Oleh: Abi Ananda Rasyid | Agustus 17, 2007

Taqlid


Taqlid

 

Pengertian Taqlid

Kata “taqlid” adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari kata تَقْلِيْدٌ (taqlidun) yaitu قَلََّدَ (qallada) –  يُقَلِّدُ(yuqolidu) –  تَقْلِيْدًا(taqlidan). Artinya bermacam-macam tergantung kepada letak dan pemakaiannya dalam kalimat. Adakalanya kata “taqlid” berarti “menghiasi”, “meniru”, “menyerahkan”, “mengikuti” dan sebagainya.

Para ulama ‘ushul mendefinisikan taqlid: “menerima perkataan (pendapat) orang padahal engkau tidak mengetahui darimana sumber atau dasar perkataan (pendapat) itu”. Para ulama yang lain seperti Al-Ghazali, Asy-Syaukani, Ash-Shan’ani dan ulama yang lain juga membuat definisi taqlid, namun isi dan maksudnya sama dengan definisi yang dibuat oleh ulama Ushul, sekalipun kalimatnya berbeda. Demikian pula dengan definisi yang dibuat oleh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar yaitu “mengikuti pendapat orang-orang yang dianggap terhormat atau orang yang dipercayai tentang suatu hokum agama Islam tanpa meneliti lebih dahulu benar salahnya, baik buruknya serta manfaat atau mudharat dari hukum itu”.

Dalam menjalani dan menempuh kehidupan dunia ini Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia yang termuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasululllah SAW. Orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang beriman, sedang orang-orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang ingkar (kafir). Allah SWT berfirman

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (QS. Muhammad (47): 33)

 قُلْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ فإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Katakanlah: Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali-’Imran (3): 32)

 وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: “… dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Anfal (8): 1)

Taat kepada Allah ialah mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya yang termuat dalam Al-Qur’an dan taat kepada Rasul-Nya ialah mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW berupa perkataan, perbuatan dan taqrirnya yang diyakini berasal dari beliau yang disebut dengan “Sunnah Maqbulah”.

Sebagaimana diketahui bahwa perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad SAW (As-sunnah), baru ditulis dan dibukukan setelah lebih dari seratus tahun beliau meninggal dunia. Selama seratus tahun lebih itu As-sunnah berada dalam hafalan kaum muslimin yaitu para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan atba’ at-tabi’it tabi’in. As-sunnah yang dihafal oleh sahabat disampaikan kepada tabi’in dan mereka menghafalnya, demikian pula para tabi’in menyampaikannya kepada tabi’it tabi’in, kemudian kepada atba’ at-tabi’it tabi’in, dan yang terakhir diterima oleh para perawi hadits dan membukukannya. Para perawi itu sebelum membukukannya meneliti setiap para penyampai dan penerima As-sunnah itu. Setelah diteliti ternyata ada para penyampai dan penerima As-sunnah itu yang dapat dipercaya dan ada yang tidak dapat dipercaya, ada yang kuat atau baik hafalannya dan ada pula yang lemah dan sebagainya. Lalu para perawi membuat rangking As-sunnah, sehingga As-sunnah itu bertingkat-tingkat, ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang dha’if dan sebagainya. Pada umumnya para ulama tidak menerima sunnah yang dha’if (lemah) kecuali Asy-Syafi’I yang menggunakannya untuk fadla’ilul ‘amal (amalan-amalan utama). Majelis Tarjih dan Tajdid pada umumnya menerima As-sunnah yang shahih dan hasan dengan syarat tidak berlawanan dengan nash (Al-Qur’an dan As-sunnah) yang lebih kuat daripadanya. As-sunnah yang seperti ini disebut “sunnah maqbulah”.

Berdasarkan uraian di atas maka taqlid menurut MTT PP Muhammadiyah ialah: “mengikuti perkataan atau pendapat orang (seperti ulama, syekh, kiyai, atau pemimpin) tentang suatu hokum Islam tanpa meneliti lebih dahulu apakah perkataan atau pendapat itu ada dasarnya atau tidak dalam Al-Qur’an dan sunnah maqbullah. Jika ada dasarnya maka perkataan dan pendapat itu dapat diterima dan diamalkan, sebaliknya jika tidak ada dasarnya, sedang yang mengatakan atau yang berpendapat tetap mengatakan bahwa itu adalah ajaran Islam maka pendapat yang demikian termasuk bid’ah. Orang yang berbuat bid’ah adalah orang yang telah menyediakan semasa ia hidup tempat duduk dalam neraka nanti. Hal ini berdasarkan:

 عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَلَ : مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رواه البخاري و مسلم) 

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda: Barangsiapa yang berdusta atasku, maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya dalam neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Tidaklah sangat sukar untuk menentukan apakah pendapat seseorang itu ada dasarnya atau tidak yaitu dengan mengadakan pembahasan mendalam pada suatu majelis ilmu. Dengan demikian taqlid dan bid’ah itu semakin berkurang dalam masyarakat Islam. Demikian pula para ustadz, para kiyai, para da’i hendaknya menyampaikan kepada masyarakat yang berhubungan dengan ajaran Islam yang benar-benar ada dasarnya.

Hukum Taqlid

Dari ayat Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa taqlid itu tercela hukumnya. Bagi orang yang belum tahu apa-apa tentang ajaran Islam, dan kaum muslimin yang belum sanggup mencari dasar suatu hokum yang disampaikan kepadanya, maka hal itu bukanlah taqlid, dan hendaklah ia menanyakan kepada orang yang lebih tahu.

(Disarikan dari Tanya Jawab, Suara Muhammadiyah, diasuh oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: