jump to navigation

Potret-2 Juni 21, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
1 comment so far

Dua Sisi Tenaga Kerja Indonesia di Formosa

Adalah sunnatullah bahwa dibalik gelap ada terang, dibalik kemiskinan ada kekayaan, dibalik susah ada senang, dan demikian seterusnya. Ibarat roda  yang selalu berputar, kehidupan akan merasakan sentuhan dengan kerasnya jalan.  Demikianlah … juga dialami oleh saudara-saudara tenaga kerja Indonesia di Taiwan ini. Mereka adalah “pahlawan devisa negara” yang tertulis dan dielu-elukan pada saat kedatangannya. Mereka pergi dengan bersusah payah, dan pulangnya (terkadang) diperas.

Kejadian kejadian yang menimpa para nakerwan (tenaga kerja wanita) Indonesia di luar negeri apakah itu di Malaysia, Singapura, Hongkong, Arab Saudi, adalah memiliki karakteristik yang sama. Mereka tidak hanya menjadi perahan di tanah air, namun juga menjadi korban di negeri seberang. Memang tidak jarang para nakerwan ini acapkali menjadi korban para majikannya. Karena mereka berinteraksi langsung dengan majikannya. Sangat berbeda dengan para naker yang bekerja di sektor formal. Masalahnya mengapa ia menjadi korban kekerasan majikan? Apa peran perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri?

Dari pengalaman berinteraksi dengan para naker Indonesia di Taiwan, sangatlah miris bila mendengarkan tutur mereka. Pada kebanyakan kasus selain korban kekerasan, adalah gaji yang tidak dibayarkan, kerja lembur tanpa bayaran, bayaran tidak sesuai kontrak, tidak diberi hak libur. Masalah ini seakan-akan masalah yang rutin dan tidak pernah bisa diselesaikan walaupun dengan aturan yang ketat sekalipun. Jika terjadi masalah dengan para naker ini luar negeri sebenarnya permasalahan itu tidak bisa lepas dari masalah yang ada di dalam negeri Indonesia. Semrawutnya pengurusan keberangkatan dan perlindungan naker yang lemah dan bargaining position Indonesia yang lemah adalah sumber masalah para naker di luar negeri. Di Taiwan, seorang naker hanya bisa bekerja maksimum 2 kali masa kontrak atau maksimum 6 tahun. Namun banyak juga naker yang bisa bekerja hingga lebih dari masa kerja itu bahkan ada yang telah belasan tahun. Bagaimana bisa terjadi ???Kebanyakan mereka menggunakan nama yang berbeda-beda, toh orangnya sama. Artinya satu orang bisa memiliki lebih dari satu passport. Berarti ada kebobrokan sistem di imigrasi dan bagain ketenagakerjaan. Pemerintah Indonesia belum bisa mengelola data naker dengan baik (bad database management). Padahal pakar-pakar manajemen informasi dan ICT di Indonesia bergentayangan sedemikian banyaknya. Kalau naker itu bisa masuk dan bekerja di Taiwan lagi, artinya terdapat kebobrokan sistem pula di Taiwan. Ada kong kali kong antara penyalur tenaga kerja di Indonesia dan penyalur di Taiwan. Sehingga tidak jarang jika ketahuaan polisi imigrasi Taiwan mereka tertangkap dan diinapkan di hotel prodeo di San-xia. Dari beberapa kali pulang-pergi Taipei – Yogyakarta, selalu ketemu dengan naker yang dipulangkan oleh majikan karena bermasalah. Kebanyakan mereka baru bekerja dalam waktu singkat, ada yang baru 1 minggu, satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan. Duh gusti …. uangpun belum mereka raup …. hutang untuk berangkat belum terbayarkan. Memang miris ….paling tidak untuk berangkat ke Taiwan mereka harus merogoh kocek hingga Rp25 juta, jelas ini kelewat dari tarif resmi yang hanya Rp10-15 juta. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung-jawab???

Dari pedampingan dan pembicaraan dengan para naker di Masjid Kecil, Taipei yang mana menjadi markas aktivitas para naker dan mahasiswa muslim Indonesia, memang naker-naker Indonesia ini belum memiliki kualitas sebagai naker yang mumpuni jika dibandingkan naker dari Filiphina. Para naker Indonesia tidak ahli berbahasa Inggris dan minim bahasa Mandarin. Pengetahuan akan komputer juga sangat kurang bagi para nakerwan, padahal tidak jarang para majikan meminta mereka untuk mengawasi anak-anak majikannya. Masalah dengan majikan acap kali timbul karena kurangnya komunikasi dan ketrampilan naker ini. Dan juga kondisi psikologis naker di tanah air ikut terbawa selama mereka bekerja seperti keretakan rumah tangga, hutang yang segunung dll. Artinya pemerintah harus benar-benar selektif dalam penempatan para naker di luar negeri.

Disatu sisi mereka merasakan masalah dan sering menjadi korban kekerasan, namun tidak sedikit yang termanjakan oleh majikannya dan boleh kipas-kipas dengan hasil keringatnya. Jadi jangan heran kalau mereka mempunyai handpone 3G, kamera digital bermerek, handycam berkelas, PDA, dan juga laptop. Bagi yang masih ingat diri, mereka masih bisa meredam memiliki barang-barang itu. Mereka berpikir untuk investasi sebagai modal usaha setelah pulang ke tanah air nantinya. Bagi yang sadar diri, mereka lebih mendekatkan diri ke masjid dan kegiatan-kegiatan pengajian dan pelatihan di masjid yang diberikan oleh para mahasiswa muslim Indonesia. Namun bagi yang lupa diri, tidak jarang mereka membikin ulah di tempat-tempat hiburan seperti pub, karaoke, diskotik yang puncaknya adalah perkelahian masal antar daerah. Nau’udzubillah …. di tanah orangpun masih berbuat onar. Bagi nakerwan yang lupa diri dan terlena dengan kemewahan hidup Taipei, tidak sedikit yang pula membawa serta anak hasil perzinahannya. Tapi … jangan salah lho..tidak setiap yang pulang membawa anak itu hasil perzinahan ada juga yang menikah secara resmi sesama naker Indonesia. Tugas berat bersama adalah mengajak kurang lebih 90 ribu naker Indonesia untuk berkarya positif bagi diri dan bangsa ….

Akankah kasus-kasus naker ini terus bergulir tanpa penyelesaian? Tanya kenapa…..

Taipei, summer Juni 2007

Mulur Mungkret Juni 21, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
add a comment

Ki Ageng Suryomentaram, Filsuf Jawa: Mulur – Mungkret

Alhamdulillah, belakangan ini kesukaan akan membaca kembali buku-buku dan tulisan-tulisan filsafat semakin meningkat. Sewaktu sekolah di  SMA dan kuliah dulu, ilmu filsafat ini dapat dikatakan sebagai induk ilmu. Banyak filsuf-filsuf terkenal yang juga seorang ulama, tenokrat, saintis, ilmuwan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rush. Mengetahui filsafat-filsafat menjadi penting terutama filsafat tentang hidup dan kehidupan. ‘nek dijiwit loro, ojo njiwit’, ‘ojo rumongso gedhe nek durung iso cilik‘ adalah salah satu filsafat hidup Jawa yang menarik sekali. Filsafat lokal ini seharusnya menjadi filsafat global. Ki Ageng Suryomentaram adalah salah seorang filsuf dari tanah Jawa yang berasal dari lingkungan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat cukup banyak menelurkan filsafat-filsafat hidup yang berakar pada kehidupan Jawa di desa Bringin. Berikut ini dikutipkan dua wejangannya yang diambil dari http://www.kompas.com

Mulur

Yang menyebabkan senang ialah tercapainya keinginan. Keinginan tercapai menimbulkan rasa senang, enak, lega, puas, tenang, gembira. Padahal keinginan ini bila tercapai pasti mulur, memanjang, dalam arti meningkat. Ini berarti bahwa hal yang diinginkan itu meningkat entah jumlahnya entah mutunya sehingga tidak dapat tercapai dan hal ini akan menimbulkan susah. Jadi senang itu tidak dapat berlangsung terus-menerus.

Misalnya menjelang hari raya orang ingin membeli sarung baru. Kata hatinya: “Bila aku dapat membeli sarung baru, pasti aku akan bahagia, yakni tetap senang. Pada hari besar nanti, aku dapat melancong ke mana-mana.” Andaikata sarung baru itu dapat dibelinya ia pun tidak akan bahagia, melainkan bergembira sebentar kemudian susah lagi. Oleh karena keinginannya itu mulur, maka ia merasa: “Memang, meskipun sarungnya sudah baru, ikat kepalanya pun harus baru.” Maka ia ingin membeli ikat kepala, tetapi uangnya tidak cukup, maka gagallah keinginannya dan susahlah ia. Demikianlah senang tidak berlangsung terus menerus. Andaikata pun kelak ia dapat membeli sarung dan ikat kepala baru, pasti keinginannya mulur lagi. Hatinya akan berkata: “Sekarang sarung dan ikat kepalanya sudah baru, dan bagaimanakah bajunya? Tidakkah harus baru pula?”

Kemudian bila pakaiannya baru sudah ada, tentu keinginannya mulur lagi. Sandalnya, arlojinya, kendaraannya, rumahnya harus baru pula. Bila semua itu sudah ada, pasti keinginannya akan mulur lagi: “Sekarang semua barang sudah baru, mengapa isterinya masih yang lama saja. Agar tidak dikatakan aneh maka ia mencari isteri baru.” Bila nanti memperoleh isteri baru, pasti mulur lagi: “Anaknya pun harus ada yang baru karena mengapa yang ada hanya anak dari isteri lama saja?” Demikianlah keinginan itu mulur sehingga apabila apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya maka susahlah ia. Jelaslah bahwa senang itu tidak tetap adanya.

Keinginan itu terwujud dalam usaha mencari semat, derajat dan kramat. Mencari semat ialah mencari kekayaan, keenakan, kesenangan. Mencari derajat ialah mencari keluhuran, kemuliaan, kebanggaan, keutamaan. Mencari kramat ialah mencari kekuasaan, kepercayaan, agar disegani, agar dipuja-puji.

Misalnya orang mencari semat/kekayaan agar ia berpenghasilan tetap. Rasa hatinya berkata: “Jika aku berpenghasilan tiap bulan sepuluh rupiah saja, aku tentu bahagia. Tidak seperti sekarang ini, kadang-kadang hanya tiga rupiah, bahkan kadang-kadang juga rugi.” Bila usahanya berhasil, maka dalam kenyataannya ia tidak bahagia, namun hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Ini disebabkan karena keinginannya mulur sebagai berikut: “Ternyata penghasilan sepuluh rupiah ini tidak membuat aku bahagia. Jika berpenghasilan dua puluh ]ima rupiah, barulah aku akan benar-benar bahagia.” Nanti bila sudah memperoleh dua puluh lima rupiah keinginan pun mulur lagi. “Kalau aku hanya menerima dua puluh lima rupiah saja, terang tidak mungkin aku bahagia. Bahkan hal itu akan menambah banyak hutangnya, karena dipercaya untuk membeli dengan bon, hingga ke sana ke sini aku membuat bon. Hanya jika aku berpenghasilan seratus rupiah, baru aku benar-benar bahagia.” Nanti bila ia berhasil memperoleh seratus rupiah keinginannya pun mulur lagi dan ia ingin dua ratus, tiga ratus rupiah. Sampai berpenghasilan beribu-ribu rupiah, berjuta-juta rupiah, masih kurang terus. Demikianlah keinginan itu mulur sampai pada suatu ketika ia tidak mungkin dipenuhi dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap adanya.

Demikian pula dalam usaha mencari kenaikan derajat. Andaikata orang sudah menjadi asisten wedana, pasti keinginannya mulur dan ia ingin menjadi wedana. Kemudian setelah menjadi wedana, tentu keinginannya mulur lagi dan ia ingin menjadi bupati. Sekalipun sudah menjadi raja, ia kemudian ingin menjadi raja dari semua raja. Andaikata terlaksana menjadi raja dari semua raja, pasti hatinya berkata. “Ternyata menjadi raja dari semua raja itu tidak membuat aku bahagia, karena memerintah manusia itu ternyata bukan main banyak kesulitannya.” “Mungkin kalau menjadi raja jin, barulah aku benar-benar bahagia. Bila sudah menjadi raja jin, pasti mulur lagi, ingin menjadi raja binatang, kutu, serangga, yang berupa anjing tanah, kacuak, tokek dan sebagainya. Demikian mulurnya keinginan sampai apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap.

Demikian pula dalam usaha memperoleh kramat atau kesaktian. Misalnya jika orang telah memiliki kesaktian dengan dapat menyembuhkan orang sakit lumpuh dengan meniupnya saja. Ia belum juga bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi, karena mulurnya keinginannya. Hatinya berkata: “Kalau hanya dapat menyembuhkan orang lumpuh dengan meniupnya saja, aku tidak berbahagia. Akan tetapi kalau dapat menghidupkan orang mati, aku tentu bahagia, karena siapapun akan percaya, segan, takut kepadaku dan akan memujaku.” Ia akan berusaha ke sana sini untuk dapat menghidupkan orang mati. PadahaI sekolahnya untuk mempelajarinya tidak ada. Andaikata ia pun berhasil, setelah dapat menghidupkan dua orang saja, maka timbul kekhawatirannya. “Celakalah aku nanti. Jika setiap orang mati kuhidupkan kembali. Mayat-mayat dari mana-mana pasti akan dibawa kemari semua, dan aku disuruh menghidupkannya. Halaman rumahku pasti akan penuh dengan bangkai anjing, babi hutan dan lain-lain. Mungkin kalau aku dapat mengeluarkan sukma dari badan, aku baru benar-benar bahagia. Aku akan dapat melayang-layang mengelilingi dunia melihat negeri Belanda, negeri Cina, tanpa melakukan perjalanan, tanpa susah payah, lagi pula tidak kehilangan uang untuk bekalnya.” Ia akan ke sana ke sini berusaha keras supaya bisa melepaskan sukmanya dari badannya, sedangkan sekolah untuk mempelajarinya belum ada. Andaikata ia berhasil melepaskan sukmanya dari raganya, ia pun tidak akan benar-benar bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi. Hatinya berkata “Susahlah aku bila sukma yang acapkali dilepas itu sampai tidak dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Namun manakala aku bisa menghilang, pastilah aku betul-betul bahagia. Aku akan dapat menggaruk uang di pasar-pasar tanpa diketahui pemiliknya, dan tiap kata ada orang sedang menghitung uang, uang itu kuambil. Dengan tidak usah bekerja, aku dapat memiliki banyak uang, dan apa pun kuhendaki pastilah tercapai”.

Bila ia kemudian berhasil dapat menghilang, tentu keinginannya mulur lagi, sehingga ia ingin bisa terbang, bisa menembus bumi dan seterusnya. Demikianlah mulurnya keinginannya sampai apa yang diinginkannya tidak dapat ia peroleh, maka susahlah ia. Jadi jelaslah bahwa lahirnya keinginan dalam usaha mencapai semat (kekayaan), derajat (kedudukan), kramat (kekuasaan), apabila sudah terlaksana pasti akan mulur. Maka senang itu tidak tetap sifatnya.

Mungkret (menyusut)

Demikian pula rasa susah pun tidak tetap. Karena susah itu disebabkan tidak tercapainya keinginan yang berwujud rasa tidak enak, menyesal, kecewa, tersinggung, marah, malu, sakit, terganggu dan sebagainya. Padahal keinginan itu bila tidak tercapai pasti mungkret (menyusut), dalam arti bahwa apa yang diinginkan itu berkurang baik dalarm jumlah maupun mutunya, sehingga dapat tercapai, maka timbullah rasa senang. Jadi rasa susah itu tidak tetap.

Bila keinginan yang mungkret ini masih tidak terpenuhi, pasti ia akan mungkret lagi. Mungkretnya keinginan ini baru berhenti bila dapat terpenuhi keinginan itu. Tentunya apa yang diinginkan itu memang ada atau mudah diperoleh, sehingga keinginan itu terpenuhi dan timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap adanya.

Misalnya orang lapar ingin makan, tentu dipilihnya lauk-pauk yang serba lezat, seperti daging, telur dan sebagainya. Tetapi bila keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pasti mungkret, sehingga makan nasi dengan garam saja ia sudah senang. Bila nasi dengan garam pun tidak diperolehnya pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga makan ketela bakar saja ia sudah girang. Bila ketela bakar pun tidak ia peroleh, pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga dengan diteguknya air saja, cukup sejuklah lidahnya.

Contoh yang makin jelas lagi ialah bila seorang laki-laki ingin mempunyai seorang isteri, maka dipilihnya tentu yang cantik, masih perawan, kaya, keturunan priyayi, cerdas, berbakti, cermat, cinta suami dan seterusnya. Bila keinginan-keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pun tidak benar-benar celaka, melainkan susah sebentar, kemudian senang kembali. Oleh karena keinginannya mungkret, maka rasanya, “Walaupun syarat pilihanku tidak terpenuhi semua, asal saja cantik wajahnya bolehlah” Jika yang cantik pun tidak diperolehnya, tentu keinginannya mungkret lagi: “Walaupun tidak cantik asal saja masih perawan” Bila ini pun tidak berhasil, mungkret lagi keinginannya “Walaupun seorang janda asal saja belum punya anak.” Bila pilihan ini masih juga gagal, pasti keinginannya mungkret lagi: “Walaupun banyak anaknya, asalkan saja ia sehat” Bila keinginan ini pun tidak terpenuhi, pasti mungkret lagi keinginannya: “Walaupun cacad, asalkan berwujud orang” Padahal mencari isteri dengan syarat asal berwujud orang saja, pastilah tidak sukar, maka ia lalu merasa senang lagi. Dari sebab itulah penderita-penderita cacad, baik laki-laki atau perempuan, banyak yang bersuami/isteri. Sebab satu sama lain berjumpa dalam keadaan sama mungkret keinginannya. Demikianlah menyusutnya keinginan sampai apa yang diinginkan itu tercapai, maka timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap.

Jadi jelaslah bahwa senang dan susah itu tidak tetap. Sebab senang itu disebabkan karena keinginan tercapai, dan keinginan yang tercapai ini mesti mulur sehingga yang diinginkan tidak mungkin tercapai, maka timbullah rasa susah. Kesusahan itu disebabkan karena keinginan tidak tercapai, padahal keinginan yang tidak tercapai ini mesti mungkret sehingga apa yang diinginkan itu mungkin tercapai, maka akan tercapailah keinginan itu dan rasa senang timbul, jadi keinginan itu bila mungkret akan mencapai apa yang diinginkan maka timbullah rasa senang, dan keinginan itu mulur. Mulur ini berlangsung sehingga tidak tercapai apa yang diinginkan maka timbul rasa susah dan keinginan itu mungkret. Mungkret, tercapai, senang, mulur lagi. Mulur, tidak tereapai, susah, mungkret lagi. Maka sifat keinginan itu sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rasa hidup manusia itu sejak muda hingga tua, pasti bersifat sebentar senang sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Wallahu’alam

Taipei, summer Juni 2007 

Beasiswa NTUST (New Updated) Juni 19, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
33 comments

logo-ntust.jpgBeasiswa National Taiwan University of Science and Technology (NTUST)

National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) adalah salah satu universitas di Taiwan yang paling progresif membuka peluang bagi calon mahasiswa di seluruh dunia untuk kuliah program bachelor, master dan doctorate. Pada tahun 2003, universitas ini masuk 10 top asia’s universities versi Asia Week. Sesuai dengan namanya universitas ini lebih memfokuskan pada bidang science dan technology. Bidang-bidang ilmu yang ditawarkan untuk program master dan doctorate di NTUST untuk tahun akademik 2007-2008 adalah sebagai berikut:

  1. College of Engineering: Automation and Control, Materials Science & Technology, Mechanical Engineering, Construction Engineering, Chemical Engineering
  2. College of Electrical & Computer Engineering: Computer & Communication Network Program, Electrical Engineering, Electronic Engineering, Computer Science & Information Engineering (hanya doctorate).
  3. College of Management: Industrial Management, Bussiness Administration, Information Management (hanya doctorate), Finance, MBA.
  4. College of Liberal Arts & School Science: Applied Foreign Languange (hanya master)

Beasiswa ini adalah dari NTUST (bukan dari pemerintah Taiwan) yang mencakup: Tuition waiver (pembebasan beasiswa) dan monthly stipend (master: NTD10,000/month, doctorate: NTD15,000/month).  Beberapa laboratorium yang dikelola oleh Professor menawarkan research assistant (RA) atau teaching assistant (TA) dengan honor per bulan yang bervariasi antara NTD2000 – NTD8000 (bergantung pada laboratorium masing-masing).

Persyaratan yang mesti dipenuhi untuk mendapatkan beasiswa NTUST antara lain:

  1. Calon mahasiswa tidak kewarganegaraan Taiwan, Chinese Overseas, Hongkong, Macau, dan RRC.
  2. Calon mahasiswa tidak pernah dikeluarkan dari universitas di Taiwan sebelumnya.
  3. Melengkapi dokumen-dokumen berikut: Application Form, 1 Copy ijazah S-1 dan atau S-1 dan S-2 , 1 Copy Traksrip S-1 dan atau S-2 (bagi yang mendaftar Doctorate melampirkan copy ijazah dan transkrip S-1 & S-2), Surat Pernyataan Kesanggupan Pembiayaan Studi (Financial Statement). Semua dokumen diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dilegalisir di Kantor Dagang & Ekonomi Taipei (TETO) di Jakarta. Namun untuk pendaftaran, dokumen yang dilegalisir oleh pihak universitas di Indonesia masih diperbolehkan. Apabila diterima dan bersedia untuk studi di NTUST, maka semua dokumen mesti dilegalisir di TETO.
  4. Surat rekomendasi dari dua orang Dosen Pembimbing S-1/S2, atau Rektor dll yang mengetahui persis kemampuan calon mahasiswa dan masih relevant.
  5. Surat keterangan kesehatan paling lama 6 bulan terakhir dari rumah sakit (dalam bahasa Inggris dapat dikirimkan setelah diterima). Pemeriksaan kesehatan meliputi: Chest X-Ray (TBC), Serological test for HIV, Stool Examination for Parasites, Serological test for Syphilis
  6. Rencana studi (study plan) dalam bahasa Inggris (ini hal penting, kemukakan latar belakang, motivasi studi di NTUST, rencana penelitian, manfaat penelitian bagi Taiwan dan Indonesia, tujuan penelitian, dan pengalaman penelitian)
  7. Pendaftaran dapat dilakukan secara online: http://140.118.99.78/FA/Index.aspx 
  8. Batas akhir waktu pendaftaran adalah setiap 30 November untuk masuk spring semester dan 31 Maret untuk masuk fall semester setiap tahunnya.
  9. Guidlines untuk aplikasi dapat di-download melalui link berikut:  http://www.admission-e.ntust.edu.tw/front/bin/ptlist.phtml?Category=2

Walapun tidak disyaratkan secara tertulis, IPK sebaiknya > 3.50 (dari skala 4.00) dan TOEFL score > 550, karena calon mahasiswa mesti bersaing untuk memperoleh beasiswa.

Jika aplikasi tidak dilakukan secara online (disarankan untuk aplikasi online), formulir aplikasi dan dokumen-dokumen dikirimkan melalui surat ke alamat berikut:

<<Nama Department yang diminati>>
National Taiwan University of Science and Technology
No. 43 Sec. 4 Keelung Road, Taipei. Taiwan. 106

Jika mendapatkan beasiswa, mahasiswa mesti harus mengeluarkan biaya per semester untuk pembayaran asrama (dormitory) NTD6000~6200 dan health inssurance NTD4800. Biaya makan sehari-hari biasanya NTD100-150/hari dan sangat bergantung pada kebiasaan masing-masing. Rata-rata biaya hidup per bulan bagi mahasiswa single (belum menikah dan tidak mempunyai tanggungan hidup) adalah NTD6000-8000.

Selamat mendaftar, semoga berhasil.

Pujian Juni 18, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
add a comment

Ketika Manusia ingin Dipuji dan Tidak Rela dipersalahkan ….

Alhamdulillahir roobil’alamin… Inilah awal dari bacaan wajib yang 17 kali dibaca dalam sehari. Bahwa ’segala puji itu hanya bagi Allah Tuhan semesta alam’. Maka tidak ada pujian yang kita tujukan kecuali dan hanya kepada Allah SWT, karena Dia-lah Tuhan yang layak dipuji. Bagaimana dengan manusia?

Seringkali kita terjebak dalam hal-hal ringan yang berdampak terhadap noktah hitam dalam hati. Ketika orang mengkritik, menyalahkan pendapat, atau berseberangan pemikiran, hati kita meradang dan panas. Namun ketika orang mengelus dengan pujian atas pendapatnya, menyanjung atas kedudukannya, membenarkan pendapatnya, hati kita tersenyum manis menjadi hati yang berbunga-bunga dan merasa layak untuk dipuji. Inilah dua sikap kebalikan manusia dan sering saya alami sendiri … memang manusia itu makhkuk yang bodoh lagi zhalim.

Tidak sedikit, orang ingin terus disanjung, dipuji, diagungkan, dielu-elukan dalam hidup ini. Hidup dalam kritikan dirasakannya sebagai suatu kehinaan dan merendahkan martabat. Astaghfirullah …Kalau sudah seperti ini maka nafsu telah menjadi bagian dari hatinya. Penyakit ujub telah mengkotori hati. To be continued ….. 

Rezeki kita Juni 18, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
1 comment so far

Dari Siapakah rezeki kita?

Beberapa  bulan yang lalu, aku bersama 2 orang teman satu laboratorium mengambil data tanah longsor pada ruas jalan T-18 dan T-21 di Ali-shan (Gunung Ali). Namun bukan cerita mengambil data yang ingin dituliskan disini. Sewaktu perjalanan pulang ke Taipei dari Ali-shan, kedua orang teman bertanya kenapa aku menikah dalam usia muda. Mereka membandingkan dengan kondisi Taiwan yang mana rata-rata menikah setelah mapan secara ekonomi — karena tolok ukur mereka adalah materi. Mereka bertanya dari mana aku mendapatkan uang untuk menghidupi anak padahal gajiku tidak mencukupi jika dihitung-hitung.

Sudah sering aku harus terlibat untuk menjelaskan bagaimana Islam memandang hidup ini. Aku tidak langsung menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an — toh mereka pun tidak mengerti. Aku bertanya kepada mereka : “Dari manakah burung-burung itu mendapatkan makanannya?”. Mereka menjawab : “Ya … burung-burung itu terbang kesana kemari, maka dapat makanan”. “Betul” kataku kemudian. Aku menanyakan : “Mengapa burung-burung itu tahu kalau itu makanannya, siapakah yang memberikannya makanan?”. Kedua temanku terlihat bingung dan tidak menjawab. Kemudian kau bertanya lagi: “Dari mana kamu dapat makanan?”. Mereka menjawab : “ya dari orang tua saya”. Kemudian saya teruskan bertanya: “Siapakah yang memberi uang orang tua kamu?. Jawabnya: “dari bekerja di kantor”. “Dari siapakah semua uang itu, makanan, dan sebagainya didunia ini diberikan kepada kita semua kepada alam ini?”. Ternyata mereka tidak bisa menjawab. Kemudian saya jelaskan bahwa semua itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan-lah yang memberikan kita manusia ini hidup dan kehidupan. Mulai dari masa kandungan hingga sekarang ini. Mengapa kalian tidak mau mengenal siapa pemberi ini semua?

Inilah sepenggalan tanya jawab antara saya dan teman-teman Taiwan … dalam pikiran orang-orang yang menganut materialism, tidak akan bisa menjawab pertanyaan tersebut. Bagi kita, sudah jelas disebutkan bahwa Allah -lah yang memberikan semua yang ada di bumi dan di langit. Dia menurunkan hujan, lalu ditumbuhkanlah biji-bijian dari bumi, jadilah buah-buahan, jadilah ia makanan untuk manusia. Sungguh Maha Besar Allah, Allahu Akbar. Tidak ada manusiapun didunia ini yang mampu melakukan itu.

Kembali pada pertanyaan 2 orang teman tadi. Ketika akan menikah, kita berpikir nantinya gaji kita tidak cukup. Ketakutan akan kekurangan atas rezeqi ini seringkali menjadi alasan untuk menunda menikah. Rasullah SAW bersabda yang diriwayatkan dalam Bukhari – Muslim bahwa “makanan 1 orang cukup untuk 2 orang, makanan untuk 2 orang cukup untuk 3 orang”. Subhanallah, ternyata rezeqi Allah itu tidaklah matematika, jika hidup 1 minggu adalah Rp.100.000/orang, dan jika punya uang Rp. 100.000 dipakai untuk hidup 2 orang maka secara matematika akan minus Rp.100.000. Inilah yang tidak pernah disadari oleh makhluk yang lemah ini. Tentu saja sikap bersyukur atas segala pemberiannya dan merasa cukup atas rezeqi saat ini adalah jalan untuk menuju ketaqwaan. Jika saja mau bersyukur dan syukur yang sebenar-benarnya, maka Allah akan menambahkan rezeqi kita. Inilah janji Allah dalam Al-Qur’an. Dan janji Allah itu adalah pasti. Jika saja mau merasa cukup atas rezeqi yang diterimanya saat ini, maka tidak akan terjadi korupsi harta-harta orang lain.

Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang bersyukur atas nikmat dan rezeqi-Nya. Wallahu’alam.

Sarung dan Peci Juni 11, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
1 comment so far

Sepotong Sarung dan Seonggok Peci

Rutinitas ibadah dan kebiasaan di kampung halaman adalah sholat memakai sarung dan peci putih. Setiap sholat Isya, cahaya mataku Rasyid, selalu ikut menyertai ke masjid dengan memakai sarung dan peci seperti abi-nya. Memang sarung dan peci inherent dengan sholat dan muslim. Bagi kita pemadangan bersarung dan berpeci di kampung halaman adalah hal yang biasa dan wajar saja, bukan pemandangan yang aneh atau unik. Namun akan lain ceritanya kalau kebiasaan itu terbawa hingga kita menjelajahi negeri seberang lautan. Apalagi komunitas muslim di negeri seberang sangat-sangat minoritas seperti Taiwan. Sarung dan peci adalah ciri khas muslim dari Indonesia atau Melayu secara umum. Lain Indonesia, lain juga ciri muslim India, Pakistan, Afghanistan, Arab, dan Afrika. Bagi sesama muslim masing-masing ciri khas berbusana ini sudah menjadi maklum dan keunikan tersendiri.

Kisah Pertama

Seperti biasanya, jika tidak terlalu lelah, saya sempatkan untuk berjama’ah maghrib dilanjutkan isya’ di Masjid Besar Taipei. Jaraknya kurang lebih 30 menit berjalan kaki — ini ukuran langkah saya lho … atau kalau bersepeda kira-kira 15 menit. Kalau maghrib dan isya’ ini, cukup membawa peci putih saja tidak usah bersarung karena harus berangkat masih agak sore. Suatu ketika sepulang dari masjid, biasanya peci masih melekat di kepala hingga sampai kamar, ketemu dengan Dean of College of Engineering, Prof. Ou-Chang Yu, dari jauh ia melihat keheran-heranan. Kemudian setelah agak dekat, saya menyapanya: “Good evening Professor”. Sang dekan bertanya: “Agus, What happen your head? Are you injured?”. Dalam batin saya tertawa mendengar pertanyaan sang Professor tadi. Kemudian saya jelaskan, “Ohh, I’m very fine Professor. This white hat is commonly wear when I am praying. And it is one of muslim identity. In my country, it is common. mei wen ti lao zhe (ini ejaan pinyin dari bahasa Mandarinnya: tidak ada masalah Prof.)”. Walaupun hanya sebentar, saya masih sempat menjelaskan sedikit tentang Islam di Indonesia.  Alhamdulillah, peci ini bisa menjadi ketertarikan orang untuk awal berinteraksi dengan Islam. Seonggok peci putih yang bermakna dalam dakwah.

Kisah Kedua

Dua minggu lalu, untuk sholat subuh saya berusaha di Masjid. Biasanya kalau subuh begini, harus berangkat paling tidak jam 03.30 AM karena subuh nanti jam 04.02 AM. Kebetulan hari itu adalah akhir pekan, biasalah mahasiswa-mahasiswi masih ada yang mojok hingga jam segitu. Aneh ya …. itu nggak satu, dua lho tapi berjamaah didepan asrama dan di taman. Rute untuk ke masjid, dari kamar, pertama harus melalui depan asrama dan taman untuk seterusnya naik sepeda ke masjid. Pagi buta itu, saya bersarung, pakai peci putih dan berjaket lewat didepan para muda-mudi tadi. Risih juga sih sebetulnya lewat didepan mereka. Tapi yang menariknya … mereka malah ngeliatan saya sambil nunjuk-nunjuk sarung. Nggak tahu apa yang ada dibenak mereka, tapi akal saya mengatakan bisa saja mereka merasa aneh kok ada laki-laki pakai rok. Aneh …

Yah … itu lah kisah sepotong sarung dan peci. Semoga bisa memperkenalkan Islam dengan baik di Taiwan khususnya masyarakat kampus.

Taipei, summer 10 Juni 2007.

Solidaritas Juni 10, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
1 comment so far

Belajar dari Ahmed Ragheeb

Sabtu, 8 Juni kemarin selepas sholat Isya di Masjid Besar taipei, sewaktu mau menaiki sepeda, seseorang menyapa: “Assalamu’alaikum, where is muslim restaurant near here?”. Saya katakan: “The muslim restaurant is far from here, it’s about 30 minutes on foot. But, there is Indonesian restaurant beside this Masjid. They bought halal meat, beef and chicken, from Masjid”. Kemudian saya antarkan tamu tadi hingga ke depan toko dan warung makan Indonesia di sebelah Masjid. Setibanya didepan toko, ia bertanya lagi: “Is the owner Muslim?”. Tentu saja saya katakan: “No, they’re not Muslim”. Langsung saja ia mengajak saya pergi dan meminta untuk menunjukkan tempat makan yang mana penjualnya adalah Muslim. Saya ingat ada Muslim daei Mesir yang berjualan roti kebab di Gongguan. Karena tamu ini mengaku dari Mesir, maka sayapun menawarkannya untuk ke sana. Alhamdulillah ia pun menyambut dengan sangat baik sekali.

Dalam perjalanan berjalan kaki, sempat bincang-bincang dengan beliau. Ia adalah Ahmed Ragheed, seorang General Manager Hong Kong VTech yang berkantor di Zhenzenm China. Mengapa ia tidak mau makan di toko tadi. Ternyata … solidaritas terhadap saudara Muslim inilah yang menjadi alasannya. Jadi kata kunci yang ingin saya berbagi adalah “solidaritas terhadap saudara Muslim”. Bagi saya peristiwa ini menjadikan pelajaran yang menarik. Padahal kalau  makan di toko tadi, paling hanya habis NTD100-150. Akal saya ketika belum berbincang dengan tamu tadi, mengatakan ‘kan … pemilik toko tadi membeli daging dari masjid, berarti halal. Jadi hanya sebatas halal dan haramnya makanan. Tapi ternyata tidak hanya sebatas itu bagi tamu tadi. Sekecil apapun uang yang dikeluarkan untuk orang diluar Muslim sama dengan memberikan nafkah kepada orang non-muslim itu. Bukankan, orang-orang kafir, Yahudi, Nasrani tidak akan berhenti memusuhi Islam hingga orang-orang Islam mengikuti milah-milah mereka? — Ternyata inilah yang mendasari mengapa tamu tadi tidak mau membelanjakan uangnya di toko tadi dan memillih berjalan kaki 30 menit berbelanja di tempat saudaranya Muslim. Tamu tadi tidak ingin kalau uangnya nanti dimanfaatkan oleh orang non-Muslim (baca: nasrani, Yahudi) untuk memerangi dan memusuhi Islam. Sikap wara’ dan hati-hati inilah yang kemudian melahirkan solidaritas tamu tadi kepada saudaranya Muslim. Walaupun harus berjalan kaki 30 menit hanya demi membelanjakan paling NTD200, namun misi Islam lainnya juga akan didapati yaitu silahturahim dan ukhuwah. Subhanallahu ….

Tidak terpikir oleh akal saya … padahal tidak jarang beberapa saudara saya pelanggan tetap toko tadi, dan toko tadi tidak pernah sepi dengan pelanggan-pelanggan Muslim lainnya. Kalau saja, saudara-saudara Muslim di Taipei ini rajin berbelanja ditempat saudaranya Muslim , Insya Allah usaha dagangnya akan maju. Wallahu ‘alam ….. akan berada dimanakah kita ?

Taipei, 8 Juni 2007