jump to navigation

Gold Medal Februari 28, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Seputar Dunia Akademis.
1 comment so far

Gold Medal untuk Kategori Invention and Innovation

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi. Dia-lah yang menciptakan manusia, dan Dia-lah yang memberikan amanah kepada manusia. Allah-lah yang memiliki segala ilmu yang di langit dan bumi.

Gold Medal

Xindian Februari 28, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
add a comment

Outbond Departemen Kaderisasi FORMMIT

Alhamdulillah, pada 28 Februari 2007 Departemen Kaderisasi Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan mengadakan “rihlah” dan outbond di tepi Sungai Xindian, Taipei County. Taujih diberikan oleh Ust. Zulhendri Hasymi, S.T., M.T. (mahasiswa program doktor bidang vibration di Department of Mechanical Engineering, NTUST). Kemudian dilanjutkan dengan “team building” oleh Agus Setyo Muntohar, S.T., M.E.Sc. (kandidat doktor bidang landslide hazard di Department of Construction Engineering, NTUST).

Lokasi-1Lokasi-2TaujihPeserta-1Peserta-2

Foto (dari kiri ke kanan searah jarum jam): Panorama Xindian, Penhuni Sungai Xindian, Taujih Ust. Zulhendri (tengah), Peserta (Pak Edwin R., Mas Bambang A.D., “It’s me”, Pak Zulhendri H., Pak Budi S., a’a Bakti, Bang Dedi), Peserta (Pak Hendro N., dst …)

Dakwah-1 Februari 23, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Perjalanan Dakwah.
add a comment

… because I’m Muslim

Alhamdulillah, summer tahun 2006 lalu saya diberi kesempatan untuk “ngangsu kawaruh” di Department of Ocean Civil Engineering, Kagoshima University, Kyushu, Jepang. Universitas ini berada di Korimoto, kira-kira 15 menit dari Kagoshima Chuo naik trem. Kedatangan ke kampus itu dijemput dengan Professor Ryosuke Kitamura yang akan membimbing selama di Kagoshima. Bersyukur kepada Allah diberi anugerah untuk bertemu orang yang mumpuni dibidang “unsaturated soil”. Namun bukan “unsaturated soil” yang ingin disampaikan pada tulisan ini.

Ada yang menarik selama berinteraksi dengan sang sensei tersebut. Adalah minuman sake atau bir sudah menjadi kebiasaannya hingga mahasiswa-mahasiswanya. Satu hari setelah kedatangan, dijadwalkan wellcome party di rumah makan tradisional Jepang yang berada diseberang kampus. Sudah saya perkirakan bahwa bir dan  sejenisnya akan menemani makan malam tersebut. Sudah barang tentu saya pun ditawarkan untuk minum. Ya … karena saya tidak bisa bahasa Jepang, saya hanya mengatakan: “I’m sorry Professor. I cannot drink because I’m Muslim. My religion ban all their scholar drinking”.

[click >>> Dinner Kagoshima untuk melihat suasana lesehan ala Jepang]

Akhirnya sang sensei bisa mengerti, Alhamdulillah sayapun bisa terhindar dari perbuatan tersebut. Memang sulit untuk menjaga iman yang lemah ini. Kawan saya orang Taiwan merayu untuk minum sedikit saja. Alhamdulillah, Allah masih menjaga iman yang lemah ini: “I’m sorry, even only some of drinking I cannor drink it”. Berangkat dari sini, saya mencoba untuk menjelaskan kepada mereka bahwa dalam Islam minuman yang memabukan itu sangat dilarang walaupun itu hanya sedikit. Biasanya orang tidak sadar kalau yang sedikit itulah awal dari menjadi banyak. Saya pun sampaikan beberapa pandangan kesehatan tentang minum-minuman beralkohol. Selama menunggu hidangan santap malam, sang sensei dan mahasiswanya serta teman Taiwan saya sadar dan tahu bahwa minum minuman beralkohol tidak baik untuk kesehatan. Namun mereka sudah tidak bisa meninggalkannya karena alasan tradisi, supaya gaul. Bahkan sang sensei memberikan pendapatnya bahwa dengan minum minuman alkohol hingga mabuk dirinya jadi tahu watak asli mahasiswanya. Inilah yang dilakukan oleh sang sensei untuk mengetaui karakter mahasiswa-mahasiswanya. Namun saya katakan bahwa, watak asli orang yang sedang mabuk itu sangat berbeda sekali dengan yang dimaksud dengan watak asli yang sesungguhnya. Ketika mabuk, orang tidak berada dalam keadaan sadar atau setengah sadar. Maka ia tidak bisa mengkontrol dirinya sendiri dan yang muncul adalah sifat-sifat buruknya “kehewanan” saja. Padahal dibalik watak asli orang itu ada juga wataknya yang sangat asli yaitu kembali pada ketenangan jiwa (maksudnya ‘fitrah’). Ketenangan jiwa inilah yang akan mengendalikan watak asli orang. Ketenangan jiwa hanya akan dicapai bila orang dalam keadaan sadar dan mendekati diri kepada yang menciptakannya.

Perbincangan akhirnya diakhiri karena makanan sudah siap untuk disantap. Bagi saya, menjelaskan Islam kepada mereka adalah sudah menjadi tugas setiap muslim. Terlepas apakah sang sensei mau menerimanya itu adalah hidayah Allah SWT. Setidaknya saya sudah menyinggungkan dirinya dengan Islam. Inilah tugas penting kepada setiap mahasiswa muslim yang berada di luar negeri untuk tidak bosan-bosannya memberikan penjelasan tentang ajaran Islam dengan sabar.

Semoga Allah SWT menguatkan dengan Islam.

Potret-1 Februari 21, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
add a comment

Mbah Inah: Berjalan Menurut Kata Hati

Potret-1Perempuan pengemis ini menangis bukan karena hidupnya melarat tetapi karena pengalaman diabaikan. Ketika sakit, teman dan tetangganya tak ada yang peduli kecuali seorang bocah yang rajin membawa minuman.

MBAH Inah tidak pernah tahu, apalagi baca novel penulis Italia Susanna Tamaro berjudul Pergilah Kemana Hati Membawamu (Va’ dove ti porta il cuore) yang menjadi best seller internasional pada tahun 1994. Maklum, Mbah Inah hanya seorang pengemis dan lebih dari itu, ia tidak melek huruf. Namun sebagai pengemis (ia sendiri menyebut dirinya sebagai “pencari amal” meski lebih tepat ia mencari orang yang mau memberikan sedekah atau amal) ia menerapkan hal yang mirip dengan apa yang dikatakan Tamaro, yaitu berjalan kemana hati menuntun dia.

Bedanya, Mbah Inah memutuskan sepenuhnya secara instingtif dan seketika arah mana yang dia tuju hari itu untuk mencari sedekah. Dalam konteks Tamaro, ketika orang bingung saat berada di persimpangan jalan kehidupan, kata (suara) hati mesti diikuti namun putusan untuk itu harus diambil setelah melewati proses permenungan yang hening.

“Saya jalan saja seturut kata hati. Hari ini ke sini, besok entah ke mana, tidak ada rencana-rencana, jalan aja,” kata Mbah Inah di halaman tempat tinggal saya di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Saat itu ia ingin mengaso sebentar karena capai berjalan.

Ia bilang, ia tinggal di rumah kos-kosan di bantaran Sungai Ciliwung di daerah Kampung Melayu, Jakarta Timur yang padat dan langganan banjir. Jarak antara Kampung Melayu dan Pejaten sekitar 10 kilometer. Bagaimana dia bisa sampai ke Pejaten. Dia tidak mungkin jalan kaki sejauh itu. Fisiknya sudah tua, kulitnya keriput di sana-sini. Jalannya pun susah. Jangan-jangan dia didrop pakai mobil oleh orang-orang yang ingin mencari untung dari ‘profesi’ para pengemis. “Saya naik angkot dulu,” katanya. Bermodal juga Mbah ini!

Caranya mengemis memang tidak seperti pengemis kebanyakan yang main todong atau langsung menadahkan tangan. Dia memberi sapaan terlebih dahulu untuk membuka kesempatan komunikasi dengan orang yang dijumpainya. Dengan begitu ia berharap bisa menjalin hubungan jangka panjang dengan orang-orang itu.

Saat itu misalnya, ia berteriak dari luar pagar, “”Preiii (libur) nih?” Saya terkejut. Siapa perempuan tua gendut dan bertongkat yang sok akrab ini? “Iya,” jawab saya ragu.

“Numpang duduk ya, Mbah capek,” katanya sambil tersenyum. “Oh boleh, silakan,” kata saya. Kebetulan memang ada bangku panjang di pekarangan. Ia masuk pekarangan lalu duduk. “Mbah boleh minta air minum, haus sekali,” katanya kemudian.

Kami pun mengobrol berbagai hal termasuk kisah hidupnya. Sebuah kehidupan keras dan berat. Beberapa kali ia mencucurkan air mata. Namun dengan cepat pula dia berubah riang dan tertawa ngakak. “Saya nangis bukan karena ingin dikasihani tapi saya sedih,” katanya.

Ia mengaku, sekarang berusia 70 tahun namun ia tidak tahu persis kapan ia lahir. Ia berasal dari Demak, Jawa Tengah. Sejak tahun 1960-an ia migrasi ke Jakarta, lalu menikah dan punya seorang anak.

“Tapi sekarang saya sebatangkara,” katanya. Anaknya meninggal tahun 1974, tentang suaminya ia tidak cerita. Saat ini ia tinggal di kamar kos di bataran Sungai Ciliwung. “Di sana orang susah semua, ada dari Tegal, Brebes, Indramayu, dari mana-manalah,” katanya.

Sebelum jadi pengemis, Mbah Inah menjadi seorang pembuat kasur. “Dulu pesanannya banyak. Sekarang sudah tua, tenaga Mbah sudah nggak ada,” katanya sambil memperlihatkan lengannya.

“Sekarang, jalan pun sudah susah, harus dibantu pakai tongkat ini,” lanjutnya. Sampai awal tahun lalu, katanya, ia belum menggunakan tongkat. “Ini gara-gara saya pernah disenggol mobil orang di dekat Kampung Melayu situ,” katanya. Akibat senggolan itu ia harus istirahat selama sembilan bulan.

Saat menceritakan bagian ini ia menangis sedih. “Selama sembilan bulan saya tidur aja. Beberapa minggu pertama tidak makan. Tidak ada yang beri makan. Untung ada anak tetangga, ia masih sekolah, bernama Acong. Ia rajin bawa air minum untuk Mbah. Ia juga orang susah. Tapi ia gunakan uang jajannya untuk belikan saya minum. Kalau ingat itu sedih sekali hati saya. Saya bilang, kamu jangan pakai uang jajanmu untuk belikan Mbah minum. Tapi dia bilang tidak apa-apa Mbah. Saya sedih,” katanya sambil menangis.

Teman-teman satu tempat tinggal tidak ada yang mau bantu? “Mereka pada pelit semua. Padahal saya suka ngasih mereka kalau ada makanan atau ada pemberian orang,” jawabanya.

Seorang penolong yang hanya disebut sebagai “seorang dari Ragunan” menolong dia berobat ke dukun patah tulang di daerah Haji Nawi, Jakarta Selatan. “Mbah dibantu orang dari Ragunan itu. Dia memberi uang 250 ribu untuk berobat. Mbah lalu naik taksi ke tukang urut itu. Mbah gaya, tidak punya uang tapi naik taksi haha…,” katanya.

Orang yang menabrak Mbah bagaimana, tidak ikut membantu? “Itu orang kurang ajar, dia tidak pernah kunjungi saya,” jawabnya.

Mbah Inah tidak pernah membayangkan akan jadi pengemis di usia tuanya. Namun ia menerima kenyataan itu. Katanya, “Beginilah jalan hidup. Tapi, kita biar miskin yang penting kaya hati.” Yang dia maksudkan, kemiskinan jangan menjadi alasan untuk tidak membantu sesama yang juga susah. “Saya suka berbagi. Ada anak tetangga nangis kelaparan, saya berikan uang untuk jajan. Ketika saya sakit, mereka tidak ada yang peduli. Ya sudah biarlah,” katanya.

Soal kegiatannya mengemis ia mengatakan, “Saya cari amal. Dikasih syukur, nggak dikasih tidak apa-apa. Kalau orang kasih amal, itu untuk dirinya sendiri nanti di akhirat. Saya kan hanya alat.”

Setelah merasa sudah cukup beristirahat, ia melanjutkan perjalanan. “Sudah ah, Mbah mau jalan lagi,” katanya. Ia mengemas kain batik lusuh berisi barang bawaannya. Ada apa dalam kain itu? “Beras setengah kilo, tadi ada yang ngasih,” katanya sambil tersipu. “Cari amalnya nanti sampai jam berapa?” tanya saya lagi. “Sesuka aja, kalau capek, ya pulang,” jawabnya.

(Diambil dari: http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=21192&section=94)

Muhasabah-1 Februari 21, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Tamasya Hati.
2 comments

Menyusur Jejak-Jejak Malam Taipei (1) 

10 September 2006 pukul 20.50 pesawat China Aillines CI678, akhirnya mengakhiri kepak sayapnya di Chiang Kai Shek Aiport. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan aku keselamatan dalam terbangku kali ini. Ini kesekian kalinya aku menjejakn kali di negeri seberang untuk menuntut ilmu. Setelah keluar pesawat bergegas aku menuju Imigration Chek Point dan baggage claim. Aku teringat kalau aku belum ruku dan sujud waktu petang dan malam. Ada rasa yang berbeda dengan negeriku dan negeri tempat aku menuntut ilmu sebelumnya. Kesan hampa dalam hati. Tak terdengar lantunan kalimat thayybah, tak terlihat tempat-tempat bersujud. Dalam hati, Ya Tuhanku, inilah jalan yang Engkau pilihkan untukku, mantapkanlah hatiku untuk menapakkan kaki di dunia yang asing bagiku. Masukannlah aku dengan cara yang benar, dan kelurkanlah aku dengan cara yang benar pula, dan berikanlah aku kekuatan dari sisi-Mu.

Kira-kira pukul 24.00 aku memulai babak baru dalam kehidupan, harus tinggal sendiri di asrama yang tampak asing bagiku. Karena lelahnya, setelah merendahkan kepalaku menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba, aku harus membaringka badanku. Akupun tak kuasa bangkit untuk meyusur jejak-jejak malam pertamaku di dunia baruku. Padahal Dia sudah memerintahkan aku untuk bangkit untuk kemuliannku sendiri. Fajar akupun terbangunkan dengan meraba-raba, apakah sudah waktunya? Akupun merasa hampa. Tak terdengar lantunan irama yang memanggil aku untuk menundukkan kepalaku seperti di negeriku. Tak ada ruku, sujud, dan bangkit bersama-sama. Aku hanya bisa sendiri. Biasanya aku lakukan bersama dengan isteri dan dua anakku, menengadahkan tangan bersama memohon kepada-Nya. Melantunkan kalimat-kalimat-Nya setelah itu, membuat hatiku tenteram.

Hari-hari telah aku lewati detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, dan bulan pun berganti hingga bertemu bulan kemuliaan. Jejak-jejak malam mulai aku telusuri. Bulan yang mulia telah memaksa aku untuk menyusur jejak-jejak malam mencari kemuliaan. Bukankah Dia telah menjanjikan tempat yang mulia? Ada apa dalam jejak-jejak malam ini? Sedemikian mulianya jejak-jejak malam ini hingga akupun dipaksa menyusurinya? Akupun tidak pernah tahu, ada apa dalam jejak-jejak malam ini.

… Nexttime……

Bagaimana Aplikasi Beasiswa Studi@Taiwan Februari 16, 2007

Posted by Abi Ananda Rasyid in Study @Taiwan.
46 comments

Pemerintah Taiwan sejak tahun 2005 membuka kesempatan bagi International students untuk melanjutkan studi pada program Master dan Doctorate. Beasiswa ditawarkan oleh Pemerintah Taiwan (melalui kantor-kantor perwakilannya di luar negeri, di Indonesia: Taipei Economic Trase Office Jakarta), Universitas-Universitas di Taiwan, dan NGO (seperti Democratic Pacific Union). Oleh karenanya aplikasi beasiswa Studi@Taiwan dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:

  1. Program G to G, yaitu melalui kantor perwakilan Taiwan di Jakarta (informasi lengkap silahkan baca arsip sebelumnya dalam blog ini).
  2. Program U to U, yaitu aplikasi dilakukan melalui universitas-universitas di Taiwan. Untuk informasi detail silahkan mengakses situs universitas masing-masing. Namun perlu diketahui, bahwa tidak semua universitas di Taiwan menawarkan International Program atau English Speaking Program (bahasa pengantar kuliah dalam Bahasa Inggris). Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan telah memetakan kebutuhan untuk dakwah dan pedampingan kepada para TKI, untuk itu sebaiknya mendaftar ke universitas-universitas berikut:
    • Taipei:
      • Kategori Teknologi: National Taiwan University of Science and Technology (www.ntust.edu.tw), National Taipei University of Technology (www.ntut.edu.tw)
      • Kategori Umum: National Taiwan University (www.ntu.edu.tw). Prioritas utama di NTU ini adalah program management (MBA atau DBA), politik dan hukum.
      • Kategori Kesehatan: National Yangming University (www.ym.edu.tw).
    • Taichung:
      • Kategori Umum: National Chung Hsing University (www.nchu.edu.tw). Prioritas utama di NCHU ini adalah pada bidang pertanian dan teknologi pertanian.
      • Kategori Kesehatan: Asia University.
    • Tainan:
  3. Program melalui NGO, yaitu aplikasi dilakukan melalui NGO yang memberikan dana untuk Studi@Taiwan seperti Democratic Pacific Union (www.dpu.org.tw). Secara detail informasi dan persyaratannya silahkan klik link situs DPU tersebut. Untuk tahun 2007 ini aplikasi beasiswa akan ditutup tanggal 31 Maret 2007. Guidelines dan formulir aplikasi dapat dilihat di link berikut : DPU-Scholarship Guidelines, DPU-Scholarship Application Form.

Bagi saudara-saudaraku “Intelektual Muda Muslim Indonesia”, aplikasi melalui program G to G dan NGO memerlukan surat rekomendasi tidak hanya dari dosen atau pembimbing sewaktu S-1 tetapi juga diperlukan surat rekomendasi dari orang-orang yang cukup terpandang. Untuk itu disarankan untuk mendapatkan surat rekomendasi dari orang-orang tersebut, misalnya: Rektor, Pimpinan Muhammadiyah, dll.

Selamat mencoba, semoga Allah SWT memudahkan langkah saudara-saudara semua untuk menuntut ilmu di Pulau Formosa. Bila memerlukan bantuan silahkan menguhubungi melalui email: muntohar@yahoo.com atau telepon: +886921049425.