jump to navigation

Kuliah di Taiwan Maret 22, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
11 comments

Berkaitan dengan banyaknya QA tentang beasiswa untuk sekolah di Taiwan, berikut ini saya copykan informasi dari sahabat yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Taiwan. Semoga cerita pengalamannya bisa menjadi tips untuk meraih Master atau Doktor. (Saya sendiri siihhh… hanya dapat beasiswa dari kampus, Alhamdulillah cukup untuk makan, beli laptop, pulang ke Indonesia tiap semester, dll).

Beasiswa Kuliah di Taiwan

Beberapa tahun belakangan ini, Taiwan mulai terbuka dengan sistem pendidikkannya dengan membuka program-program internasional yang sebagian atau seluruhnya menggunakan English sebagai bahasa pengantarnya. Dari tahun ke tahun semakin banyak mahasiswa internasional yang kuliah di sini. Hampir semua jurusan dibuka untuk mahasiswa asing, meskipun ada beberapa matakuliah hanya ditawarkan dalam bahawa mandarin. Bahasa Mandarin dalam hal ini bisa dianggap sebagai momok maupun sebagai opportuniti sebagai competitive advantage. Bahasa Mandarin banyak prediksi diungkapkan kl bahasa ini akan menjadi bahasa kedua seiring berkembangnya bisnis China menjadi raksasa ekonomi dunia, bahkan sekarang udah mengeser Inggris.

Untuk belajar ke Taiwan, ada beberapa kesempatan beasiswa:

  1. Taiwan Government Scholarship. Kuota beasiswa ini untuk sementara tiap tahunnya kurang lebih 7-9 orang (sy ngak tahu dasar penentuannya), untuk undergraduate, master, dan Ph.D degree. Untuk tahun kemarin (2006/2007) masing2 per bulan sebesar NTD25,000 untuk undergraduate dan NTD30,000 buat master&PhD degree. informasi selanjutnya bisa dibuka www.studyintaiwan.org dan www.teto.or.id


Cara pendaftaran beasiswa ini.

Pendaftaran beasiswa ini melalui KADIN nya Taiwan yang ada di Jakarta ato TETO (Taipei Economic and Trade Office). Pendaftaran dibuka biasanya antara akhir pertengahan januari-maret awal. Pada prinsipnya beasiwa ini terpisah dengan universitas yang didaftarnya, belum tentu memperoleh beasiswa meski admitted di universitas, dan sebaliknya. Persyaratannya (harap dikonfirmasi lagi):

1.       Ngisi formulir beasiswa Taiwan Government Scholarship (TGS). Form ini tersedia di TETO ato dapat di download di http://www.edu.tw/EDU_WEB/EDU_MGT/BICER/EDUANDY001/english/TS_intro.htm?open

Kalo ngak mau meningat-ingat ato lupa, search aja di google.com dengan key word: Taiwan government scholarship

2.       Ijasah dan Transkrip pendidikan terakhir.

3.       TOEFL Score/English proficiency score

4.       Chinese proficiency score (bagi yang ngambil bidang/jurusan dengan pengantar bahasa Chinese)

5.       Surat Rekomendasi (jika tersedia), baik atasan, professor, pemuka masyarakat di Indonesia

6.       Admission letter dari universitas yang dituju (ini bisa menyusul, jika pada saat pendaftaran beasiswa masih menunggu pengumuman admission dari univ)

Pendaftaran ditujukan ke TETO:

Taipei Economic and Trade Office in Indonesia
Lantai 17 Gedung Artha Graha, Jalan Jendral Sudirman,
Kav. 52-53, Jakarta 12190, Indonesia

Tel:(002-62-21) 515-3939, Fax:(002-62-21) 515-4626

Personal Contact: Mr. Rudi Tan (kalo belum ganti)

  1. University Scholarships. Beasiswa ini dikelola langsung oleh universitas dan besarnya bervariasi tergantung universitas yang bersangkutan, tetapi biasanya mencover tuition fee, dormitory, dan ditambah uang saku NTD10,000 per bulan. Dalam kasus tertentu, banyak professor yang memberi beasiswa secara pribadi (dilibatkan proyek tertentu). Daftar universitas dan informasi selanjutnya bisa dilihat di website www.studyintaiwan.org
  2. Democratic Pacific Union. Beasiswa ini besarnya sama dengan beasiswa pemerintah dan informasi selengkapnya dapat dilihat di www.dpu.org.tw. Beasiswa ini jarang yang tahu, karena memang pendaftarannya langsung ke Taiwan dan tidak ada pengumummannya di Indonesia (setahu saya)

TIPS CARI SEKOLAH di TAIWAN

  1. Pastikan dulu jurusan ato topik riset yang anda minati. Semua jurusan tersedia di Taiwan, cuma masalahnya, jika tidak menguasai mandarin, apakah program itu ditawarkan dlm english ato tidak. so, pastikan dl dgn bertanya ke univ yg bersangkutan, by email ato tanya Indonesian yg ada di kuliah ato pernah kuliah di sana.
  2. Note: selain itu, misalkan tersedia banyak pilihan, dan ingin mempertimbangkan berdasarkan rangking, itu sah2 saja. Ranking yg tersedia skrng baru mengambarkan secara umum smua jurusan. Seharusnya juga perlu ada khusus per bidang, sehingga tidak begitu menyesatkan. Meski ranking itu udah mengambarkan kebijakan n resourse yg dipunyai oleh univ tsb, n tentu saja reputasi.
  3. Setelah itu untuk bs memperbesar kans diterima, hubungi professor yang diminati. Hal ini biasanya di webnya tersedia faculties n jg daftar topik riset dr professor td. beberapa kasus, ada temen yg menyodorkan skripsi ato risetnya waktu di S1/S2. Jadi tidak ada salahnya mencoba sodorkan skripsi waktu S1/S2 jika lom punya ide lain.
  4. Langkah berikutnya, daftar ke univ dengan melampirkan rekomendasi dari prof tadi. Clue lagi: rekomendasi profesor2 dari indo jg mendukung skali untuk memperbesar kemungkinan diterima.
  5. Tanpa 4 di atas sebenarnya bisa lancar2 saja dengan catatan, secara administrasi (IPK, TOEFL, GMAT, etc) bagus.
  6. Trus bagi yg perlu beasiswa (aq pikir, hampir smua Indonesian suka yg namanya beasiswa, baik yg kaya or miskin, ngakunya smua miskin, hehehhe) bisa dilihat di artikel bawah di atas.

Semoga informasi di atas bermanfaat dan kita bersama-sama memajukan pendidikkan Indonesia.

Suyanto

MBA Program

College of Management, National Taiwan University

Email: s.suyanto@yahoo.com   HP: +886 95702 6838

Landslideducation Maret 8, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Geoteknik & Geo-Hazards.
add a comment

Seri Pendidikan Bencana Alam untuk Anak-Anak Sekolah Dasar: Mengenal Tanda-Tanda Awal Tanah Lonngsor

Bangsa kita, Indonesia, telah hidup ditengah-tengah bencana. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha meminilkan kerugian dan korban akibat bencana alam tersebut. Sistem manajemen bencana yang terpadu dan tersusun dengan baik dan rapi adalah syarat mutlak bagi bangsa yang besar ini. Pengenalan tanda-tanda awal (earlier signs) bencana alam seperti gemba bumi, tanah longsor, tornado, banjir, kekeringan dan lain-lain sudah selayaknya diberikan kepada anak-anak kita sejak dini.

Berikut bahan yang bisa digunakan untuk menjelaskan tanda-tanda awal tanah longsor kepada anak-anak kita. Semoga bermanfaat.

Landslide Education for Kids

Sarapan (Pagi) Musibah Maret 7, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
6 comments

Good Lucky ataukah Good Management

Dua hari belakangan ini, bangsa kita disuguhi dengan sarapan musibah. Yah… hari gini masih pengen makan enak……

Pagi ini, Rabu 7 Maret 2007 pesawat Garuda GA200 PK-GZC mendarat dengan keras (hard landing) di bandara Adi Sucipto Yogyakarta akibatnya pesawat ‘ngeluyur’ sampai ke sawah di ujung landasan dan terbakar. Korban jiwapun tak terhindarkan.

Pagi hari sebelumnya, Selasa 6 Maret 2007, bangsa kita menikmati ’sarapan’ gempabumi tektonik di Padang Sumatera Barat. Gempa berkekuatan 6.4 SR diperkirakan akibat pergerakan patahan Semangko yang membujur Sumatera. Korban jiwapun pasti tak terelakan. Tahun lalupunYogyakarta dihentakan dengan gempa dahsyat Sabtu 27 Mei 2006 dipagi hari.

Gempa SolokGempa YogyakartaGaruda GA200 PK GZC

Gambar: Gempa Solok (060307), Gempa Yogyakarta (270506), Kecelakaan GA200 PK-GZC (070307)

Itulah rentetan musibah dan bencana yang terus silih berganti menggelayuti bangsa kita, Indonesia, yang dikenal lebih santri (baca: relijius), bangsa yang beragama. Di Taipei, teman-teman mahasiswa muslim Indonesia sering mengelus dada seraya bernyanyi”…itulah Indonesia …”. Mengapa bencana dan musibah datang sedemikian seringnya di negeri yang beragama ini? Inilah pertanyaan yang sering muncul dibenak kita semua. Ulama menenangkan ummatnya dengan menjelaskan bahwa semua bencana dan musibah adalah atas seijin Allah SWT. Dia-lah yang menguasai seluruh yang ada di semesta ini. Kita makhluknya hanya diberikan amanah untuk menjalankan tugasnya sebagai hamba dan khalifah agar bumi ini tidak rusak. Marilah kita renungkan firman-firman Allah SWT dalam Kitab-Nya yang Agung, Al-Qur’an :

 

 

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura [42]: 30)

 مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghaabun [64]: 11)

Membaca ayat-ayat tersebut memang sudah jelas bahwa musibah yang menimpa manusia adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri (human error or bad-management) dan juga atas ijin Allah SWT (supreme power). Wilayah manusia adalah menggarap apa yang memang menjadi tanggung jawabnya yaitu perbuatannya. Urusan ijin Allah (baca: takdir) itu bukan urusan manusia.

Ada yang menarik dari perbincangan dengan teman-teman mahasiswa muslim Indonesia di Taiwan melalui milist fosil-mmit@yahoogroups.com. Saat ini tengah bertarung “Good Lucky” vs “Good Management”. Hampir semua musibah kecelakaan yang terjadi dapat dimasukkan kedalam human error atau bad-management. Mulai dari tidak tertibnya mengguna jasa, nakalnya operator, ’selingkuhnya’ regulator dengan operator. Ketika pesawat Adam Air KI-176 PK-KKI hilang ditelan langit Sulawesi, semua orang tahu akibat buruknya management dan perawatan pesawat tersebut. Dari umurnya saja pesawat itu harusnya mulai dipensiunkan, apalagi kalau dilihat rekam jejak pesawat tersebut, terus kalau yang sudah pernah naik pesawatnya pasti setuju kalau pesawat itu memang baru di’pernak’ (refurbish). Kebetulan pernah juga saya naik Adam Air dari Yogyakarta ke Jakarta. Kemudian orang beramai-ramai beralih ke Garuda yang disangkakan management dan perawatannya lebih baik daripada maskapai swasta nasional lainnya dan umur rata-rata pesawat Garuda pun lebih muda. Sewaktu pulang liburan musim dingin, Januari 2007 lalu, benar saja tiket Garuda laris manis yang biasanya saya masih kebagian tiket Jakarta – Yogyakarta jam 16.06 WIB dengan pesawat GA 210, tiket pesawat yang malampun tidak didapatkan lagi. Memang orang telah benar-benar yakin kalau pesawat Garuda lebih baik dan aman sampai-sampai sang isteri tercinta disetiap telepon dan sms-nya berpesan “naik Garuda saja jangan yang lainnya”.

Ternyata, peristiwa di pagi hari ini menunjukkan bahwa wajah transportasi kita ini memang benar-benar “good lucky” bukan karena “good management”. Jadi pesawat lainnya tinggal menanti giliran (Ya… Allah semoga tidak terjadi musibah yang lebih buruk lagi, cukuplah ini menjadi pelajaran bagi kami.)

Mutu PTM Maret 2, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Seputar Dunia Akademis.
add a comment

Mutu dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Pada artikel sebelumnya, saya menulis tentang tugas dan apa pekerjaan dosen. Melanjutkan tulisan sebelumnya, tulisan ini mengajak semua komponen di perguruan tinggi untuk menyadari akan pentingnya peningkatan mutu pada setiap komponen pendidikan, penelitian, dan pengabdaian kepada masyarakat atau lebih dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Artikel ini sebenarnya disiapkan sewaktu diskusi internal di Badan Kendali Mutu pada tahun 2004 lalu. Namun demikian, saya berharap tulisan ini menggunngah kembali perhatian kita terhadap mutu. Artikel ini tidak ingin mengajari para sejawat yang telah berhasil dengan proyek hibahnya.

Baca lanjutnya (klik: Mutu dalam PTM)

Nasib Profesor Maret 2, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Seputar Dunia Akademis.
5 comments

Ahmad Syafii Maarif : Nasib Profesor di Indonesia

ImageSeorang profesor yang sudah berdinas sekitar 40 tahun, dihitung sejak pertama kali mengajar di perguruan tinggi, menerima gaji kurang lebih Rp 2,7 juta per bulan, atau lebih sedikit tergantung kepada ukuran keluarga yang masih berada di bawah tanggungannya. Sekiranya sang profesor masih punya tanggungan anak yang kuliah satu atau dua orang, Anda bisa membayangkan betapa sulit baginya untuk mengatur bujet rumah tangga. Atau, bahkan tanpa berutang, dapur bisa berhenti berasap, karena pendapatan setiap bulan benar-benar berada dalam sistem ”menghina”.

Bandingkan dengan seorang anggota DPRD di daerah yang punya PAD (Penghasilan Asli Daerah) tinggi, yang menerima gaji sekitar Rp 40 juta per bulan. Tidak peduli apakah anggota ini punya ijazah asli atau palsu yang belum ketahuan, pendapatannya sama.

Untuk menandingi perdapatan per bulan anggota DPRD yang terhormat ini, seorang profesor harus bekerja sekitar 15 bulan, baru imbang. Inilah panorama kesenjangan yang amat buruk yang berlaku sampai sekarang. Jangankan dengan wakil rakyat dengan PAD tinggi, di daerah minus sekalipun, dengan pendapatan sekitar Rp 5 juta per bulan, seorang profesor botak tidak bisa menandingi.

Memang, ada sejumlah kecil profesor atau doktor yang punya penghasilan tambahan yang cukup tinggi sebagai konsultan, dosen di luar negeri, merangkap jadi anggota DPR, komisaris atau penasihat bank, ikut proyek, atau mengajar di beberapa tempat, dan lain-lain. Tetapi, standar gaji mereka, ya seperti tersebut di atas itu.

Dengan kenyataan seperti itu, mana mungkin seorang profesor punya karier akademik yang menjulang tinggi. Dana untuk beli buku sudah tersedot untuk kepentingan survival, sekadar bertahan hidup. Nasib saya pribadi karena pernah memberi kuliah di Amerika Serikat, Malaysia, dan Kanada, plus anggota DPA selama lebih sedikit lima tahun, memang agak mendingan. Ditambah lagi jumlah anak dan istri tunggal. Sewaktu belajar di Chicago, istri saya juga sempat bekerja sebagai baby sitter (pengasuh anak) dengan penghasilan yang lumayan. Dengan kondisi ini, kami bisa menabung. Penghasilan lain juga datang dari sumber-sumber lain, seperti dari menulis dan bantuan teman.

Sekiranya penghasilan saya hanya sebagai seorang profesor dengan golongan IVe sekalipun, saya hanya akan gigit jari bila berkunjung ke toko buku. Paling-paling hanya lihat daftar isi, dan kalau ada waktu baca kesimpulan buku itu. Setelah itu pulang sambil mengenang alangkah bagusnya buku itu.

Tulisan ini tidak ingin memberi kesan bahwa seorang profesor itu perlu diberi perhatian khusus. Sama sekali tidak. Tetapi makhluk yang satu ini, apalagi mereka yang mendapatkan PhD di luar negeri, adalah pekerja keras dengan membanting otak selama bertahun-tahun. Tugasnya kemudian adalah untuk turut ”mencerdaskan kehidupan bangsa” pada tingkat perguruan tinggi.

Pemegang PhD setelah pulang ke Tanah Air tentu harus berpikir keras lebih dulu bagaimana agar rumah tangga bisa bertahan. Urusan buku terpaksa menjadi agenda nomor sekian. Padahal tanpa buku dan jurnal, seorang pemegang PhD pasti akan kehabisan stok, tidak bisa meng-update (menyegarkan) ilmunya. Akibatnya, buku-buku terbitan puluhan tahun yang lalu dikunyah lagi untuk bahan perkuliahan.

Dengan kenyataan seperti ini, mana mungkin orang dapat berharap kualitas perguruan tinggi kita akan terbang tinggi dibandingkan dengan mitranya di negara tetangga saja. Kualitas pendidikan kita sudah terlalu jauh di bawah standar, termasuk perguruan tinggi yang biasa disebut sebagai pusat keunggulan.

Dengan rendahnya mutu lulusan kita, akan sangat kecil kemungkinan bangsa ini akan mampu bersaing pada tingkat regional untuk mengisi lapangan kerja yang terbuka lebar sebenarnya. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris yang sangat lemah bagi lulusan kita menambah lagi daftar buruk kita untuk mampu bersaing di dunia kerja untuk perusahaan-perusahaan asing di kawasan Asia Tenggara, misalnya.

Sebagai perbandingan, di Malaysia gaji seorang profesor penuh (full professor) hampir dua kali lipat gaji anggota parlemen federal. Di Indonesia gaji seorang anggota DPR pusat sekitar 19 X lipat gaji seorang profesor penuh per bulan. Maka, orang tidak boleh kaget lagi jika dunia akademik dan keilmuan kita semakin suram dan buram dari waktu ke waktu, sementara dunia politik kita semakin berkibar dan kumuh, sementara masih saja sebagian politisi DPR kita merangkap jadi calo proyek.

Tidak malu? Pertanyaan ini sudah tidak relevan lagi untuk Indonesia, sebab peradaban bangsa ini baru sampai sebatas itu. Akan tenggelamkah kita? Semoga tidak! Anak bangsa yang masih punya hati nurani harus bangkit menolong perahu.

Sumber: http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19

Study@Taiwan Maret 2, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
add a comment

Buat Sahabat-Sahabat Muslim, Islam membutuhkan sabahat semua untuk menegakkan kalimat Allah SWT di bumi Formosa, Taiwan. Bangsa kita, Indonesia, juga masih memerlukan generasi yang cerdas intelektual dan spiritual untuk membangun bangsa dan negara menjadi lebih baik.

Marilah bergabung dengan saudara-saudara yang lebih dahulu menuntut ilmu di Taiwan. Informasi beasiswa pemerintah Taiwan dapat di akses melalui http://www.moe.gov.tw.

Beberapa universitas di Taiwan juga memberikan beasiswa yang jumlahnya hingga untuk ratusan mahasiswa master dan doktor, seperti National Taiwan University of Science and Technology (www.ntust.edu.tw), National Taiwan Unievrsity(www.ntu.edu.tw), National Cheng Kung University (www.ncku.edu.tw), National Chung Hsing University (www.nchu.edu.tw), National Yang Ming University — untuk bidang kesehatan (www.ym.edu.tw). Untuk lebih jelasnya silahkan akses http://english.education.edu.tw.

Semoga informasi ini bermanfaat. Segala bentuk pertanyaan silahkan menghubungi:

Agus Setyo Muntohar, Ph.D.

Beasiswa Taiwan Maret 2, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
8 comments

Berikut ini diberrikan link tentang informasi belajar di Taiwan.

http://www.studyintaiwan.org/why_studying_in_taiwan/why-study-in-taiwan.htm

Semoga bermanfaat, “satukan tekad, luruskan niat, cerdaskan ummat”.

Taipei, 2 Maret 2007

Infiltrasi Air Hujan Maret 1, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Geoteknik & Geo-Hazards.
2 comments

Ketika musim hujan tiba, tentunya inilah rahmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada bumi dan seisinya. Sebagaimana firman-Nya :

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran” (Al-Qur’an Surah Al-A’raf [7]: 57)

Subhanallah, inilah keagungan Allah SWT dengan menurunkan hujan maka daerah yang tandus menjadi tanah yang memberikan hasil buah-buahan. Namun disatu sisi, perhatikan pula Surah Al-An’am (6) ayat 6 :

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”

Memperhatikan ayat-ayat Allah SWT tersebut, bahwa (1) hujan dapat menghidupkan tanah tandus (baca: kering) , (2) hujan yang lebat menyebabkan aliran sungai di bawah. Pertanyaan kita adalah bagaimana hujan tersebut bisa menyebabkan kedua hal tersebut.

Dalam bidang landslide hazard, air hujan dapat masuk ke bawah permukaan tanah secara gravitasi yang sering disebut infiltrasi (infiltration). Infiltrasi air hujan ini akan dipengaruhi oleh karakteristik tanahnya. Perhatikan short video berikut (diambil sewaktu sebagai Research Student di Kagoshima University):

Video-1 dan Video-2

Pada penelitian sederhana tersebut, hujan dengan intensitas besar (lebat) dan kecil disimulasikan disatas dua jenis tanah yang berbeda yaitu tanah lempung (clay) dan pasir (Shirasu sand). Pada video-1, simulasi dengan hujan lebat dimana air hujan dengan cepat merembes ke dalam tanah pada tanah berpasir (sebelah kanan — warna coklat tua) dibandingkan pada tanah berpasir. Namun sebaliknya pada hujan dengan intensitas kecil (video-2). Aliran air yang cepat pada lapisan tanah pasir ini dapat membuat aliran-aliran didalam bawah tanah. Bila lapisan tanah pasir berada diantara lapisan tanah lempung, maka akan terbentuklah aquifer, yang dalam surah Al-An’am : 6 disebutkan sebagai “sungai yang mengalir dibawahnya” (yaitu: tanah) :

وَجْعَلَْنا الاَ نَْهَرَ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهِم

Artinya sungai-sungai dibawah tanah akan terjadi bila hujan lebat dan ini sesuai dengan fenomena yang dihasilkan dari penelitian. Jika diperhatikan lebih lanjut, bahwa hujan lebat dapat menyebabkan terjadi aliran permukaan dan menimbulkan aliran-aliran sungai (gully) pada tanah-tanah lempung karena infiltrasi air ke dalam tanah sangat lambat. Boleh jadi aliran permukaan ini menjadikan erosi dan “banjir” yang sangat besar yang sebagai akibatnya adalah tanah longsor dan banjir di hilir.

Sungguh benar Allah dengan segala firman-firman-Nya. Al-qur’an telah memberitahukan kepada manusia tentang adanya aliran sungai di dalam tanah lebih 1400 tahun yang lalu. Dimana teknologi baru bisa mengetahui adanya aliran sungai bawah tanah ini setelah ditemukannya teknologi bor inti atau sonar dan sejenisnya. Islam telah memberitahukan ilmu bagi ummat manusia yang menggunakan akal dan pikirannya.

Waallu’alam bi showab.

Taipei, 1 Maret 2007

Seorang Dosen-kah Aku? Maret 1, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Seputar Dunia Akademis.
5 comments

Tulisan ini dimakasudkan untuk merenungkan kembali tentang apa yang sudah kita lakukan sebagai seorang dosen selama bekerja sebagai dosen. Mungkin selama ini kita tidak pernah tahu atau sengaja tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang apa sebenarnya yang harus dilakukan sebagai dosen. Dosen adalah sebutan yang seringkali kita dengar bagi seseorang yang mengajar di perguruan tinggi. Namun pada hakekatnya, sang dosen adalah pegawai dari suatu instansi apakah itu negeri (baca: pemerintah) atau swasta (baca: non pemerintah).

Dalam Undang-Udang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I pasal 1 ayat 6, dosen disebutkan sebagai pendidik termasuk pula didalamnya guru, kanselor, pamong belajar dan sebagainya. Selanjutnya dalam Bab XI Pasal 39 ayat 2 disebutkan “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Kemudian dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, Bab I pasal 1 ayat “Dosen adalah tenaga pendidik atau kependidikan pada perguruan tinggi yang khusus diangkat dengan tugas utama mengajar” atau dalam Bab IX Pasal 101 ayat 2: “Dosen adalah seorang yang berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi dengan tugas utama mengajar pada perguruan tinggi yang bersangkutan”. Dalam Bab VIII Bagian Kedua Pasal 50, disebutkan bahwa para dosen merupakan unsur pelaksana akademik pada jurusan.

Dengan demikian sebutan resmi bagi seorang yang mengajar di perguruan tinggi adalah dosen sebagaimana undang-undang dan peraturan pemerintah. adalah seperti yang tugas utama dosen sebagai tenaga pendidik adalah mengajar.kalau kita menilik Pasal 39 ayat 2 tersebut, antara dosen dan guru (SD – SMA) dibedakan oleh adanya aktivitas Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Jadi sudah menjadi mahfum bersama bahwa dosen mimiliki tugas mengajar, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu sangatlah mudah bagi kita untuk mengukur kinerja dosen berdasarkan definisi dosen seperti tersebut di atas. Tidak lengkap seorang dosen menjadi dosen jika hanya mengajar melulu Pengajar tanpa pernah melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sebaliknya, seorang dosen tidak boleh hanya melakukan penelitian melulu Peneliti dan mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar. Dan juga, jika dosen hanya senang melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat tanpa mengajar dan penelitian, maka sang dosen bisa disebut Aktivis LSM. Jadi dosen memiliki pengertian yang utuh baik mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.

Berapakah waktu yang harus diluangkan oleh dosen untuk melakukan semua tugas-tugas tersebut? ¾ Ini barangkali pertanyaan yang sering menjadi bahan diskusi yang tidak pernah ada titik temunya. Kalau mau dihitung secara detail, ternyata waktu yang telah diluangkan oleh dosen UMY melebihi standar waktu kerja. Hal ini terungkap sewaktu BKM merumuskan EWMP untuk dosen. Ditjen Dikti, pada tahun 1999 mengeluarkan Surat Edaran untuk mencegah plagiat yang mana secara implicit bisa dihitung waktu kerja normal seorang dosen dalam melakukan tugas-tugasnya.

 

Tabel 1 Lampiran I Surat Dirjen Dikti No. 3298/D/T/99 tanggal 29 Desember 1999

 

No.

Jenis Kegiatan (sesuai beban kerja ideal dosen)

Jumlah jam per Minggu atau Ekuivalen

A.

Pendidikan

 

1.

Mengajar matakuliah “X” (3 SKS)

9

2.

Mengajar matakuliah “Y” (3 SKS)

9

3.

Membimbing mahasiswa menyelesaikan Skripsi, 3 orang per semester

6

4.

Perwalian mahasiswa, 20 orang per semester

1

5.

Menguji ujian akhir (sidang sarjana), 3 orang per semester

0,5

6.

Membuat diktat kuliah 1 diktat per tahun

2

 

Jumlah A

27,5

B.

Penelitian

 

1.

Penelitian (OPF, HB, SPP, dll) 1 topik per tahun, sebagai peneliti utama

10

2.

Penulisan makalah di jurnal terakreditasi, 1 judul per 2 tahun, sebagai penulis utama

1

 

Jumlah B

11

C.

Pengabdian pada Masyarakat

 

1.

Mengadakan pelatihan insidental,1 topik per semester.

1

D.

Kegiatan Penunjang

 

1.

Aktif dalam kepanitiaan 1 panitia per tahun

1

 

Jumlah total

40,5

 Penjelasan: Rasional perhitungan jumlah jam kerja per minggu (Lampiran II Surat Dirjen Dikti No. 3298/D/T/99 tanggal 29 Desember 1999)

Mengajar/memberi kuliah :

1 SKS (Satuan Kredit Semester) ekuivalen dengan 3 jam pelaksanaan yang terdiri atas 1 jam tatap muka di kelas dan 2 jam persiapan menyusun bahan kuliah.

Membimbing mahasiswa menyelesaikan skripsi :

Skripsi mempunyai bobot 6 SKS berarti setiap mahasiswa harus menyediakan waktu 6 x 3 = 18 jam per minggu untuk mengerjakan skripsi. Karena sifat skripsi adalah tugas mandiri, maka minimal setiap mahasiswa harus berkonsultasi dengan dosen pembimbing selama 2 jam per minggu.

Perwalian mahasiswa :

Beban normal dosen wali adalah 20 orang mahasiswa per semester sehingga dosen mengenal setiap mahasiswa yang dibinanya. Untuk hal tersebut dosen menyediakan waktu minimal 1 jam per minggu untuk konsultasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh para mahasiswanya.

Menguji ujian akhir / sidang sarjana :

Setiap ujian akhir (sidang sarjana) memakan waktu 3 jam sehingga jika ada 3 mahasiswa mengikuti sidang sarjana pada akhir semester, dosen penguji harus menyediakan waktu 9 jam per semester atau 0,5 jam per minggu (1 semester ekuivalen dengan 18 minggu)

Membuat diktat kuliah :

Diktat kuliah diperkirakan berjumlah 100 halaman dan untuk menjamin mutu diktat yang baik diperlukan waktu menulis yang cukup. Jika 100 halaman ditulis dalam waktu 1 tahun, maka diperkirakan setiap minggu dapat ditulis 2 halaman (50 minggu efektif dalam 1 tahun) dan untuk dapat menulis 2 halaman yang bermutu diperlukan waktu 2 jam (termasuk persiapan mencari literatur, gambar, dsb.)

Penelitian

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Ditjen Dikti, maka alokasi waktu yang harus disediakan oleh peneliti utama dalam melakukan penelitian Hibah Bersaing (HB) adalah 10 jam per minggu.

Penulisan makalah di jurnal terakreditasi :

Penulisan makalah yang diterbitkan di jurnal memerlukan waktu cukup lama, dimulai dari penulisan naskah, pengiriman ke dewan redaksi, review oleh tim penilai, perbaikan/koreksi oleh penulis berdasarkan hasil review dan proses penyempurnaan untuk siap cetak. Menurut kaidah nornal, diperlukan waktu 2 tahun dari saat mulai penulisan untuk akhirnya terbit di jurnal, dan waktu yang harus dialokasikan oleh penulis adalah ekuivalen dengan 1 jam per minggu.

Pelatihan insidental :

Kegiatan ini ditujukan untuk pengabdian pada masyarakat dengan memberikan jasa keahlian yang dimiliki oleh dosen tersebut. Berdasarkan kaidah normal, maka dosen mengadakan pelatihan 1 topik per semester dengan lama waktu pelatihan 3 hari kerja (ekuivalen 18 jam pelatihan). Untuk mempersiapkan bahan pelatihan diperlukan waktu minimal 18 jam, berarti diperlukan waktu 1 jam per minggu (1 semester ekuivalen dengan 18 minggu).

Keanggotaan dalam panitia :

Keanggotaan dalam panitia memerlukan komitmen waktu minimal untuk menghadiri rapat. Jika rapat rutin diadakan setiap 2 minggu dan setiap rapat normalnya berlangsung 2 jam maka diperlukan komitmen untuk 1 jam per minggu.

 

Jadi, silahkan dihitung berapa waktu yang harus diluangkan kalau dosen X di Jurusan Y mengajar 20 SKS (60 jam/minggu). Jelas ini melebihi jam kerja yang hanya 40 jam/minggu. Dan apakah ini mungkin dilakukan? ¾ Fakta di lapangan menunjukkan sang dosen mampu mengajar hingga sebanyak itu, dan masih bisa mengerjakan tugas struktural, masih bisa “melirik pekerjaan sebelah”, dan juga masih bisa membimbing mahasiswa kerja praktek, skripsi atau tugas akhir, masih mengurusi program hibah kompetisi. Wow, sungguh luar biasa! Bisa-bisa sang dosen ini tidak pernah tidur.

Kalau pertanyaannya adalah apakah ini normal atau ideal ? ¾ tentu saja jauh tidak ideal. Bagaimanakah kualitas dari tiap-tiap komponen tugas yang dikerjakannya ? ¾ tentu saja jawabnya bermutu (meminjam penyataan Dr. Tulus Warsito dalam mailing list), namun bisa jadi mutunya rendah. Oleh karena itu, masihkah kita menjadi seorang dosen ? ¾ silahkan kita tanyakan pada hati nurani kita masing-masing.