan ICDF hanya dapat diperoleh di Kedutaan Taiwan (untuk Indonesia silahkan menghubungi TETO Jakarta — www.teto.or.id).

Semoga bermanfaat.

Salam,

Taipei, winter, February 2008

Agus Setyo Muntohar, Ph.D.

Dosen FT UMY Raih Doktor di Taiwan Februari 8, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
add a comment

News

Universitaria 

07/02/2008 15:56:00 YOGYA (KR) - Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FT UMY), Agus Setyo Muntohar berhasil meraih gelar doktor engineering setelah berhasil lulus dalam ujian promosi doktor atau oral defence, pada Rabu (30/1) lalu di Taiwan. Gelar tersebut diraih di Department of Construction Engineering, National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taipei Taiwan . Kepala Divisi Humas dan Promosi UMY, Twediana Hapsari, Rabu (6/2) mengatakan, gelar doktor engineering berhasil diraih dalam kurun waktu 2 tahun 4 bulan, sehingga keberhasilan itu menjadikannya sebagai lulusan tercepat dalam meraih gelar doktor. Hal ini juga menjadi sejarah kelulusan tercepat untuk meraih gelar Doktor Engineering bagi NTUST?ujarnya. Disertasi yang telah dirampungkan berjudul “An Integrated Rainfall Infiltration and Infinite Slope Model for Predicting Landslide along a Mountain Road in Taiwan” berkaitan dengan prediksi bencana khususnya tanah longsor (landslide), yang menggabungkan teori geoteknik dan probability serta hydrology. Selama kurun waktu kuliah yang ditempuhnya di Taiwan, Agus sudah mempublikasikan 3 paper internasional, 2 dalam jurnal dan 1 dalam international conference yang digelar dalam 4th International Conference on Disaster Prevention and Rehabilitation. Usai meraih gelar PhD, Agus menjawab bahwa bulan-bulan mendatang ia disibukkan di Post-doctoral Research Fellow di Office of Research & Depelopment NTUST. (Fsy)-k  

Source: www.kr.co.id

Lulus Tercepat di Taiwan Februari 6, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
add a comment

Agus Setyo Muntohar

KEDU & DIY

Rabu, 06 Februari 2008

 

Line
PELAJAR Indonesia di mancanegara ternyata mempunyai prestasi tersendiri. Lihat saja dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FT UMY), Agus Setyo Muntohar, yang mengambil program doktoral di Department of Construction Engineering, National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taipei, Taiwan. Dia berhasil menyelesaikan sekolahnya selama dua tahun empat bulan dan merupakan lulusan program doktoral tercepat di kampus tersebut.Judul disertasinya juga sangat menarik yakni mengambil topik tentang bencana tanah longsor, menggabungkan teori geoteknik, probabilitas, dan hidrologi. Dia menamai disertasinya, ”An Integrated Rainfall Infiltration and Infinite Slope Model for Predicting Landslide along a Mountain Road in Taiwan”.”Kelak setelah pulang ke Indonesia, saya ingin membentuk Komunitas Mahasiswa Siaga Bencana Alam (Simba) yang setiap saat siap diterjunkan ke lokasi bencana. Mereka tidak sekadar bergerak tapi juga benar-benar tahu dan paham soal bencana,” tandasnya melalui sambungan telepon.

Saat ini Agus masih berada di sana karena harus menyelesaikan penelitian dengan pemerintah setempat. Selama menempuh pendidikan dia sudah mempublikasikan tiga tulisan internasional, dua dalam jurnal dan satu dalam international conference yang digelar dalam ”4th International Conference on Disaster Prevention and Rehabilitation”. (D19-70)

Source: http://www.suaramerdeka.com/ 

Beasiswa DPU 2008 (New) Februari 5, 2008

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
12 comments

DPUSahabat,

Democratic Pacific Union atau DPU untuk tahun 2008 ini memberikan beasiswa untuk studi di Taiwan. Aplikasi beasiswa ini telah dibuka dan akan berakhir pada 31 Maret 2008.

Berikut persyaratan untuk aplikasi beasiswa DPU 2008:

Siapa saja yang boleh aplikasi?

  1. Semua calon mahasiswa terbaik dari negara anggota DPU (Indonesia salah satunya) diperbolehkan aplikasi beasiswa DPU untuk program Master atau Doktoral di Taiwan.
  2. Calon mahasiswa berkewarganegaraan Taiwan tidak diperkenankan.

 Apa saja persyaratannya? dan Apa saja yang harus dilampirkan dalam aplikasi?

1. Calon pelamar harus berkewarganegaraan dari salah satu negara anggota DPU. Pelamar sebaiknya direkomendasikan oleh:

a. Delegasi dari negara anggota DPU, atau
b. Anggota konggress/parlemen dari negara anggota DPU, atau
c. Kedutaan Besar, Konsulat, atau Kantor Perwakilan Taiwan di negara anggota DPU, atau
d. Kantor Sekretariat International DPU, atau
e. Rektor universitas di Taiwan atau universitas dari negara anggota DPU, atau
f. Mengusulkan secara perorangan.

2. Kemampuan bahasa Inggris: pelamar yang bukan bahasa Inggris sebagai bahasanya harus menyerahkan 1 copy nilai TOEFL.
3. Pelamar melampirkan 1 copy ijazah sarjana (untuk aplikasi program Master) dan copy ijazah sarjana dan master (untuk aplikasi program Doktoral). Bagi calom mahasiswa yang belum akan menerima ijazah sebelum bulan September 2008, harus menyerahkan surat keterangan lulus dan surat keterangan bahwa ijazah akan segera diberikan dari universitas.
4. Beasiswa ini diperuntukan bagi calon mahasiswa yang aplikasi program Master atau Doktoral di Taiwan.
5. Pada waktu yang bersamaan dengan aplikasi beasiswa ini, Calon mahasiswa seharusnya aplikasi program Master atau Doktoral ke universitas di Taiwan.

Berapa besarnya beasiswa yang diberikan?

1. Beasiswa program Master: diberikan untuk waktu 2 tahun sejumlah NTD30000 tiap bulan.
2. Beasiswa program Doktoral: diberikan untuk waktu 3 tahun sejumlah NTD30000 tiap bulan.

Beasiswa ini untuk biaya tuition fee dan living cost. Jadi bagi penerima beasiswa ini, hendaknya memperhatikan berapa tuition fee dan biaya lainnya yang harus dibayarkan ke universitas. Tiap universitas memiliki tuition fee yang berbeda. Penerima beasiswa juga akan mendapatkan biaya tiket pesawat pergi dan pulang untuk kelas ekonomi dari Jakarta ke Taiwan (Taoyuan International Airport atau Kaohsiung Internatioan Airport).

Berapa kuota beasiswa DPU 2008?

Untuk tahun 2008 ini, beasiswa DPU diperuntukan kepada 26 calon mahasiswa terbaik dari semua negara anggota DPU.

Kemanakah aplikasi dikiriman?

Seluruh formulir aplikasi dan lampirannya dikirimkan ke alamat berikut:

DPU International Secretariat Office
c/o Scholarship Program
12F-4 West Wing, No. 51 Heng-yang Road
Taipei 10045. Taiwan
Tel: + 886-2-2313-1028; Fax: + 886-2-2313-1172; Website: http://www.dpu.org.tw/

 Universitas-universitas manakah yang menawarkan English-speaking program?

Berikut ini list universitas-universitas yang menawarkan program dengan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Bagi yang telah fasih berbicara dan menulis serta membaca bahasa Mandarin dipersilahkan untuk mengambil program dalam bahasa Mandarin.

  1. National Taiwan University of Science and Technology (www.ntust.edu.tw): Department of Construction Engineering (M.S/Ph.D),Mechanical Engineering (M.S/ Ph.D), Chemical Engineering (M.S/Ph.D), Computer and Communication Networks (M.S), Computer Science and Information Engineering (M.S/Ph.D), Material Science and Technology (M.S/Ph.D), Automation and Control (M.S/Ph.D).
  2. National Central University (www.ncu.edu.tw): Department of Environmental Sustainable Development (M.S), Physics (M.S/Ph.D), Life Science (Ph.D), Astronomy (M.S/Ph.D), Hydrological Sciences (Ph.D).
  3. National Chengchi University (www.nccu.edu.tw): Department of International Communication Studies (M.S), International MBA (M.S), Taiwan Studies (M.S), China Studies (M.S).
  4. National Chung Cheng University (www.ccu.edu.tw): Department of Psychology (MS/Ph.D).
  5. National Chung Hsing University (www.nchu.edu.tw): Department of Electronic Commerce (MBA).
  6. National Pingtung University of Science and Technology (www.npust.edu.tw): Department of Tropical Agriculture and International Cooperation (M.S/Ph.D).
  7. National Sun-Yat Sen University (www.nsysu.edu.tw): Department of Marine Science (M.S), Electrical Engineering (M.S).
  8. National Taiwan University (www.ntu.edu.tw): Department of Business Administration (MBA), Accounting (M.S), Finance (M.S), International Business (MS), Information Management (MS), Industrial Technology (MS).
  9. National Taiwan Normal University (www.ntnu.edu.tw): Department of Physics (Ph.D), International Workforce Education & Development (MS).
  10. National Taiwan Ocean University (www.ntou.edu.tw): Department of Aquaculture (MS/Ph.D.), Marine Resources Management (MS), Environmental Biology and Fisheries Science (MS), Food Science (Ph.D.), Marine Biology (Ph.D.), Bioscience and Biotechnology (Ph.D.).
  11. National Tsing Hua University (www.nthu.edu.tw): Department of Technology Management (International MBA).
  12. National Yang Ming University (www.ym.edu.tw): International Health (MS).
  13. Ming Chuan University (www.mcu.edu.tw): Department of Management (MBA), Applied English (MS), International Affairs (MS).
  14. Tamkang University (www.tku.edu.tw):  Department of Computer Science and Information Engineering (MS), Management Sciences (MS/Ph.D), Future Studies (MS), International Affairs and Strategic Studies (MS). 
 

Dua universitas terakhir adalah universitas swasta. Hendaknya diperhatikan sewaktu aplikasi. 

Formulir aplikasi bisa download disini: FormDPU_1, FormDPU_2, FormDPU_3

Catatan tambahan bagi sahabat Muslim:

Mohon untuk menghubungi saya melalui jalur pribadi jika aplikasi beasiswa ini. Saya akan berkoordinasi dengan Chinese Muslim Association dan Imam Masjid Besar Taipei. Namun, untuk memudahkan hendaknya meminta Surat Rekomendasi dari organisasi Islam di Indonesia seperti PP Muhammadiyah atau PB NU.

Semoga informasi ini bermanfaatm dan semoga Allah SWT memberikan jalan yang terbaik.

Salam,

Taipei, winter, Februari 2008.

Agus Setyo Muntohar, Ph.D.